
Harga Cabai Makin Pedas Saja Jelang Ramadan, Pemerintah Harus Segera Intervensi Pasar Biar Masyarakat Tak Terbebani
Harga Cabai Kian Melambung
Foto: antaraJAKARTA - Harga cabai terus naik menjelang Ramadan yang dikhawatirkan makin membebani ekonomi masyarakat. Karenanya, pemerintah harus segera melakukan operasi pasar harga cabai agar masyarakat tenang menghadapi bulan suci Ramadan.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Cindy Monica mengatakan kenaikan harga cabai menjelang Ramadan sudah menjadi tren tahunan. Meski demikian,pemerintah semestinya memiliki mekanisme lebih efektif untuk menstabilkan harga. "Saya meminta kementerian terkait untuk segera turun tangan, baik melalui operasi pasar maupun penguatan rantai distribusi,” ujar Cindy di Jakarta, Rabu (27/2).
Legislator Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Sumatera Barat II (Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Pasaman, Pasaman Barat, Kota Bukittinggi, Kota Pariaman, dan Kota Payakumbuh) itu mengungkapkan, harga cabai rawit merah di sejumlah daerah telah menembus 90.000 rupiah/ kilogram (kg).
Lonjakan harga cabai dinilai dipengaruhi faktor cuaca yang mengganggu hasil panen, peningkatan permintaan, hingga keterbatasan pasokan dari sentra produksi. Untuk itu, dia mendesak pemerintah pusat dan daerah bersinergi mengantisipasi lonjakan harga cabai.
“Kita perlu memastikan distribusi berjalan lancar dan petani mendapatkan insentif yang layak tanpa memberatkan konsumen. Pemerintah harus memperkuat peran lembaga terkait dalam menjaga keseimbangan harga,” ungkap Cindy.
Dia mengajak masyarakat untuk tetap bijak dalam berbelanja dan mendukung produk lokal guna memperkuat ketahanan pangan nasional. Terutama menjelang Ramadan, diperlukan langkah konkret dalam menjalankan ibadah tanpa dibayang-bayangi lonjakan harga kebutuhan pokok.
Operasi Pasar
Pemerintah mulai menggelar operasi pasar untuk mengendalikan harga sejak 24 Februari lalu. Upaya pemerintah menghadirkan pangan pokok agar lebih dekat ke masyarakat dibuktikan dengan peluncuran Operasi Pasar Pangan Murah.
OP Pangan Murah yang dipusatkan via jaringan Kantor PT Pos Indonesia se-Indonesia ini menjadi penambah intervensi pasar dalam bentuk Gerakan Pangan Murah (GPM) yang telah reguler dilaksanakan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama segenap pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi mengungkapkan, sejak awal pekan ini operasi pasar dimulai di 215 Kantor Pos yang merupakan titik-titik yang ramai terlebih dahulu. "Kita siapkan juga operasi pasar di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota. Hari ini juga secara serentak dinas-dinas yang urusannya pangan pertanian dan perdagangan melakukan hal yang sama. Tujuannya supaya harga tetap baik," jelasnya.
OP pangan murah ini ditargetkan dapat mencapai 4.500 titik dengan jaringan PT Pos Indonesia. Di samping itu, turut didukung pula Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian di 88 titik lokasi. PT Charoen Pokphand Indonesia dengan 2.200 gerai dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dengan 553 gerai turut mendukung dengan menjual daging ayam ras beku dengan harga khusus 34.000 rupiah per ekornya.
Pelaksanaannya direncanakan ada setiap hari mulai pukul 08.00-11.00 waktu setempat sampai 29 Maret 2025 atau H-3 Idulfitri 1446 Hijriah. Adapun pangan pokok strategis yang diprioritaskan dijual dengan harga khusus antara lain Minyakita, bawang putih, gula konsumsi, daging kerbau beku, dan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan). Pangan jenis lain juga turut disediakan.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Tag Terkait:
Berita Trending
- 1 Terkenal Kritis, Band Sukatani Malah Diajak Kapolri Jadi Duta Polri
- 2 Pangkas Anggaran Jangan Rampas Hak Aktor Pendidikan
- 3 Akses Pasar Global Makin Mudah, BEI Luncurkan Kontrak Berjangka Indeks Asing
- 4 Bangun Infrastruktur yang Mendorong Transformasi Ekonomi
- 5 Guterres: Pengaturan Keamanan Global "Berantakan"