Ini Lima Tren Infrastruktur Digital yang Membentuk Ekonomi Digital Indonesia Menuju 2026
📅 Senin, 22 Des 2025, 19:30 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Antara
JAKARTA - Ekonomi digital Indonesia tengah memasuki fase baru. Setelah bertahun-tahun membangun kapasitas dasar, fokus kini bergeser menuju infrastruktur yang siap untuk AI, ketahanan yang dirancang sejak awal (resilience by design), kedaulatan data, distributed intelligence di edge, serta model hybrid multi-cloud sebagai standar operasional.
Indonesia merupakan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai gross merchandise value (GMV) yang diperkirakan mencapai sekitar 90 miliar dollar AS pada 2024 dan diproyeksikan terus tumbuh kuat hingga akhir dekade ini.
Seiring percepatan adopsi AI dan semakin matangnya regulasi melalui Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 (PP 71), perusahaan perlu meninjau ulang cara mereka merancang infrastruktur digital, bukan hanya untuk skala, tetapi juga untuk kepercayaan, kinerja, dan integrasi regional.
“Berikut lima tren yang membentuk lanskap infrastruktur digital Indonesia menuju 2026,” kata Managing Director, Equinix Indonesia Haris Izmee, melalui keterangannya pada hari Senin (22/12).
Tren 1: Dari Infrastruktur Berdensitas Rendah menuju Infrastruktur Berdensitas Tinggi yang Siap AI
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama bertahun-tahun, sebagian besar beban kerja perusahaan di Indonesia dijalankan pada rak berdensitas rendah, sekitar 2–5 kW. Model ini kini tidak lagi memadai. AI, analitik tingkat lanjut, dan pemrosesan real-time mendorong kepadatan daya menuju 10–12 kW per rak, sementara beban kerja AI dan high-performance computing (HPC) kerap membutuhkan 30 kW atau lebih.
“Perubahan ini mendorong meningkatnya kebutuhan akan lingkungan berdensitas daya tinggi serta solusi pendinginan generasi berikutnya, termasuk desain yang siap untuk liquid cooling,” ungkapnya.
Secara global, infrastruktur AI merupakan salah satu segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam investasi pusat data, dan Indonesia tidak terkecuali. Perusahaan ingin mendukung beban kerja ini sekaligus memastikan data sensitif tetap berada di dalam negeri serta kinerja yang konsisten dengan latensi rendah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di seluruh Indonesia, pusat data merespons dengan memperluas kapasitas berdensitas tinggi serta menghadirkan interkoneksi privat ke penyedia cloud dan mitra ekosistem. Fasilitas seperti Equinix JK1 di Jakarta, yang diluncurkan pada 2025, dirancang untuk mendukung kepadatan yang siap AI dengan interkoneksi privat berlatensi rendah. Hal ini memungkinkan organisasi menskalakan beban kerja AI sambil tetap menjaga data berada dalam batas wilayah nasional.
“Perubahan ini menegaskan pentingnya roadmap densifikasi yang terstruktur, mencakup kesiapan pendinginan dan konektivitas privat, untuk memastikan peningkatan skala yang amandan efisien,” terangnya.
Tren 2: Ketahanan sebagai Standar Dasar, Diperluas melalui DR Regional
Sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia semakin beroperasi dengan ekspektasi layanan yang selalu aktif (always-on). Downtime tidak lagi dapat diterima untuk e-commerce, fintech, gaming, maupun layanan digital real-time. 1 Hal ini tercermin dari meningkatnya investasi di kawasan, dengan pasar pusat data Asia Tenggara diperkirakan tumbuh dari sedikit di atas 10 miliar dollar AS pada 2023 menjadi hampir 18 miliar dollar AS menjelang akhir dekade ini.
Perusahaan kini memperluas strategi ketahanan melampaui satu wilayah metropolitan. Arsitektur yang mencakup Jakarta, Batam, dan Surabaya semakin umum, dengan lokasi regional seperti Singapura dan Malaysia dimanfaatkan sebagai situs disaster recovery untuk beban kerja yang tidak diatur secara ketat.
“Yang terpenting, desain ini mengandalkan interkoneksi privat, bukan internet publik, sehingga memungkinkan pencapaian recovery time objective (RTO) dan recovery point objective (RPO) yang lebih ketat, sekaligus mengurangi risiko kemacetan dan keamanan,” papar Haris.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!