- Home
-
- Luar Negeri
-
- Erdogan Sebut Barat Gunaka...
Erdogan Sebut Barat Gunakan Standar Ganda Soal Kebebasan Pers
Minggu, 08 Jan 2023, 10:25 WIBANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Rabu (4/1) lalu mengatakan, Barat menggunakan "standar ganda" dalam hal kebebasan pers.
Berbicara pada upacara penyerahan Penghargaan Media Anatolia ke-7 di ibu kota Ankara, Erdogan mengatakan, "Mereka yang menuduh Turki melakukan penyensoran tetap diam tentang mereka (Twitter) yang melakukan penyensoran nyata."
"Kami melihat standar ganda yang sama dalam kasus perusahaan media sosial, yang baru-baru ini diambil alih," kata Erdogan, mengacu pada Twitter dan rilis file internalnya baru-baru ini, seperti disiarkan Anadolu.
"Dengan siapa platform media sosial ini, yang konon tidak pernah berkompromi dengan kebebasan dan privasi pribadi, berbisnis dengan, apa fungsinya di belakang layar, dan bagaimana menyensor orang dan ide yang tidak disukainya terungkap satu per satu," imbuh dia.
Presiden Turki mengatakan organ media internasional dan organisasi hak asasi manusia bungkam terhadap skandal semacam itu.
"Mereka yang merampas hak komunikasi miliaran orang terus berbicara tentang demokrasi dan kebebasan seolah-olah tidak terjadi apa-apa," tutur Erdogan.
Turut mengkritik mereka yang merangkul para anggota Organisasi Teroris Fetullah (FETO) yang membocorkan rahasia negara sambil menyamar sebagai jurnalis, dia mengatakan mereka bahkan tidak segan-segan menutup organ media.
"Kita semua tahu bahwa mereka yang mengkritik demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan pers di Turki, betapa fasisnya mereka dalam hal diri dan kepentingan mereka sendiri," tekan dia.
Setelah kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli di Turki, di mana lebih dari 250 orang terbunuh, "mereka yang dengan kejam mengkritik kami telah berhadapan dengan kehebohan atas desas-desus kudeta di negara mereka sendiri," kata Erdogan.
Mengacu pada aksi protes Gezi Park tahun 2013, presiden Turki mengatakan mereka yang mencoba menampilkan "para penyerang di Turki sebagai pahlawan, mendefinisikan para demonstran sebagai teroris ketika peristiwa serupa terjadi di Paris dan Washington."
Dia melanjutkan, "Kami belum pernah melihat atau mendengar media internasional menyebut pengunjuk rasa 'rompi kuning' yang membakar jalan-jalan Prancis sebagai rasul demokrasi, dan mereka yang menggerebek gedung Capitol AS dengan senjata sebagai pejuang kemerdekaan."
FETO mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 di Turki, di mana 251 orang tewas dan 2.734 terluka.
Ankara menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi institusi Turki, khususnya militer, polisi, dan peradilan.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Tim Koran Jakarta
Berita Terkait:
-
Sapi kurban bantuan Presiden di Bandung Barat
-
Aturan Baru Komdigi: Akun YouTube hingga TikTok Pengguna di Bawah 16 Tahun Bakal Ditutup
-
Harga Minyak Global Tembus $115 per Barel, Saham Asia Anjlok Seiring Eskalasi Konflik Timur Tengah
-
Samsat Bekasi Beri Hadiah Warga yang Taat Bayar Pajak
-
Turki Kembangkan Meriam Howitzer Dengan Penggerak SUV
-
ITS Luncurkan RoboDog dengan Kendali Jarak Jauh
-
Pengamat: Peringatan World Press Freedom 2026, Momentum Adaptasi Berkelanjutan bagi Jurnalis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.