Mengagetkan, Ada Apa Tiba-tiba Penjaga Makam Korban Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883 Sampaikan Ini
Selasa, 26 Apr 2022, 12:26 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Mansur
Pandeglang - Mbah Asri seorang nenek berusia 95 tahun di Desa Muruy Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten kini menjaga dan merawat makam korban letusan Gunung Krakatau tahun 1883 yang kala itu mengakibatkan terjadi gelombang tsunami.
Bencana letusan Gunung Krakatau pada masa itu telah menimbulkan korban jiwa sekitar 36 ribu warga pesisir Pantai Banten dan Lampung.
Gelombang pengungsi pascabencana letusan Gunung Krakatau itu untuk wilayah pantai Carita dan Labuantersebar di Kecamatan Menes dan Kecamatan Jiput, karena lokasinya tidak begitu berjauhan.
Ribuanpengungsi itu mereka kondisinya mengalami luka-luka, sakit hingga kerawanan pangan.
Bencana dahsyat letusan Gunung Krakatau hingga abu vulkaniknya sampai ke Benua Eropa.
Bencana Gunung Krakatau itu juga menyebabkan banyak korban meninggal dunia di lokasi pengungsiandi Desa Muruy Kecamatan Menesyangmenjadi bukti sejarah.
Kawasan pemakaman korban letusan Gunung Krakatau hingga kini masih utuh yang ditandai dengan bebatuan.
Diperkirakan pengungsi korban Gunung Krakatau di Desa Muruy puluhan orang meninggal dan kebanyakan warga Caringin, Labuan.
Pemakaman korban letusan Gunung Krakatau sudah jarang bahkan tidak pernah lagi dikunjungisanak keluarganya untuk berziarah baik saat Ramadhan maupun menjelang Idul Fitri.
"Kami setiap hari membersihkan dan merawat makam korban Gunung Krakatau dengan menyapu," kata Mbah Asri di Pandeglang, Selasa.
Mbah Asri warga asli Muruy mengurus dan merawat makam seluas 1.000 meter persegi itu kebanyakan korban Gunung Krakatau juga sebagian lainnya warga setempat.
Merawat dan menjaga pemakaman itu dengan ikhlas tanpa imbalan, karena merupakan bagian sejarah.
"Letusan Gunung Krakatau cukup dahsyat dan jangan sampai kembali terjadi bencana," katanya.
Masyarakat setempat tidak mengharapkan bencana tsunami di sekitar pantai Carita, Labuan, Panimbang hingga Sumur yang terjadi pada 2018 longsoran Gunung Anak Krakatau cukup terakhir.
"Kami berharap saat ini status Gunung Anak Krakatau Siaga Level III tidak menimbulkan bencana, " katanya menjelaskan.
Masjid tertua
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid ( DKM) Masjid Adzikri Muruy Kabupaten Pandeglang H Muhammad Ilyas mengatakan di dekatlokasi pengungsian korban Gunung Krakatau di Kampung Muruytelah dibangun Masjid Adzikri Muruy oleh Syech Asnawi seorang ulama kharismatik di Banten.
Syech Asnawi juga sebagai pengungsi yang terdampak bencana Gunung Krakatau.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!