Lingkungan Jadi Pusat Perhatian Jelang Pertemuan Puncak Global
📅 Senin, 07 Okt 2024, 08:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Joaquin Sarmiento
PARIS - Pemanasan global. Spesies tumbuhan dan hewan yang punah. Lahan subur berubah menjadi gurun. Plastik di lautan, daratan, dan udara yang kita hirup.
Tantangan lingkungan yang mendesak ini akan menjadi sorotan selama beberapa bulan ke depan saat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyelenggarakan empat sesi utama untuk mengatasi ancaman utama terhadap planet ini.
Keanekaragaman Hayati
Yang pertama adalah "Konferensi Para Pihak" -- COP -- yang didedikasikan untuk keanekaragaman hayati yang diadakan di Cali, Kolombia, dari 21 Oktober hingga 1 November.
Sidang ini diadakan setiap dua tahun untuk membahas bagaimana dunia dapat bekerja sama untuk lebih melindungi kekayaan keanekaragaman tumbuhan dan hewan di alam.
Sebaiknya Anda baca juga:
COP16 tidak diharapkan untuk membuat terobosan baru tetapi akan mengkaji kemajuan sejak pertemuan puncak terakhir yang memberikan jaminan bersejarah bagi keanekaragaman hayati.
Di Montreal tahun 2022, negara-negara sepakat untuk menempatkan 30 persen planet ini di bawah perlindungan lingkungan pada tahun 2030 dalam pakta penting yang bertujuan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati dan memulihkan kesehatan ekosistem.
Di Cali, negara-negara akan mengajukan strategi nasional untuk memenuhi tujuan global ini, dan para pengamat berharap Kolombia sebagai tuan rumah akan menjadi model bagi negara lain untuk diikuti.
Sebaiknya Anda baca juga:
Iklim
Konferensi paling penting di dunia tentang perubahan iklim tahun ini diselenggarakan oleh Azerbaijan, bekas republik Soviet yang sangat bergantung pada ekspor minyak dan gas, dari tanggal 11 hingga 22 November.
Sementara pertemuan puncak terakhir di Dubai pada tahun 2023 menyampaikan komitmen bersejarah untuk mengalihkan dunia dari bahan bakar fosil, mendukung negara-negara miskin dengan perubahan iklim akan menjadi agenda utama tahun ini.
Pertemuan puncak tersebut, yang dikenal sebagai COP29, diharapkan akan menghasilkan perjanjian baru tentang "keuangan iklim": uang dari negara-negara kaya yang paling bertanggung jawab atas pemanasan global kepada negara-negara berkembang yang rentan terhadap perubahan iklim.
Belum ada angka yang disepakati, atau bahkan konsensus mengenai dari mana uang itu harus berasal, siapa yang harus menerimanya, dan apa bentuknya.
Namun, negara-negara berkembang mendorong lebih dari $100 miliar yang dijanjikan pada tahun 2009. Jumlah ini baru tercapai untuk pertama kalinya secara penuh pada tahun 2022.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!