OJK: Jangan Lengah, Gejolak Ekonomi Dunia Terus Berlanjut
Jumat, 25 Nov 2022, 00:04 WIB» Bukan hanya perfect storm yang dihadapi, tapi risiko bisa muncul dari sisi yang tidak terduga.
» Serangkaian PHK menunjukkan sektor riil tidak dalam kondisi yang baik.
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan agar semua pihak tidak boleh lengah meskipun perekonomian Indonesia saat ini tumbuh positif. Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan peringatan agar tidak lengah karena gejolak ekonomi global diprediksi masih terus berlanjut.
"Kita siapkan diri mengantisipasi masuk ke tahun-tahun depan. Jangan berandai-andai bahwa Indonesia pertumbuhannya tetap di atas lima, bahkan untuk beberapa waktu terakhir mencapai rekor 5,72 persen untuk kuartal tiga itu kita harus syukuri, tapi lesson learned tadi mengatakan kita tidak boleh lengah," kata Mahendra dalam acara CEO Networking 2022 di Jakarta, Kamis (24/11).
Lesson learned atau pelajaran yang bisa diambil maksud Mahendra adalah terjadinya bonds rush di Inggris, bangkrutnya bursa kripto FTX, hingga gagal bayar Legoland asal Korea Selatan.
Kondisi tersebut, jelas Mahendra, menunjukkan kalau risiko-risiko pada waktu mendatang bisa muncul dari mana pun. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, risiko yang bersifat sistemik biasanya datang dari perbankan, baik bank komersial maupun bank investasi. Kendati demikian, sepanjang tahun ini saja, risiko-risiko yang muncul justru bukan dari perbankan.
"Pertama bagaimana kebijakan perpajakan fiskal suatu negara yaitu Inggris kemudian menyebabkan krisis suku bunga dan juga kepercayaan kepada obligasi pemerintahnya dan lalu menyebabkan bonds rush. Itu tidak terbayangkan di waktu yang lalu bahwa bonds rush itu bisa datang justru dari kebijakan fiskal, apalagi di negara maju," kata Mahendra seperti dikutip dari Antara.
Selanjutnya, kebangkrutan salah satu pasar kripto terbesar di dunia yaitu FTX dengan produknya FTT. Persoalan tata kelola, transparansi, dan juga pengawasan, ternyata bisa luput dari para investor, modal ventura, investment fund atau hedge fund yang namanya luar biasa besar dan reputasinya begitu hebat di dunia.
"Kita pikir kalau investor seperti itu pasti sudah melakukan due diligence yang luar biasa. Ternyata ada yang menanamkan investasinya sampai tiga series di FTX, jadi hilang semua, jadi bayangkan," papar Mahendra.
Terakhir, surat utang sebesar 205 miliar won atau setara 144 juta dollar AS untuk proyek Legoland Korea tidak dibayarkan saat jatuh tempo 29 September 2022 lalu. Gagal bayar (default) oleh Legoland tersebut mengakibatkan terjadinya corporate bonds rush di seluruh Korea Selatan. "Ini yang kita alami. Jadi, bukan hanya the perfect storm situation, tapi risk can come and have come from different and unexpected side," katanya.
Harus Realistis
Pengamat ekonomi dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan yang disampaikan OJK benar. Makanya, pemerintah harus lebih realistis dengan targetnya. "Kok masih memaksa tumbuh 5 persen, kondisi normal saja tumbuh 4-5 persen. Masa, ini pandemi, memaksa tumbuh 5 persen. Realistis saja, sebab kita bisa bertahan saja sudah bagus," kata Esther.
Kendatipun demikian, dia mengakui bahwa geliat ekonomi sudah mulai tampak, tetapi masih harus waspada karena virus Covid-19 belum benar-benar hilang.
"Jadi masih berdampak, ditambah konflik geopolitik bikin harga energi dan pasokan pangan terbatas," katanya.
Ia pun menyarankan agar di tengah kondisi seperti saat ini, pemerintah harus tetap menjaga daya beli masyarakat, karena pertumbuhan ekonomi RI masih bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Pada kesempatan terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5 persen memang disyukuri, tetapi tidak boleh mengabaikan kemungkinan situasi memburuk di tahun depan.
Di sektor keuangan memang tampak masih aman-aman saja. Tetapi di sektor riil, menurut Aloysius, sudah terjadi serangkaian pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah yang tidak kecil, baik di industri yang padat karya maupun bisnis startup (perusahaan rintisan). Dengan kenyataan seperti itu maka tidak bisa dikatakan kalau sektor riil sepenuhnya baik-baik saja.
"Gejolak di sektor riil tersebut dapat saja merembet sektor finansial," papar Aloysius.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pegula Jaga Asa Final Perdana di Dubai
-
Satgas Pangan Maluku Perketat Pengawasan terhadap Distributor
-
Pemkab Penajam Paser Utara Pantau Harga-Pasokan Pangan saat Ramadan
-
Kemenpar Sebut Ajang DXI 2026 Perkuat Posisi Wisata Petualangan Indonesia
-
The Spine: Ambisi Mesir Membangun Kota Masa Depan
-
Whoosh Ngebut Lagi, 62 Perjalanan Siap Layani Penumpang
-
Bayern Percaya Diri Atasi Gladbach
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.