Khawatir Resesi, Harga Minyak Mentah Jatuh ke Level Terendah
Jumat, 10 Mar 2023, 09:17 WIBNEW YORK - Harga minyak jatuh sekitar satu persen ke level terendah dua minggu pada akhir perdagangan Kamis (9/3) atau Jumat pagi WIB, di tengah meningkatnya kekhawatiran Federal Reserve mungkin bertindak terlalu jauh dengan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi, yang dapat menyebabkan resesi dan mengurangi permintaan minyak di masa depan.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei merosot 1,07 dolar AS atau 1,3 persen, menjadi ditutup pada 81,59 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, penutupan terendah sejak 22 Februari.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April tergelincir 94 sen atau 1,2 persen, menjadi menetap pada 75,72 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, penutupan terendah sejak 27 Februari.
Kedua kontrak acuan minyak turun untuk hari ketiga berturut-turut dengan WTI merosot sekitar 6,0 persen dan Brent jatuh sekitar 5,0 persen selama waktu itu.
Bank sentral AS menggunakan suku bunga yang lebih tinggi untuk mengurangi inflasi. Tetapi suku bunga yang lebih tinggi itu meningkatkan biaya pinjaman konsumen, yang dapat memperlambat perekonomian.
"The Fed terus datang ... untuk inflasi dan itu diterjemahkan ke dalam kekhawatiran atas permintaan minyak yang lebih rendah karena kemungkinan resesi," kata John Kilduff, mitra penasehat investasi Again Capital LLC di New York.
Jumlah orang Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat paling banyak dalam lima bulan minggu lalu, tetapi tren yang mendasarinya tetap konsisten dengan pasar tenaga kerja yang ketat.
"Pertumbuhan yang melambat terus membebani harga minyak mentah," kata Edward Moya, analis pasar senior di perusahaan data dan analitik OANDA.
Sikaphawkishyang diperbarui dari The Fed mendorong investor untuk mencari tahu bagaimana rezim suku bunga "lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama" dapat membebani saham AS dengan beberapa pengamat pasar mengatakan kombinasi dari imbal hasil obligasi yang lebih tinggi dan inflasi yang kuat menjadi pertanda buruk bagi pengembalian ekuitas.
Kilduff mencatat bahwa lelang obligasi AS Kamis (9/3) sore "menakut-nakuti pasar" dan "merupakan katalis untuk sentimen risiko" untuk minyak dan penurunan pasar saham.
Minyak mentah berjangka dan saham Wall Street sama-sama diperdagangkan lebih tinggi pada Kamis (9/3) pagi di tengah perkiraan data pengangguran AS dapat mendorong Fed untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga di masa depan.
Saham Wall Street jatuh pada Kamis (9/3), dengan ketiga indeks saham utama turun karena investor khawatir bahwa laporan pekerjaan pada Jumat dapat memacu kenaikan suku bunga yang agresif oleh Federal Reserve.
Para analis memperkirakan ekonomi AS telah menambah 205.000 pekerjaan bulan lalu - perlambatan tajam dari Januari - dan melihat tingkat pengangguran bertahan di 3,4 persen.
Juga mendukung harga minyak pada awal sesi, TotalEnergies tidak dapat melakukan pengiriman dari kilang Prancis-nya pada Kamis (9/3) karena aksi pemogokan lanjutan sehari setelah data menunjukkan penurunan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS minggu lalu.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Agustiar Sabran: Putra-Putri Kalteng Harus Bisa Sekolah dan Kuliah
-
Hasil Liga Italia: Imbang 3-3 Kontra Juventus, AS Roma Pertahankan Posisi Empat di Klasemen
-
Krisis Energi Global: IEA Sebut Dampaknya Lebih Parah dari Krisis Minyak 1970-an
-
Harga Minyak Mentah Lanjutkan Kenaikan, Saham Asia Merosot Seiring Pudarnya Harapan Perundingan Damai
-
Harga Emas Antam Sabtu Ini Naik Rp68.000, Jadi Rp3,012 Juta/Gr
-
Siap siap Sebentar Lagi El Nino: Berikut Jurus Kementan Hadapi Kemarau Ekstrem
-
Kehidupan Masyarakat Kuba Terhantam Dampak Krisis Energi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.