Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Peraih Medali Emas Olimpiade Tokyo 2020 Greysia Polii

Saya Harus Menurunkan Ego, agar Nyambung dengan Apri

Foto : AFP/PEDRO PARDO
A   A   A   Pengaturan Font

Perjalanan pasangan Greysia Polii penuh liku. Bahkan Greysia yang telah malang melintang di pelatnas, sempat meragukan Apriyani Rahayu. Bahkan Greysia terpaksa mengetes mentalnya dan harus memperoleh komitmen Apri untuk berdarah-darah kalau mau juara.

Pemain bulutangkis ganda putri Indonesia, Greysia Polii/Apriyani Rahayu, berhasil menorehkan sejarah di Olimpiade Tokyo 2020. Pasangan beda usia sepuluh tahun itu mampu meraih medali emas pertama bagi Indonesia dari sektor ganda putri di Olimpiade. Sebagai senior, Greysia, bertindak layaknya seorang kakak bagi Apriyani.

Ikatan yang melebihi sekadar pasangan di lapangan atau bisa disebut kakak-adik itulah yang membuat mereka meraih kesuksesan. Begitulah ungkapan Greysia. Untuk mengetahui lebih dalam siapa mereka dan bagaimana tentang berduet di lapangan, wartawan Koran Jakarta, Beny Mudesta, mengulik wawancara Greysia Polii. Berikut petikannya.

Penampilan kalian sangat percaya diri dan prima di final. Apa rahasianya?

Kita selalu mengingatkan pada diri kita masing-masing sebelum pertandingan. Persiapan itu sangat mempengaruhi kita memasuki lapangan. Kita selalu bilang bahwa sebelum masuk lapangan hawanya dinaikin. Mainnya kaya lawan cowok. Jadi kan kita sering latihan di lapangan dan kita selalu bangkitin hal positif serta semangat. Hal itu yang kita lakukan dibanding sisi teknis.

Berdua bermain sangat lepas. Bahkan sering tertawa dan tersenyum. Mengapa bisa seperti itu?

Apa pun yang terjadi di lapangan, kita harus kasih sisi positifnya karena yang mempengaruhi secara mental adalah kita berdua di lapangan. Jadi, ketika kita buat kesalahan atau mendapat poin, harus kita kasih senyum terus, kasih semangat. Maka, tanpa sadar main tuh kayak enggak ada habisnya. Memang tak segampang yang terlihat. Ada latihan yang harus dilakukan untuk bisa menentukan pertandingan bisa dijalani dengan santai.

Greysia sempat mengganti raket dan Apriani bermain sendiri di tengah lapangan.

Raket saya waktu itu putus. Saya mikir cepat, bagaimana caranya supaya bola tidak mati. Raket saya sudah tidak bisa dipakai. Saya yakin Apriyani pasti bisa mem-back up. Jadi saya lari saja. Ada timing sih sebenarnya, kapan harus lari dan kembali ke lapangan. Apriyani cover itu dengan cukup baik. Kan dia mantan pemain single.

Pada saat poin terakhir, lawan minta challenge. Apa yang kalian pikirkan atau rasakan saat itu?

Saya sudah tahu itu out. Jadi saya bodo amat. Saya sudah yakin. Tapi sempat ragu juga, jika sistemnya error.

Datang ke Tokyo tanpa diunggulkan. Apa kunci atau strategi akhirnya sukses meraih emas?

Saya pribadi hanya mau berupaya untuk memberikan yang terbaik. Saya tidak memikirkan mana unggulan. Ini Olimpiade! Apa pun bisa terjadi. Pada akhirnya saya tidak memikirkan yang aneh-aneh. Saya hanya menjalani pertandingan demi pertandingan. Kita memperkuat mental dengan berpikir bahwa peringkat satu sampai 16 yang tampil di Olimpade punya peluang yang sama meraih medali. Kita salah satunya. Kita berpikir positif bahwa bisa meraih medali dulu. Jadi, mental itu yang coba kita bangun terus.

