Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemecahan Rekor Suhu Panas Terus Berlanjut

📅 Sabtu, 13 Jul 2024, 00:00 WIB | Oleh:
Pemecahan Rekor Suhu Panas Terus Berlanjut Doc: AFP/YUKI IWAMURA
Ket. Seorang pria mendinginkan diri menggunakan air mancur di tepi Sungai Hudson, New York saat gelombang panas melanda AS, beberapa waktu lalu.

NEW YORK - Menurut data dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Juni adalah bulan ke-13 berturut-turut di Bumi yang memecahkan rekor suhu panas global. Juni mengalahkan rekor yang dibuat pada tahun 2023 sebagai bulan Juni terpanas yang pernah tercatat.

"Kita harus menganggap ini sebagai hal yang normal. Kita perlu bersiap menghadapi cuaca panas yang lebih sering. Itulah kenyataannya," kata Katherine Idziorek, ahli geografi dan perencanaan masyarakat di University of North Carolina di Charlotte, baru-baru ini.

Dikutip dari The Straits Times, lebih dari separuh populasi AS, hampir 175 juta orang, menghadapi cuaca panas ekstrem pada tanggal 4 Juli, dan dampak dari normal baru ini terus mengguncang negara ini minggu ini.

Di AS bagian barat, kubah panas memicu kebakaran hutan, dan di Houston, kota terbesar keempat di negara itu, panas yang berlebihan mengancam nyawa. Pada tanggal 11 Juli, lima hari setelah Badai Beryl menerjang Texas, lebih dari satu juta orang di Houston masih belum mendapatkan pasokan listrik untuk unit pendingin udara dan peralatan medis mereka.

Semakin Kuat

Gelombang panas merupakan bagian dari pola cuaca alami berupa sistem bertekanan tinggi, yang menyebabkan suhu tinggi yang tidak biasa terjadi selama minimal tiga hari hingga lebih dari sebulan. Namun, gelombang panas semakin kuat dan lebih sering terjadi akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil.

"Kita telah mengetahui selama beberapa dekade dunia sedang memanas. Ketika gelombang panas yang terjadi secara alami ini terjadi, hal itu diperparah oleh steroid perubahan iklim," kata Alexander Gershunov, seorang ahli meteorologi peneliti di Scripps Institution of Oceanography di University of California, San Diego.

Menurut laporan Copernicus, Juni juga merupakan bulan ke-12 berturut-turut dengan pemanasan global sebesar 1,5 derajat Celsius atau lebih, dibandingkan dengan suhu pra-industri. Hampir satu dekade lalu, berdasarkan Perjanjian Paris 2015, negara-negara sepakat untuk mencoba membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celsius untuk menjaga planet ini tetap layak huni.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Ekonomi
Menkeu Ungkap Banyak Rumor ...

Wali Kota Bogor Aktivasi Museum Pajajaran

54 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.