Tiga Pelajar SMA, Tembus Empat Besar Kompetisi Robot Dunia Sisihkan Para Mahasiswa atau Peneliti
📅 Senin, 13 Okt 2025, 18:32 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Bayu Sakti
JAKARTA - Tiga pelajar SMA asal Indonesia yang tergabung dalam Tim Bayu Sakti berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang World Robot Summit (WRS) pada hari Minggu (12/10) di Fukushima, Jepang. Sebagai satu-satunya wakil Indonesia dan tim termuda di WRS 2025, Tim Bayu Sakti sukses menembus empat besar dunia dalam kompetisi robot untuk kategori Disaster Robotics Drone.
Ajang bergengsi ini diselenggarakan oleh Fukushima Institute for Research, Education and Innovation (FREI) bersama Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang dan diikuti ahli robotika dari berbagai negara pada tanggal 10-12 Oktober 2025.
Tim Bayu Sakti terdiri dari tiga pelajar SMA, yakni Ksatria Wibawa Putra Murti (16 tahun), Owen Tay Jia Hao (16 tahun) dari ACS Jakarta, dan Arga Wibawa (18 tahun) dari SMA Al Irysad yang baru lulus kelas 12. Mereka bertanding dalam kategori Robot Tantangan Bencana Alam (Disaster Challenge), tepatnya Standard Disaster Robotics Drone Challenge, yang menguji kemampuan otonomi, pemetaan, dan manuver drone dalam simulasi bencana.
“Ini melampaui ekspektasi kami. Target kami adalah lolos masuk ke WRS dengan membawa nama baik Indonesia. Nyatanya kami bisa lolos hingga final dan bahkan urutan 4 teratas,” kata Ksatria sebagai Ketua Tim Bayu Sakti, melalui keterangannya pada hari Senin (13/10).
“Kami mengalahkan tim-tim lainnya yang beranggotakan mahasiswa atau peneliti, dengan peralatan dan pengalaman yang lebih banyak,” ungkap Owen.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Sebagai tim paling muda, hasil dari tim Bayu Sakti membuktikan bahwa SDM Indonesia bisa bersaing ketat dengan SDM negara-negara maju,” sambung Arga.
Dalam kompetisi ini, tim Bayu Sakti menampilkan drone Rajawali, sebuah drone bertenaga kecerdasan buatan (autonomous AI-powered disaster response unmanned aerial vehicle). Drone ini dikembangkan selama 6 bulan spesifik untuk bersaing di kompetisi Disaster Robotics Drone Challenge WRS 2025.
Drone Rajawali tersebut mampu melakukan pemetaan area bencana, bergerak secara mandiri (autonomous), dan mampu mendeteksi beberapa indikator yang muncul saat bencana seperti retakan, label hazard, karat, dan serangkaian tantangan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ksatria mengungkapkan Indonesia merupakan salah satu negera yang rawan bencana. “Kami mau mengembangkan solusi nyata untuk menjawab permasalahan ini. Karena ditandingkan dengan solusi negara lain, ini menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia bisa mengembangkan teknologi ini secara berkualitas dan mandiri,” ujar Ksatria.
Sementara Owen menambahkan ini baru tahap awal dan berharap bisa terus mengembangkannya. Dengan cara ini diharapkan Indonesia memiliki kemandirian teknologi drone di bidang penanggulangan bencana.
Untuk diketahui, WRS merupakan kompetisi dan pameran robotika internasional bergengsi yang dirancang mempercepat, riset, inovasi dan implementasi sistem robotika di dunia nyata. Tidak semua tim bisa otomatis berpartisipasi dalam WRS 2025.
Mereka yang dapat ikut berpartisipasi dalam WRS 2025, harus lolos dari kualifikasi desain robot WRS yang sulit. Kompetisi ini terdiri dari berbagai macam kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan menciptakan inovasi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan.
Puncak acara dari WRS adalah kompetisi robot. Pada sesi ini tim dari berbagai negara datang untuk menyelesaikan tantangan dengan menggunakan robot dengan teknologi paling mutakhir karya mereka masing-masing.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!