Kementan Beberkan Fakta Mengejutkan, Kebun Kelapa Tua Hambat Produksi Nasional
Rabu, 22 Jul 2026, 19:40 WIBJAKARTA â Peningkatan produktivitas kelapa menjadi langkah strategis untuk memperkuat daya saing komoditas perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Upaya ini dapat ditempuh melalui peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, penerapan teknologi budidaya, serta penguatan hilirisasi agar nilai tambah produk meningkat.
Dengan produktivitas yang lebih tinggi, sektor kelapa berpeluang memperluas pasar ekspor sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi di sentra-sentra perkebunan.
Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sekitar 377 ribu hektare kebun kelapa nasional masuk kategori tanaman tua dan rusak, sehingga menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan produktivitas komoditas tersebut.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Rosyid mengatakan tingginya luas tanaman tua rusak membuat produktivitas kelapa nasional masih belum optimal meskipun Indonesia memiliki areal perkebunan kelapa yang luas.
"Tanaman tua rusaknya saat ini mencapai 377 ribuan hektare dari total sekitar 3,2 juta hektare kebun kelapa nasional,â ujar Agus dalam diskusi pengembangan hilirisasi kelapa di Jakarta, Rabu (22/7).
Menurut dia, produktivitas kelapa nasional saat ini masih berada di kisaran 1,1 ton per hektare per tahun, jauh di bawah potensi yang dapat mencapai 3,5 ton hingga 5 ton per hektare apabila menggunakan benih unggul dan menerapkan praktik budi daya yang baik.
Selain faktor tanaman tua dan rusak, Agus mengatakan produktivitas kelapa juga terkendala oleh minimnya pemeliharaan kebun di tingkat petani. Harga kelapa yang cenderung rendah dalam waktu lama membuat sebagian petani mengurangi perawatan kebun.
"Karena harga yang cenderung rendah, petani enggan melakukan pemeliharaan, mungkin juga tidak mampu membeli pupuk dan sebagainya. Akhirnya kelapa hanya dipanen, tetapi pemeliharaannya kurang optimal," katanya.
Ia menambahkan kondisi tersebut turut menyebabkan sebagian petani beralih ke komoditas lain yang dinilai lebih menjanjikan secara ekonomi, seperti kelapa sawit yang memiliki harga lebih stabil.
Padahal, menurut Agus, kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena permintaan pasar global terhadap produk olahan kelapa terus meningkat.
Selain buah, hampir seluruh bagian tanaman kelapa dapat dimanfaatkan, mulai dari sabut, tempurung, daging, hingga air kelapa.
Untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing kelapa nasional, pemerintah mendorong program peremajaan dan pengembangan kawasan kelapa melalui agenda hilirisasi komoditas.
Pada 2026, Kementan menargetkan pengembangan kawasan hilirisasi kelapa seluas 151.554 hektare yang tersebar di 28 provinsi.
Program tersebut mencakup penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas, penerapan praktik budidaya yang baik, serta penguatan rantai pasok agar nilai tambah kelapa dapat lebih banyak dinikmati petani.
Agus menambahkan penguatan kelembagaan petani juga menjadi faktor penting agar peremajaan dan pengembangan kelapa dapat berjalan berkelanjutan.
âKarena untuk mengakses bantuan atau kegiatan dari Kementan itu harus petani yang berlembaga ⦠Jadi penguatan kelembagaan perlu terus kita dorong supaya petani lebih mempunyai nilai tawar dan daya saing yang baik,â ucap dia.
Untuk mendukung peremajaan kelapa, Kementan mendorong pemanfaatan berbagai sumber pendanaan, seperti Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta program peremajaan kelapa rakyat (PKR).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
-
Perkuat Pengawasan Hutan, Personel Smart Patrol di Sulut Dapat Pelatihan Khusus.
-
Paus Leo XIV Serukan Persatuan di Hadapan Sejuta Umat Madrid
-
Pertamina Patra Niaga Bagikan 2.031 Hewan Kurban Idul Adha
-
Sikapi Fluktuasi Harga Avtur, Kemenhub Sesuaikan Fuel Surcharge Angkutan Udara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.