Kemen PPPA Dorong Perempuan Jadi Pemimpin Sektor Konservasi Alam

Jumat, 03 Mar 2023, 19:10 WIB

JAKARTA - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Eksploitasia, memastikan pihaknya mendorong perempuan menjadi pemimpin sektor konservasi alam yang tidak hanya sebatas konservasi hewan, tapi juga memanfaatkan tanaman untuk peningkatan kesejahteraan.

"Kita mengembangkan alternatif pencaharian sehingga perempuan bisa jadi leader atau pemimpin tidak tergantung potensi kehutanan, tapi tergantung mengembangkan potensi di luar hutan. Sehingga hutan aman, masyarakat sejahtera," ujar Indra, dalam Media Talk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), di Jakarta, Jumat (3/3).

Ket. Foto: Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indra Eksploitasia, dalam Media Talk Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), di Jakarta, Jumat (3/3). — Sumber: Muhamad Ma'rup

Dia mengatakan, di lingkungan KLHK juga sudah menerapkan pengarusutamaan gender. Di wilayah pemangku kebijakan, perempuan mengisi jabatan strategis mulai dari Menteri sampai Kepala Taman Nasional.

"Kita melihat perempuan bisa berperan besar untuk menyelamatkan kekayaan hayati yang menjadi isu prioritas saat ini," jelasnya.

Indra mengungkapkan, di wilayah konservasi hewan, perempuan juga berperan dalam konservasi di dalam habitat (insitu) dan luar habitat (eksitu). Dalam prosesnya, perempuan didorong untuk meningkatkan kesejahteraan satwa baik sarana prasarana maupun pendanaan.

Dia menambahkan, di level sumber daya genetik pihaknya mendorong perempuan memanfaatkan sumber daya genetik untuk kesejahteraan masyarakat. Jamu dan madu adalah sedikit dari praktik baik perempuan di wilayah tersebut.

"Ini kita dorong perempuan mengembangkan tanaman obat, memanen madu di hutan untuk dijual ke luar sehingga bermanfaat untuk masyarakat di sekitar hutan khususnya dan masyarakat luas secara umum," tandasnya.

Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Sosial dan Budaya Kemen PPPA, Eko Novi Ariyanti Rahayu Damayanti, menyebut, dalam konteks reforma agraria dan perhutanan sosial, ketimpangan gender masih terjadi. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2021, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja perempuan di perhutanan sosial sebanyak 53,34 persen dan laki-laki 82,27 persen.

"Peran sebagian besar perempuan yang terlibat dalam kelompok perhutanan sosial baru sebatas pada pengelolaan administrasi dan pencatatan. Pengarusutamaan gender pada perhutanan sosial harus didorong untuk memberikan kesempatan perempuan mengakses lapangan pekerjaan," katanya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.