Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Seorang Profesor Sarankan Lansia Jepang Bunuh Diri Massal, Ada Apa?

📅 Rabu, 15 Feb 2023, 12:30 WIB | Oleh:
Seorang Profesor Sarankan Lansia Jepang Bunuh Diri Massal, Ada Apa? Doc: ABEMA News
Ket. Yusuke Narita, seorang asisten profesor di Universitas Yale, menyarankan agar penduduk lanjut usia Jepang bunuh diri agar tidak membebani negara.

Seorang profesor di Yale University memicu amarah publik usai menyarankan penduduk lanjut usia di Jepang untuk mengambil bagian dalam "bunuh diri massal" demi menangani masalah populasi Jepang yang semakin menua.

Yusuke Narita (37) yang merupakan asisten profesor ekonomi di sekolah Ivy League, menyatakan bahwa bunuh diri massal bisa menjadi solusi bagi populasi lansia Jepang dalam beberapa wawancara dan penampilan publiknya.

"Saya rasa satu-satunya solusi sudah cukup jelas," kata Narita dalam program berita di akhir tahun 2021.

"Pada akhirnya, bukankah itu bunuh diri massal dan 'seppuku' massal orang tua?" tambahnya, merujuk pada ritual bunuh diri samurai yang secara historis dilakukan dengan mengeluarkan isi perut.

Sejak menggembar-gemborkan solusi kontroversialnya, Narita telah memperoleh ratusan ribu pengikut di media sosial. Ia juga muncul secara reguler di berbagai platform internet dan televisi di Jepang, muncul di sampul majalah, acara komedi, dan iklan minuman berenergi.

Ketika menjawab pertanyaan seorang anak laki-laki tentang seppuku, Narita memberi tahu sekelompok siswa tentang sebuah adegan dari film "Midsommar", di mana sekte Swedia mengirim salah satu anggota tertua mereka untuk bunuh diri dengan melompat dari tebing.

"Apakah itu hal yang baik atau tidak, itu pertanyaan yang lebih sulit untuk dijawab," katanya.

"Jadi, jika menurut Anda itu bagus, mungkin Anda bisa bekerja keras untuk menciptakan masyarakat seperti itu," ujar Narita seperti dikutip dari The New York Times.

Dia juga telah membahas eutanasia, yakni praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal.

Narita berdalih ada kemungkinan bahwa "menjadikan eutanasia wajib di masa depan" akan menjadi bagian dari wacana publik.

Berbicara kepada The New york Times, Narita mengklarifikasi bahwa pernyataannya telah diambil di luar konteks. Menurut pengakuannya, istilah "bunuh diri massal" dan "seppuku massal" dimaksudkan hanya sebagai "metafora abstrak".

Ia mengaku pernyataan seppuku dilontarkannya ketika membahas upaya yang berkembang untuk mendorong orang paling senior keluar dari posisi kepemimpinan dalam bisnis dan politik dalam rangka untuk memberi ruang bagi generasi muda.

Meski begitu, sekelompok kritikus memperingatkan bahwa popularitas Narita dapat memengaruhi kebijakan publik dan norma sosial.

Kritikus khawatir bahwa komentarnya dapat memunculkan jenis sentimen yang menyebabkan Jepang mengesahkan undang-undang egenetika pada tahun 1948. di mana dokter secara paksa mensterilkan ribuan orang dengan disabilitas intelektual, penyakit mental, atau kelainan genetik.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

59 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.