- Home
-
- Luar Negeri
-
- Krisis Biaya Hidup Menjadi...
Krisis Biaya Hidup Menjadi Risiko Global Terbesar
Jumat, 13 Jan 2023, 00:02 WIBDAVOS - Krisis ekonomi yang terjadi di berbagai belahan dunia mulai dirasakan di setiap negara. Kenaikan biaya hidup cukup tinggi seperti mencekik, sehingga masyarakat harus memutar otak agar bisa tetap eksis. Di sejumlah negara di Eropa disebutkan, banyak pekerja yang harus mengambil pekerjaan tambahan atau pekerjaan sampingan untuk menutup biaya hidup.
Kenaikan biaya hidup di Inggris dilaporkan melonjak 25 persen. Hal serupa juga terjadi di negara Eropa lainnya, sehingga banyak yang harus kerja sampingan, juga banyak kasus warga yang menggelandang karena tak sanggup membayar sewa rumah, kenaikan tarif listrik dan energi.
Kenaikan biaya hidup yang melejit juga dilaporkan dari Jepang. Kenaikan harga pangan mencapai 20 persen. Belum lagi kenaikan kebutuhan lainnya sehingga sangat memberatkan.
Akibat krisis biaya hidup, banyak warga bergantung pada bantuan pangan hingga terpaksa pindah negara. Jutaan orang di seluruh dunia menghadapi situasi sulit karena harga pangan dan energi melonjak. Kasus krisis biaya hidup tersebut menjadi salah satu topik penting yang dibahas di Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) pada Rabu (11/1).
Hasil studi oleh Forum Ekonomi Dunia menyebutkan krisis biaya hidup adalah risiko global terbesar selama dua tahun ke depan.
Laporan menjelang pertemuan WEF di Davos pada 20 Januari itu menggambarkan krisis biaya hidup sebagai "risiko jangka pendek terbesar" antara sekarang hingga 2025, diikuti oleh bencana alam, peristiwa cuaca ekstrem, dan "konfrontasi geo-ekonomi".
Inflasi global tetap pada tingkat tertinggi setelah biaya energi dan makanan meroket tahun lalu, sebagian besar karena invasi terhadap kekuatan pertanian Ukraina oleh produsen minyak dan gas besar Rusia.
Berlangsung Dua Tahun
Keterbatasan pasokan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 juga berkontribusi pada tingginya harga yang berlangsung selama puluhan tahun bagi konsumen. "Konflik dan ketegangan geo-ekonomi telah memicu serangkaian risiko global yang sangat terkait," kata laporan tersebut.
"Ini termasuk krisis pasokan energi dan makanan, yang kemungkinan akan bertahan selama dua tahun ke depan, dan peningkatan kuat dalam biaya hidup dan pembayaran utang," tambahnya.
Laporan itu mengatakan risiko krisis merusak upaya untuk mengatasi risiko jangka panjang, terutama yang terkait dengan perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan investasi dalam sumber daya manusia.
Survei yang dibuat oleh perusahaan konsultan Marsh McLennan dan Zurich Insurance Group tersebut mempertimbangkan pandangan lebih dari 1.200 pakar risiko global, pembuat kebijakan, dan pemimpin industri. "Lanskap risiko jangka pendek didominasi oleh energi, pangan, utang, dan bencana," kata Direktur Pelaksana WEF, Saadia Zahidi.
"Mereka yang paling rentan telah menderita dan karena berbagai berbagai krisis, mereka yang termasuk rentan bertambah dengan cepat, di negara kaya dan miskin," tulisnya dalam laporan tersebut.
Redaktur: Redaktur Pelaksana
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
La Liga Spanyol: Vinicius Cetak Dua Gol, Real Madrid Gusur Barcelona di Puncak Klasemen
-
Terseret Skandal Epstein, Presiden WEF Borge Brende Diselidiki
-
Mentan Amran Copot 192 Pejabat dan 2.300 Distributor Pupuk karena Ganggu Pertanian serta Upaya Swasembada Pangan
-
Arus Mudik H-2 Lebaran 2026 Padat Merayap
-
Bansos Dicabut, 20 Warga Cilegon Terdata Bermain Judi Online
-
Kerja Bakti Massal DKI, Gubernur Pramono: Tak Mau Masuk Gorong-gorong yang Bekerja Pikiran dan Otaknya
-
Liga Inggris: West Ham United vs Manchester United, Duel Dua Tim yang Sama-Sama Bangkit di London Stadium
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.