Tahun 2012 sempat didiskuafikasi dari Olimpiade London dan terpuruk. Bagaimana caranya bangkit?

Saya sampai kadang-kadang tidak bisa berpendapat tentang kondisi seperti itu. Kadang saya merasa mustahil bisa bangkit. Tapi juara Olimpiade juga bukan hal mustahil pula. Jadi, pada saat itu orang-orang yang percaya kepada saya, seperti pelatih, beberapa pengurus PBSI, dan keluarga, mereka bener-bener support saya dengan menyerahkan kepada saya. Tapi mereka bilang bahwa apakah kamu mau mengakhiri karir dengan seperti ini. Dengan dicap notabene adalah atlet yang didiskualifikasi. Sedangkan kamu dari kecil sudah membuat banyak pengorbanan semuanya untuk bisa menjadi pemain bulutangkis.

Lalu?

Jadi, perkataan-perkataan itu yang membuat saya pada akhirnya bertanya pada diri sendiri kepada Tuhan bahwa apakah saya lanjut atau tidak. Akhirnya saya memutuskan untuk ya sudah saya jalanin. Saya lagi jalanin ban (hukuman). Saya coba berpikir dan puji Tuhan. Tuhan mendatangkan orang-orang yang tepat pada saat yang tepat. Mulai dari Asian Games 2014, ganda putrid, diperhatikan lagi. Lalu datanglah Apriani tahun 2017. Itu membuat suatu motivasi tersendiri bagi saya untuk bisa berjalan, berlari lebih lagi, sampai pada akhirnya tahun 2021 ini.

Banyak pihak yang mengapresiasi keberhasilan ini. Apa yang dijanjikan pemerintah?

Kami mendengar pemerintah akan kasih a, b, c dan d. Jujur saja, kami berdua benar-benar mau berprestasi dulu. Setelah prestasi datang, semua bonus itu dari Tuhan. Kami sangat mengucap syukur dan berterima kasih kepada semua kalangan yang menghargai prestasi kami di Olimpiade ini. Jadi ini imbal balik bersamalah. Untuk Indonesia juga dan untuk kami juga. Sekarang kami berhasil dan ini juga menjadi kado untuk ulang tahun Hari Kemerdekaan ke-76 Indonesia.

Bagaimana menjaga kekompakan?

Kami selalu menggap kakak adik, saling memotivasi. Syukur kami mendapat hasil maksimal. Apri sempat saya ragukan. Saat dipasangkan tahun 2017 sempat ada keraguan. Ada gap secara mental. Saat itu saya bilang ke pelatih, saya akan coba berpasangan dengan Apriyani. Saya hanya coba itu.

Sebelum dipasangkan saya tanya dia. Saya tes mentalnya. Apa yang dia inginkan hingga bisa menjadi juara. Mental seorang juara itu langka. Saya tanya ke dia waktu itu. Apa kamu mau menjadi juara? Mau berdarah-darah dan mengikuti semua perkataan pelatih? Dia jawab mau. Setelah itu, barulah kami terus berjuang. Saya waktu itu memang harus mendapatkan komitmen dia dulu. Dia waktu itu masih muda, baru 19 tahun. Jadi saya harus menurunkan ego saya untuk bisa nyambung sama dia.

Akhirnya?

Saya belajar bahwa saya tidak bisa mempertahankan ego saya yang mungkin sudah di atas untuk bisa rangkul dia. Saya selalu bilang ke Apri untuk bisa bertemu di tengah. Meski gap secara umur dan mental terlalu jauh, kami terus berusaha bertemu di tengah. Setiap evaluasi pertandingan, apakah menang atau kalah, apakah dia atau saya yang salah, kami selalu minta maaf bersama. Itu yang membuat akhirnya kemistri di lapangan terjadi. Relationship kami jadi benar-benar kokoh. Itu yang membantu kami meraih apa yang kami capai hari ini. Tidak terlepas dari pertolongan pelatih yang terus-menerus 24 jam betul menjaga kami.

