LQID Creative Space Hadir Jadi Ruang Seni Portabel Pertama Lewat Pameran Perdana Bertajuk 'Dentuman Alam'
📅 Selasa, 26 Agu 2025, 18:16 WIB | Oleh: Rivaldi Dani Rahmadi
Doc: Istimewa
JAKARTA - LQID Creative Space menjadi ruang seni publik portabel pertama di Indonesia lewat pameran perdana bertajuk "Dentuman Alam" yang berlangsung dari 17 Agustus hingga 5 Oktober 2025. Mengusung konsep “The First Portable Urban Art Gallery in Indonesia”, pameran ini berada di kawasan Sudirman 7.8, Jakarta. LQID dirancang sebagai third place yang memadukan seni, desain, musik, dan interaksi sosial, sekaligus mengaktifkan ruang publik kota.
“LQID Creative Space adalah perwujudan ruang kreatif yang terbuka, fleksibel, dan relevan dengan gaya hidup urban. Kami ingin menghapus jarak antara seni dan publik, menghadirkannya langsung di ruang-ruang sehari-hari,” pungkas CEO LQID Creative Space, Wilbert J. Deil.
Pameran bertajuk "Dentuman Alam" (dalam bahasa Indonesia) dengan judul asli Organic Rhytm menghadirkan karya kolaborasi dua seniman lintas negara, yakni Popo Mangun (Indonesia) dan Low Moromi (Jepang), di bawah kurasi Gie Sanjaya.
Menurut Gie Sanjaya, melalui catatan kuratorialnya yang berjudul Organic Rhythm mempertemukan dua seniman dari latar geografis yang berbeda, namun disatukan oleh kepekaan terhadap denyut kehidupan alam dan spiritual. Pameran ini bukan sekadar pertemuan gaya, melainkan dialog antara lanskap batin dan memori leluhur, antara tubuh dan bumi, antara keheningan dan ritme.
Karya Low Moromi terinspirasi oleh konsep Yu-un, lanskap mental yang meminjam bentuk awan sebagai simbol waktu, ruang, dan rasa. Estetika Jepang yang ia hadirkan bukan hanya visual, tetapi juga psikis dan spiritual, menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan dan kekuatan dalam keheningan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, Popo Mangun menghadirkan energi mentah tropis dengan mitos, simbol, dan geometri sakral Nusantara. Fragmen tenun, ukiran, hingga guratan menyerupai bahasa purba muncul bukan sebagai ornamen, tetapi sebagai mantra visual yang lahir dari tubuh, ritual, dan pengalaman.
Meski berasal dari konteks budaya yang berbeda, karya keduanya berdenyut dalam ritme yang sama, ritme alam, waktu, dan jiwa. Tidak ada dominasi ruang, melainkan ruang yang dibiarkan bernapas; sebuah perjalanan bersama antara bentuk dan makna, antara visual dan spiritual.
Berbasis ergapods, struktur prefab multifungsi, LQID menghadirkan mini galeri seni dengan pameran bergilir setiap tiga minggu, toko konsinyasi berisi karya kreatif terkurasi dari Indonesia dan Jepang, serta area speakeasy yang menyajikan craft beer dan alkohol lokal. Program lain termasuk musik SenyuMusik untuk talenta baru lintas genre, dan The Artisan Hour, workshop kreatif berdurasi 1,5–2 jam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan lokasi strategis terhubung langsung ke MRT Setiabudi Astra dan BRT Karet Sudirman, LQID mengaktifkan kawasan pejalan kaki melalui Art Trail, jalur seni dari stasiun MRT menuju galeri serta Mural Fence Project yang mengubah pagar dan fasad menjadi instalasi mural kolaboratif.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!