FBI Mengkhawatirkan Program Kecerdasan Buatan Tiongkok

Sabtu, 21 Jan 2023, 00:00 WIB

WASHINGTON - Direktur Biro Investigasi Federal (Federal Bureau of Investigation/FBI) Amerika Serikat (AS), Christopher Wray, sangat prihatin dengan program kecerdasan buatan atau Artificial Intellegence (AI) pemerintah Tiongkok, yang "tidak dibatasi oleh aturan hukum".

"Ambisi AI Beijing dibangun di atas harta kekayaan intelektual dan data sensitif yang telah mereka curi selama bertahun-tahun," papar Wray, selama sesi panel Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) di Davos, Kamis (19/1).

Ket. Foto: Logo FBI — Sumber: ISTIMEWA

Dari Stars Stripes, Wray mengatakan jika dibiarkan, Tiongkok dapat menggunakan kemajuan kecerdasan buatan untuk melanjutkan operasi peretasannya, pencurian kekayaan intelektual, dan penindasan terhadap para pembangkang di dalam dan luar negeri.

"Itu adalah sesuatu yang sangat kami khawatirkan, dan saya pikir semua orang di sini harus sangat prihatin," katanya.

"AI adalah contoh klasik dari sebuah teknologi di mana saya memiliki reaksi yang sama setiap saat. Saya pikir, 'Wow, kita bisa melakukannya?' Dan kemudian saya berpikir, 'Ya Tuhan, mereka bisa melakukannya," ungkap dia.

Kekhawatiran seperti itu telah lama disuarakan oleh para pejabat AS. Pada Oktober 2021, misalnya, pejabat kontraintelijen AS mengeluarkan peringatan tentang ambisi Tiongkok dalam AI sebagai bagian dari upaya baru untuk memberi tahu eksekutif bisnis, akademisi, dan pejabat pemerintah lokal dan negara bagian tentang risiko menerima investasi atau keahlian Tiongkok di industri utama.

Pengembangan Senjata

Awal tahun itu, komisi AI yang dipimpin mantan CEO Google, Eric Schmidt, mendesak AS untuk meningkatkan keterampilan AI-nya untuk melawan Tiongkok, termasuk dengan mengejar senjata yang "diaktifkan AI".

Seorang juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok di Washington tidak menanggapi permintaan komentar soal pernyataan Wray. Beijing telah berulang kali menuduh Washington menyebarkan rasa takut dan menyerang intelijen AS karena penilaiannya terhadap Tiongkok.

Sebelumnya seperti dikutip dari Antara, di sebuah pusat logistik milik grup perawatan kesehatan di Tiongkok, sejumlah robot otonomos membawa rak dan kontainer keluar dari gudang, sebuah tugas yang sebelumnya mengharuskan pekerja manusia untuk melakukan sekitar 30.000 langkah setiap hari.

Robot kecerdasan buatan, yang dikembangkan oleh perusahaan AI Tiongkok, Megvii, membantu pusat logistik ini mengurangi kesulitan dan biaya tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, dan mempromosikan transformasinya dari otomatisasi menjadi kecerdasan.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.