Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Substitusi ke Makanan Lokal Solusi RI Selamat dari Krisis Pangan

📅 Rabu, 08 Jun 2022, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Substitusi ke Makanan Lokal Solusi RI Selamat dari Krisis Pangan Doc: ANTARA/HARVIYAN PERDANA PUTRA
Ket. Petani memanen tanaman sorgum, pangan alternatif pengganti beras dan jagung.

JAKARTA - Indonesia memiliki banyak bahan pangan lokal untuk menggantikan beras, gandum, dan kedelai yang harganya terus naik akibat kondisi politik global. Alternatif pangan lokal diharapkan sebagai solusi untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis pangan dunia.

Guru Besar Ekonomi Pertanian Univeristas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, M Dwijono Hadi Darwanto, saat dihubungi Selasa (7/6), mengatakan konsumsi pangan lokal sebenarnya sudah dicanangkan 1982 lalu sebagai pengganti beras, namun nyatanya konsumsi beras per kapita justru terus naik.

Indonesia, katanya, harus belajar pada Jepang yang sudah berhasil mengurangi konsumsi beras sebagai makanan pokok dan menggantinya dengan berbagai komoditas lokal lainnya.

"Jepang, satu generasi lalu konsumsi berasnya sama dengan kita, 148 kilogram per kapita per tahun, sekarang tinggal 18 kg per kapita per tahun. Beras mereka ganti dengan sayur, buah, ikan, dan sebagainya. Nah, mengubah pola konsumsi ini penting, jadi nanti produksi akan mengikuti," kata Dwijono.

Dengan banyaknya alternatif pangan lokal, semestinya diikuti dengan upaya mengajak masyarakat agar menyukai komoditas lokal lainnya agar petani tetap bergairah menanam.

Pengembangan sorgum yang sekarang dicanangkan Presiden Jokowi, kata Dwijono, pernah dicoba di era Orde Baru, dan sukses. Sayangnya, masyarakat kurang terbiasa mengonsumsi sehingga lama-kelamaan produksi turun sendiri.

"Indonesia mesti mencontoh Jepang yang memulai sosialisasi dari anak sejak play group dan TK agar pola konsumsinya berubah. Aneka program makanan tambahan nonberas dikenalkan agar ketika beranjak dewasa sudah jadi kebiasaan," kata Dwijono.

Harus diprioritaskan

Secara terpisah, Pakar Pertanian dari UPN Jawa Timur, Surabaya, Akhmad Fauzi, mengatakan produk pertanian lokal harus didahulukan atau diprioritaskan ketimbang produk impor. Apalagi, Indonesia memiliki banyak bahan pangan lokal untuk menggantikan sejumlah komoditas yang masih diimpor.

Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan kolaborasi antarnegara untuk mencegah krisis pangan di dunia sangat penting karena ancaman krisis pangan ke depan sangat nyata.

Apalagi pandemi Covid-19 belum usai dan pemulihan ekonomi masih berlangsung. Dampak pandemi juga meninggalkan lonjakan utang akibat pengeluaran pemerintah untuk recovery lebih besar.

Di sisi lain, perang Russia dan Ukraina mengakibatkan krisis energi dan kenaikan harga energi di dunia.

Kolaborasi penting karena banyak negara ke depannya akan melakukan penundaan ekspor karena merekafokus pada upaya pemenuhan pangan di negaranya sendiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.