Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Permintaan Ekspor Menurun Tajam, Industri Tekstil Indonesia Kian Terancam

📅 Jumat, 04 Nov 2022, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Permintaan Ekspor Menurun Tajam, Industri Tekstil Indonesia Kian Terancam Doc: ANTARA/HAFIDZ MUBARAK A
Ket. Pekerja di sebuah pabrik tekstil di Jawa Tengah.

JAKARTA - Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, mengatakan industri tekstil Indonesia saat ini mengalami masa paling sulit. Penyebabnya banyak faktor, di antaranya penurunan ekspor yang cukup signifikan di pasar Eropa dan Amerika Serikat.

Penurunan permintaan ekspor itu sendiri, katanya, karena konsumen mengalami pelemahan daya beli. Kemudian, tekanan biaya produksi akibat naiknya harga material bahan baku dan biaya logistik. Ini terkait dengan selisih kurs dan lockdown di Tiongkok.

"Inflasi mulai memukul pelaku usaha tekstil dan pakaian jadi," kata Bhima Yudisthira kepada Koran Jakarta, Kamis (3/11) malam, menanggapi permasalahan industri tekstil Indonesia yang sangat berat. Bahkan, ada industri tekstil yang sangat besar dan selama ini sangat eksis karena banyak ekspor, kini sudah dililit utang dan terancam bangkut.

Faktor lainnya yang membuat makin parah, kata Bhima, kenaikan suku bunga pinjaman mendorong beban bagi pelaku usaha karena sebagian industri tekstil bergantung pada kredit perbankan. Kondisi ini diperburuk lagi dengan serbuan produk impor, khususnya pakaian bekas.

Untuk pakaian jadi yang berorientasi pasar domestik, lanjutnya, menghadapi dua tantangan sekaligus. Pertama, banjir impor pakaian jadi terutama brand asing yang ekspansif. Problemnya basis produksi brand asing ada di Vietnam dan Bangladesh, bukan RI.

Kedua, impor baju bekas turut memakan pangsa pasar pemain lokal. Beberapa tahun terakhir, muncul thrift store atau toko baju bekas hingga ke pelosok desa. "Dengan tekanan daya beli, konsumen lebih tergiur membeli baju bekas dibanding produk lokal baru," ucapnya.

Khusus terkait kenaikan harga bahan baku, menurut Bhima, perlu substitusi bahan baku lokal untuk mengantisipasi naiknya harga bahan baku impor. Tetapi, pelaku usaha lokal juga harus meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi sehingga memenuhi kebutuhan industri di hilir.

Masalah Lama

Dihubungi terpisah, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan problem yang dialami industri tekstil tak kunjung terurai, dari dulu masalahnya selalu sama tanpa ada perbaikan.

Masalah di industri tekstil ialah karena bahan baku impor dan mahal, kemudian mesin-mesin produksi sudah tua, sehingga kapasitas produksinya kurang. "Selanjutnya, banyak puzzle di rantai pasok tekstil masih bolong-bolong. Contoh, industri intermediate setting yang memproduksi benang, kain masih jarang sehingga harus impor," paparnya.

Di sisi lain, iklim pendukungnya maih sangat jauh dari harapan. Sekolah tekstil juga jarang dan standar lingkungan juga tidak jelas. Biaya produksi mahal, produk lokal lebih mahal, sehingga "tsunami" impor besar-besaran karena tidak ada upaya membendung impor, safeguard hanya sementara.

"Kalau mau produk tekstil dan produk tekstil (TPT) kita kompetitif maka masalah itu harus diselesaikan dulu," tukasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.