Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menteri LH Nilai Dataran Tinggi Lebih Tepat Dijaga sebagai Hutan

📅 Minggu, 01 Feb 2026, 20:56 WIB | Oleh: Tim Penulis
Menteri LH Nilai Dataran Tinggi Lebih Tepat Dijaga sebagai Hutan Doc: Antara
Ket. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq meninjau pengelolaan sampah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (1/2).

Ciamis - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq menyatakan kawasan dataran tinggi lebih baik menjadi hutan daripada ditanami tanaman jenis palawija atau hortikultura untuk menghindari ancaman bencana, seperti tanah longsor.

"Bagian yang tinggi selalu lebih baik menjadi hutan daripada menjadi tanaman palawija karena bahayanya lebih tinggi," katanya menanggapi masalah longsor Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah meninjau pengelolaan sampah di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (1/2).

Ia menjelaskan kecenderungan dataran tinggi saat ini ditanami jenis tanaman subtropis, seperti kentang, kol, dan paprika yang membutuhkan lahan dengan ketinggian 800-2.000 meter di atas permukaan laut.

Penanaman jenis hortikultura di dataran tinggi itu, kata dia, dampak kebutuhan pangan masyarakat terhadap jenis pangan tersebut sehingga perlu memikirkan pola makan yang mengurangi jenis tanaman subtropis.

"Ini imbauan saya tentu mau enggak mau juga kita harus memikirkan ulang pola makan kita, mengurangi, mohon maaf ya, mengurangi tanaman-tanaman subtropis semisal kentang, kol, paprika," katanya.

Ia mengatakan jenis tanaman hortikultura itu sebenarnya bukan endemi tanaman Indonesia.

Untuk itu, katanya, sebaiknya lahan dataran tinggi ditanami dengan jenis tanaman sesuai dengan khas Indonesia.

"Kita kembalikan sama tanaman asli Indonesia yang kemudian tidak memerlukan tempat tumbuh yang tinggi," katanya.

Ia menjelaskan tentang pandangan tersebut melihat dari adanya tanah longsor di Bukit Burangrang, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang diketahui batasan antara hutan dengan pemukiman warga terdapat lahan ditanami jenis tanaman semusim atau hortikultura.

Jika lahan dataran tinggi diubah menjadi kawasan hutan, kata dia, tentu dapat menghindari risiko besar terjadinya bencana alam, seperti tanah longsor.

"Jika seandainya menjadi hutan tentu akan mampu mencegah sesuatu yang tidak kita inginkan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

37 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

42 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.