Apakah Juara Olimpiade Tokyo memang digadang-gadang?Menjadi juara Olimpiade Tokyo memang tujuan kami. Kami merasa sangat spesial bisa juara. Jadi juara itu memang tidak mudah. Kami harus melewati banyak hal. Saya jujur sangat bangga dengan Apri karena di usianya yang muda seperti dia mau serius untuk mau ditekan terus. Mau terus dipencet. Tujuan kami mau mengejar menjadi yang terbaik. Menjadi juara nggak bisa main-main. Jadi, akhirnya itu yang membuat efeknya terasa di lapangan.

Kenapa dipasangkan dengan Apri

Waktu kira-kira awal tahun 2017, dia masuk pelatnas dan saya tidak punya pasangan. Pemain lain sudah punya dan saat itu Aprilah yang kosong. Saya tidak mau mengganggu yang lain karena mereka fokus mengejar ranking.

Siapa yang memasangkan?

Saat itu keputusan ada di tangan saya. Saya bilang coba aja dulu dan ternyata berjalan baik. Akhirnya itu membuat saya bisa bangkit. Sebab setelah Olimpiade 2016, saya berencana untuk pensiun. Saya juga wanita. Saya juga mau berkeluarga bla bla bla dan lain-lain. Saya coba membangun sesuatu yang baru, selain tangkis. Tapi, setelah ada dia, langsung juara. Ya udah deh saya terusin.

Bagaimana sikap Apri?

Saat itu saya tanya juga. Bagaimana kamu, mau enggak terus karena nanti bakal menghadapi banyak masalah. Dia jawab tegas, "Mau banget." Ya udah kita jalanin aja. Kami juga ada omongan dulu mau nggak jadi cepat dewasa. Dia jawab mau. Kami jalanin tidak sampai setahun, sudah bisa jadi juara di Super Series. Kenapa kami bisa terus sampai saat ini dan pastinya setelah melewati hal-hal. Ini seperti bangun rumah tangga. Kelihatan buruknya, tapi juga ada bagusnya. Bagusnya itu yang coba kami pertahankan. Kami saling menerima dan itu menjadi kekuatan untuk ke depannya.

Untuk latihan sehari-hari seperti apa?

Kami berlatih tiga sesi setiap hari mulai pukul 06.00. Terus ada sesi siang dan sore hari. Bulutangkis memang hobi dan pekerjaan. Makanya disenangi terus. Bergaulnya juga sama anak-anak muda terus. Jadinya tak capek latihan.

Apakah pernah merasa jenuh?

Sudah beberapa kali mau berhenti. Beberapa kali karena merasa sudah panjang banget. Jenuh itu pasti ada karena sudah main bulutangkis dari kecil. Tapi karena sudah kebiasaan, kalau tidak main bulutangkis rasanya aneh. Saya punya tujuan dan passion di sini. Karena itulah hidup saya, saya dedikasikan buat bulutangkis. Keluarga saya juga sangat mendukung. Jadi, saya mau main untuk berjuang bagi diri sendiri, keluarga dan Indonesia. Motivasi itu lebih besar dibanding keinginan untuk berhenti.

Meski sudah meraih banyak prestasi, sifat rendah hati selalu terlihat dari pemain pelatnas, bagaimana itu bisa terus terjaga?

Selain berlatih teknik dan fisik, kami juga dilatih karakternya. Sebagai atlet meski kami semua sudah meraih banyak juara, harus hormat terus-menerus sama pelatih, sama orang-orang yang membantu kami. Itu bagian dari sikap disiplin. Attitude seperti itu harus dimiliki seorang atlet. Meski kami sudah menjadi juara setinggi mungkin, di luar lapangan bulutangkis, kami tetap harus menghormati satu sama lain. Dengan mitra, dengan orang-orang yang sering membantu kami.

