Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Lavrov Tuding Zelenskyy Kriminalisasi Perundingan Damai dengan Rusia

📅 Sabtu, 04 Mar 2023, 07:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Lavrov Tuding Zelenskyy Kriminalisasi Perundingan Damai dengan Rusia Doc: Antara/Xinhua
Ket. Menlu Rusia Sergei Lavrov.

MOSKOW - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menganggap berunding dengan Moskow sebagai bentuk kejahatan, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Jumat (3/3).

Berbicara dalam Konferensi Dialog Raisina di New Delhi, Lavrov mengatakan bahwa semua menanyakan kapan Rusia siap berunding guna mengakhiri perang yang dimulai Februari 2022 itu, tetapi tidak ada yang meminta Ukraina untuk melakukan pembicaraan damai.

Dia mengingatkan sponsor utama Ukraina, yakni Barat, terus mengatakan bahwa "belum saatnya berundingkarena Ukraina harus terlebih dahulu menang di medan perang sebelum bernegosiasi."

"Dan Zelenskyy sendiri, tidak ada yang menanyai Zelenskyy, menanyakan kapan dia mau berunding. Tapi Anda seharusnya tahu bahwa September tahun laluZelenskyy menandatangani sebuah dekrit, yang menyatakan adalah perbuatan melawan hukum jika berunding dengan Rusia selama Vladimir Putin menjadi presidennya."

"Jadi bisakah Anda mengatasi masalah ini, bisakah Anda bertanya apa yang ia lakukan?" tanya Lavrov.

Dia menekankan bahwa Rusia sejauh berpuluh-puluh tahun lalu sudah memperingatkan Barat agar menghentikan ekspansi NATO dan memasok senjata kepada Ukraina untuk menyiapkan perang melawan Rusia.

Lavrovmenyinggung kalimat Presiden AS Joe Biden, Menteri Luar Negeri AS, dan Sekjen NATO Jens Stoltenbergbahwa "Rusia harus menderita kekalahan strategis di medan perang," yang sangat menentukan untuk dominasi global Barat.

"Ini pengakuan yang sangat blak-blakan, menurut saya," kata Lavrov.

Menteri luar negeri Rusia itu mengatakan negara-negara Barat berusaha memasukkan situasi di Ukraina dalam deklarasi pertemuan tingkat menteri G-20, tetapi tidak berhasil karena kelompok tersebut tidak pernah memasukkan situasi konflik-konflik lain dalam deklarasinya, termasuk di Irak, Libya, Afganistan, atau Yugoslavia.

"G-20 dibentuk tahun 1999 pada tingkat menteri keuangan dan direktur bank sentral...tidak ada yang peduli kepada selain keuangan, dan kebijakan ekonomi makro, untuk itulah G-20 dibentuk."

"Belakangan ini ketika hal itu tak lagi penting yang justru sekarang dilakukan Barat, dengan keyakinan itu benar, ketika Rusa membela diri setelah bertahun-tahun berseru, tidak ada yang menarik bagi G-20 kecuali Ukraina. Sungguh memalukan, dan kebijakan ini akan gagal," tandasLavrov.

Rusia mengarahkan kembali kebijakan energinya 'pada mitra yang dapat diandalkan'

Lavrov mengatakan setelah perang di Ukraina usai, Rusia tidak akan pernah mengandalkan Barat, dan sebagai gantinya akan fokus membangun hubungan dengan mitra-mitra yang "dapat diandalkan".

"Perang, yang sedang kami coba hentikan, yang dilancarkan terhadap kami dengan memanfaatkan rakyat Ukraina, tentu saja mempengaruhi Rusia, termasuk kebijakan energi, kami tidak akan bergantung lagi kepada mitra mana pun di Barat," kata Lavrov.

Sang mnenteri menambahkan bahwa Moskow "tidak akan lagi membiarkan pipanya meledak lagi. Dia merujuk kepada peristiwa September lalu tentang ledakan jalur pipa gas Nord Stream yang melalui mana Rusia menyalurkan gas ke Eropa.

Ia mengatakan Moskow meminta penyelidikan untuk insiden Nord Stream tetapi langsung ditolak, bahkan Amerika Serikat menyebutnya "omong kosong."

Ia mengatakan Jerman "dipermalukan" "secara fisik dan moral dan banyak hal lain" ketika Jerman menyetujui keadaan seperti itu, karena kepentingan intinya telah dipengaruhi insiden ini.

Menurut Lavrov, "Semuanya, yang terjadi sekarang adalah untuk mengecilkan Eropa menjadi bawahan Amerika Serikat, untuk melemahkan daya saing Eropa," dan "untuk merusak" hubungan ekonomi antara Rusia dan Uni Eropa.

"Biarlah. Jika ini adalah pilihan mereka sebagaimana retorika dan narasinya, bahwa apa yang terjadi adalah sangat menentukan masa depan Barat dari sudut pandang kemampuannya untuk mendominasi, maka pantaslah," kata dia.

Kebijakan energi Rusia akan berorientasi pada mitra-mitra yang bisa diandalkan, dan India serta Tiongkok "pasti" termasuk mitra-mitra seperti ini, kata Lavrov.

Hubungan Tiongkok-India

Menanggapi kekhawatiran India mengenai pemulihan hubungan Rusia-Tiongkok, Lavrov mengatakan Moskow berhubungan baik dengan Tiongkok dan India.

Ia mengatakan hubungan dengan India ditandaskan dalam dokumen-dokumen resmi sebagai "kemitraan strategis yang sangat istimewa."

"Saya tidak tahu apa ada negara lain yang memiliki status yang sama di atas kertas, secara resmi, dengan sahabat kami India, tetapi inilah yang kami yakini, yang mencerminkan kenyataan. Baik dalam ekonomi, teknologi, kerja sama militer, kerja sama militer teknis, budaya, hubungan kemanusiaan, maupun hubungan pendidikan," kata Lavrov.

Ia menambahkan saat ini Moskow sedang memiliki tingkat hubungan terbaik dengan Beijing, dan akan menarik jika Tiongkok dan India bersahabat.

Lavrov mengenang bahwa atas prakarsa pendahulunyalah format RIC -- Rusia, India, Tiongkok-- dibentuk yang akhirnya berkembang menjadi BRICS -- Brazil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan.

Ia menegaskan ternyata BRICS lebih populer, dan puluhan negara ingin bergabung, namun troika RIC terus berfungsi, ada pertemuan tahun lalu, dan satu lagi direncanakan tahun ini untuk tingkat menteri.

"Menurut saya, semakin mereka (Tiongkok dan India) sering bertemu, maka semakin baik," sambung Lavrov.

Lavrov menyebut BRICS sebagai platform lain bagi Tiongkok dan India untuk membahas masalah kepentingan bersama, di samping Organisasi Kerjasama Shanghai.

"Kami sangat mendukung India bergabung dalam Organisasi Kerjasama Shanghai, termasuk dari sudut pandang menyediakan platform lain di mana India dan Tiongkok bisa bekerja sama dan mencari solusi bersama," kata Lavrov.

Dia menambahkan bahwa yang harus dikhawatirkan adalah aktivitas AS di wilayah tersebut karena Washington sedang berusaha mempromosikan format anti-Rusia dan anti-Tiongkok.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.