Badan Pangan Terlambat Antisipasi Lonjakan Harga Cabai
Selasa, 14 Jun 2022, 00:02 WIBJAKARTA - Badan Pangan Nasional dinilai terlambat mengantisipasi melonjaknya harga cabai rawit merah dan bawang merah sehingga masyarakat merasa sangat terbebani.
Peneliti Ekonomi dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendi Manilet, di Jakarta, Senin (13/6), mengatakan pemerintah, khususnya Badan Pangan Nasional, semestinya sudah mengawasi aliran distribusi atau rantai pasok pangan strategis termasuk cabai yang rentan mengalami kenaikan harga.
Selain rentan pada produksi, komoditas tersebut juga sangat bergantung pada pola distribusi. Sekalipun produksi stabil atau melimpah, namun distribusinya terganggu maka harga tetap sulit dikendalikan.
Badan Pangan, jelasnya, harus mengantisipasi sedari awal agar pasokan tidak terus terganggu di sisa tahun ini. "Pemerintah semestinya dari jauh hari sudah bisa memetakan berapa kemampuan produksi dan kebutuhan cabai secara nasional juga kebutuhan setiap daerah," kata Rendi.
Setelah itu, baru distribusinua diatur ke daerah, sehingga pasokan cabai merata sesuai kebutuhan masing-masing. Hal seperti itu juga perlu diberlakukan terhadap komoditas pangan yang bersumber dari impor.
Kepala Badan Pangan Nasional / NFA (National Food Agency), Arief Prasetyo Adi, dalam keterangan tertulisnya mengatakan akan memfasilitasi pendistribusian cabai rawit merah dan bawang merah dari wilayah surplus ke wilayah defisit agar harga kembali stabil. "Saat ini pasokan cabai rawit merah turun sekitar 20-30 persen karena sumber panen di daerah sentra produksi mulai berkurang," kata Arief dalam keterangan tertulisnya.
Berdasarkan data harian pangan per 10 Juni 2022, komoditas pangan yang harganya naik seperti cabai merah keriting dengan rata-rata nasional 61.217 rupiah per kg, cabai rawit merah 78.250 rupiah per kg, dan bawang merah 45.122 rupiah per kg. Untuk komoditas cabai di harga eceran tembus 95 ribu hingga 100 ribu rupiah per kg.
Intervensi Pasar
Arif menjelaskan sumber cabai rawit merah yang harganya paling murah saat ini ada di Sulawesi Selatan dengan harga di tingkat petani kisaran 50 ribu hingga 55 ribu rupiah per kg. Oleh karena itu, Badan Pangan akan memfasilitasi distribusi logistik untuk suplai pasokan cabai dari petani atau Gapoktan asal Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, ke pasar induk di Jakarta dan sekitarnya, antara lain Pasar Induk Kramat Jati, Pasar Induk Tanah Tinggi, dan Pasar Induk Cibitung.
"Kami targetkan sekitar 100 ton cabai atau 5-10 ton per hari akan dikirim ke Jakarta, estimasi pengiriman pekan depan sudah bisa kita lakukan," katanya.
Dengan demikian, lanjut Arief, harga cabai rawit merah di tingkat konsumen atau eceran bisa diintervensi ke harga di kisaran 60 ribu-65 ribu rupiah per kg, jauh di bawah harga rata-rata Jakarta saat ini yang mencapai 100 ribu-120 ribu rupiah per kg.
Selain cabai, Badan Pangan juga akan memfasilitasi distribusi bawang merah dari petani asal Kabupaten Bima dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, dengan harga beli di tingkat petani kisaran mulai 30ribu-36 ribu rupiah per kg dan dikirim ke pasar-pasar induk di Jabodetabek.
"Suplai pasokan bawang merah ke Jabodetabek sekitar 500 ton atau 40 ton per hari," pungkasnya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Menteri PKP Dorong Penguatan Kredit Perumahan
-
Menkeu Katakan Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun hingga Mei 2026
-
Marquez Raih Kemenangan ke-100, Sapu Bersih MotoGP Hungaria
-
Invasi Pasukan Korea Utara di Seoul, Rilis Call of Duty: Modern Warfare 4 Sulut Kontroversi?
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
Infinix HOT 70 Rilis di Indonesia pada 24 Mei 2026, Berapa Harganya?
-
Pelatih Manchester City Pep Guardiola Beri Selamat atas Gelar Juara Arsenal
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.