Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Indonesia Pasif, Australia Curi Peluang Investasi di Sektor EBT

📅 Jumat, 23 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Indonesia Pasif, Australia Curi Peluang Investasi di Sektor EBT Doc: ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA
Ket. Energi Baru Terbarukan (EBT)

JAKARTA - Komitmen Australia untuk mengekspor energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura dengan membangun kabel bawah laut sepanjang ribuan kilometer menjadi bukti nyata dari ketidakpedulian Indonesia terhadap potensi energi terbarukan di Tanah Air.

Anggota Ikatan Ahli Lingkungan Hidup (IALHI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Andi Sungkowo, di Yogyakarta, Kamis (22/8), mengatakan Singapura yang secara historis lebih dekat dengan Indonesia sebagai negara zamrud khatulistiwa, malah mengimpor energi surya dari Australia yang jaraknya berkali-kali lipat dari Indonesia.

"Ironisnya, di masa depan, Indonesia mungkin terpaksa membeli energi terbarukan dari Australia, sementara kita berada di khatulistiwa, wilayah yang memiliki akses langsung ke sinar matahari sepanjang tahun," kata Andi.

Andi menjelaskan Indonesia saat ini dihadapkan pada risiko besar, termasuk pajak karbon global yang semakin ketat akibat polusi yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kebergantungan pada energi fosil tidak hanya membuat Indonesia tertinggal dalam persaingan global, tetapi juga memaksa pemerintah untuk mengimpor energi terbarukan dari negara lain, seperti Australia.

Situasi tersebut sungguh miris. Di saat negara-negara maju seperti Jepang dan kota-kota di Eropa memiliki indeks kualitas udara (AQI) yang sangat baik, sekitar 16, di banyak kota di Indonesia, terutama di Jakarta, AQI mencapai angka 170, menjadikannya salah satu kota paling tercemar di dunia.

Bahkan Bali, yang terkenal dengan keindahan alamnya, juga tidak luput dari polusi. Di Denpasar, AQI berkisar antara 40-45, sementara di Pantai Kuta sekitar 16, setara dengan kota-kota maju di dunia.

Alih-alih mengambil langkah untuk memperbaiki keadaan, pemerintah justru terus membangun PLTU. Jakarta kini dikepung oleh 16 PLTU dari Banten hingga Cirebon, menambah beban polusi yang sudah mengkhawatirkan.

Padahal, Australia siap berinvestasi sebesar 16 miliar dollar AS untuk proyek EBT mereka, sementara kita tertinggal jauh dalam hal kemandirian energi terbarukan.

Situasi ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya kemauan politik, tetapi juga adanya pengecualian yang tidak masuk akal, seperti yang diberikan kepada PLN dari kewajiban Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Proyek PLTS Cirata misalnya yang menggunakan teknologi dari Tiongkok, sementara pelanggaran ini dibiarkan tanpa ada tindakan tegas dari pemerintah.

Menurut Andi, dampak dari polusi yang terus meningkat ini sangat nyata. Biaya pengobatan untuk penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) terus membengkak, dan usia harapan hidup masyarakat pun semakin pendek.

"Di Jakarta, jarak pandang semakin berkurang, bahkan untuk melihat gedung di jarak 100 meter saja sudah kelabu, seolah-olah tertutup kabut. Kerusakan ini mengindikasikan betapa mendesaknya kebutuhan akan Ibu Kota Negara (IKN) baru, jauh dari polusi yang sudah mendarah daging di Jakarta," kata Andi.

Kalau pemerintah benar-benar peduli dengan kesehatan masyarakat dan dampak polusi, seharusnya fokus diarahkan pada pembangunan EBT seperti tenaga surya, bukan PLTU.

"Saatnya Indonesia berbenah dan mengejar ketertinggalan dalam transisi energi terbarukan, sebelum kita terpaksa membayar mahal untuk kecerobohan ini," papar Andi.

Begitu pula dari aspek keamanan, impor model Singapura dari Australia juga berisiko terhadap keamanan infrastruktur energi bawah laut.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.