Kami diajarkan mengelola emosi. Diajarkan nilai-nilai kerendahan hati, sifat berjuang terus. Nilai-nilai itulah yang sudah diajarkan dari kecil, sejak awal masuk asrama. Jadi, bulutangkis itu sudah seperti keluarga baik pelatih, pengurus, maupun pemain lain.

Siapa yang dibanggakan?

Saya mau apresiasi. Saya sangat bangga dengan orang-orang yang selalu mendukung saya: suami dan keluarga. Mereka itu yang benar-benar totalitas mendukung. Sampai masalah emosional karena ini hal yang kompleks. Maksudnya begini. Kami kan selalu fokus terutama saat bertanding. Jadi kami tidak boleh ada hal lain yang dipikirkan. Saat itulah dukungan dari keluarga sangat dibutuhkan.

Jadi, kapan waktu untuk keluarga?

Saat libur latihan hari Minggu. Waktu harus dibagi-bagi. Bertemu keluarga, teman-teman, dan acara lain di luar bulutangkis. Satu jam saja bisa sangat berharga. Itu biasanya sangat padat. Jadi, terima kasih untuk pengertian dari keluarga saya yang selama ini terus mendukung.

Apakah medali emas ini juga untuk kakak tercinta?

Dia (Rickettsia Polii) sudah seperti ayah saya. Abang saya berusia 18 tahun lebih tua. Makanya dia memperlakukan saya seperti putrinya dan saya memandangnya sebagai seorang ayah. Terlebih, setelah ayah saya meninggal, saat saya berumur dua tahun. Dia yang mengurus seluruh keluarga dan sangat mendukung karier bulutangkis saya.

Dia sudah melihat saya sebagai juara berkali-kali. Makanya untuk kali ini, sangat menyakitkan. Tidak hanya itu. Dia juga menunggu sampai pernikahan saya, baru kemudian dia "pergi." Jadi, rasanya, dia mau lihat dan menunggu yang terbaik dulu untuk saya.

Saya mempersembahkan gelar ini untuk kakak saya. Ini merupakan masa yang sulit karena beberapa dari keluarga saya jatuh sakit. Saya datang ke Tokyo dengan hati yang sakit karena selalu memikirkan mereka. Setiap malam dan setiap hari saya hanya berdoa kepada Tuhan.

Setelah Olimpiade apa rencana selanjutnya?

Saya tetap sabar dan berkomitmen. Dibutuhkan komitmen untuk mencapai mimpi, emas. Dan di sinilah kami sekarang. Keluarga saya mengatakan kepada saya untuk tidak menyerah. Jangan berhenti.

Untuk pensiun?

Sebenarnya, bagaimana ya? Karena setelah Olimpiade ini masih ada pertandingan-pertandingan, tanggung jawab, dan yang lainnya di bulu tangkis. Masih ada world tour. Ada kejuaraan dunia juga tahun ini. Jadi, kami bicarakan tahun ini saja dulu.

Riwayat Hidup

Nama: Greysia Polii

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 11 Agustus 1987

Suami: Felix Djimin

Profesi: Olahragawan

Karier: Atlet Bulutangkis sejak 2004

Peringkat dunia: Enam

Penghargaan:

  • Medali emas Olimpiade Tokyo 2020
  • Medali perunggu Kejuaran dunia BWF (2015, 2018 dan 2019)
  • Medali perunggu Asian Games (2010 dan 2018)
  • Medali emas Asian Games (2014)
  • Medali emas Sea Games (2007 dan 2019)
  • Medali perak Sea Games (2005, 2007, 2009, 2013 dan 2019)
  • Medali perunggu Sea Games (2005 dan 2017)
  • Medali perak Piala Uber (2008)
  • Medali perunggu Piala Uber (2010)



Redaktur : Aloysius Widiyatmaka
Penulis : Benny Mudesta Putra

Komentar

Komentar
()

Top