Mengenal Lecanemab, 'Senjata' Baru Melawan Alzheimer

Minggu, 01 Jan 2023, 17:00 WIB

Dengan meningkatnya jumlah kasus penyakit Alzheimer, komunitas medis dunia terus berupaya menemukan perawatan yang mampu memerangi penyakit yang menyerang kemampuan kognitif penderitanya. Salah satunya melalui obat eksperimental 'Lecanemab', yang akhir-akhir ini dipuji oleh beberapa ahli sebagai pengobatan yang telah dinantikan.

Berikut sejumlah fakta mengenai Lecanemab yang telah Koran Jakarta rangkum dari berbagai sumber:

Ket. Foto: Ilustrasi. — Sumber: NIH via AP

1. Cara Kerja

Merangkum Medical News Today, Lecanemab adalah sejenis obat yang disebut antibodi monoklonal yang bekerja dengan mengikat bagian antigen virus. Perawatan ini bekerja dengan membersihkan protein beta amyloid dari otak, yang diduga menyebabkan Alzheimer.

2. Pengujian

Selama uji klinis, sekitar 1.800 orang dewasa berusia 50 hingga 90 tahun dengan penyakit Alzheimer dini menerima Lecanemab atau plasebo. Peserta juga menerima penilaian keterampilan kognitif dan fungsional tertentu sebelum uji coba dimulai, dan 18 bulan kemudian. Terakhir, para peserta melakukan pemindaian PET untuk memeriksa keberadaan amiloid di otak.

3. Temuan Mengesankan

Sekitar 18 bulan, para peneliti melaporkan orang yang mendapatkan Lecanemab memperlambat penurunan kognitif mereka sebesar 27 persen dibandingkan dengan mereka yang menggunakan plasebo.

4. Efek Samping

Ronald Petersen, seorang ahli saraf dan direktur Pusat Penelitian Penyakit Alzheimer dan Studi Penuaan di Mayo Clinic menjelaskan bahwa sementara Lecanemab menghilangkan protein beta amyloid dari otak, itu juga menghilangkannya dari pembuluh darah di otak dan dapat menyebabkan kebocoran.

"Orang dengan penyakit Alzheimer juga memiliki protein amiloid ini di dalam pembuluh darah, sehingga ketika mereka mengeluarkan sebagian amiloid dari pembuluh darah, itu bisa membuatnya bocor. Dan itu artinya bisa terjadi pembengkakan di otak dan bisa terjadi pendarahan di otak," jelasnya kepada MNT.

Walau terdapat risiko yang menyertainya, Petersen mengatakan tingkat risiko cenderung rendah dan dapat dipantau secara intensif untuk memantau kemungkinan tersebut.

"Tetapi saya pikir risikonya relatif rendah dan umumnya dapat dipantau dengan pencitraan serial dengan pemindaian MRI untuk memastikan ini tidak terjadi. Tapi selalu ada risiko tak terduga dari seseorang yang mengalami pendarahan besar di otak," sambungnya.

5. Tiga Kematian Terkait

Pada 22 Desember 2022, jurnal Science menerbitkan laporan kematian ketiga terkait dengan uji klinis obat ini.

Wanita berusia 79 tahun yang tidak disebutkan namanya itu diketahui menderita pembengkakan dan pendarahan yang luas di otak setelah menerima perawatan dengan Lecanemab selama lebih dari 18 bulan. Melansir Daily Mail, dia sempat dirawat di rumah sakit karena kejang pada pertengahan September, dan meninggal lima hari kemudian.

Diketahui, pasien berada dalam tahap perpanjangan uji coba fase 3 untuk obat antibodi Lecanemab yang didukung oleh perusahaan bioteknologi Eisai, yang berbasis di Tokyo. Kematian wanita asal Florida, Amerika Serikat (AS) itu merupakan kematian ketiga selama fase perpanjangan.

Sebelumnya, seorang pria berusia akhir 80-an yang meninggal pada bulan Juni karena pendarahan otak, dan diikuti kematian seorang wanita berusia 65 tahun dari Illinois, AS.

Terkait ketiga kematian ini, para ahli di Eisai mengatakan kematian tersebut kemungkinan besar disebabkan oleh faktor lain. Mereka mengaitkan kematian pasien pertama sebagai dampak konsumsi obat pengencer darah yang juga dia gunakan dan mengatakan kematian pasien kedua terjadi karena masalah medis lainnya.

Sementara terkait kematian pasien terbaru, Eisai menolak berkomentar dengan alasan masalah privasi. Walau bergitu, Eisai berkata tetap akan mengevaluasi hal tersebut.

"Semua kejadian serius, termasuk kematian, dilaporkan ke Eisai dan dipertimbangkan dalam evaluasi penelitian kami," ujar seorang juru bicara perusahaan seperti dikutip dari Daily Mail.

6. Persetujuan FDA

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS, pada bulan depan akan memutuskan apakah pengobatan dapat digunakan di negara itu. Sementara regulator obat terkemuka Eropa atau European Medicines Agency diharapkan untuk meneliti potensi itu pada 2023.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.