Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Apa yang Mendorong Manusia Purba Meninggalkan Afrika?

📅 Kamis, 30 Nov 2023, 06:10 WIB | Oleh:
Apa yang Mendorong Manusia Purba Meninggalkan Afrika? Doc: Ninara/Wikimedia Commons
Ket. Sebuah diorama di Museum Nasional Nairobi menggambarkan permainan hominin awal dengan peralatan. Tapi nenek moyang kita yang mana yang pertama kali menyembelih hewan?

Berdasarkan simulasi, perubahan iklim mengarahkan pergerakan antar benua manusia modern awal. Mereka keluar dari Afrika setidaknya terjadi pada 100.000 tahun yang lalu ke benua Eurasia.

Dalam buku teks sejarah selalu disebutkan bahwa antara 70.000 dan 60.000 tahun yang lalu nenek moyang manusia modern paling awal melakukan perjalanan keluar Afrika. Namun alasan di balik teori periode waktu yang telah menjadi dogma bagi dunia ilmu pengetahuan masih diperdebatkan.

Faktor-faktor yang mendorong eksodus massal ini, kapan terjadinya, dan apakah terjadi lebih dari satu peristiwa migrasi besar, telah lama menjadi bahan perdebatan. Para ahli menyampaikan bukti dan teori masing-masing yang menambah ramai perdebatan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnalNaturepada 21 September 2016 mencoba memperjelas peristiwa yang terjadi di masa lalu. Mereka melaporkan fluktuasi iklim yang dramatis menciptakan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan dan memicu gelombang migrasi keluar Afrika secara berkala setiap 20.000 tahun atau lebih, dimulai lebih dari 100.000 tahun yang lalu.

Temuan ini memundurkan waktu kedatangan manusia paling awal di Eropa antara 30.000 hingga 400.000 tahun. Hal ini sekaligus memberi petunjuk penting tentang apa yang membuat manusia purba keluar dari Afrika, masuk ke Eurasia, dan sekitarnya.

"Apa yang tidak dapat kami dukung adalah bahwa pasti ada satu peristiwa luar biasa di bumi antara 70.000 hingga 60.000 tahun yang lalu, yang kurang lebih merupakan skenario standar untuk keluarnya Afrika," kata ilmuwan iklim yang berbasis di Universitas Hawaii di Manoa dan penulis utama studi ini, Axel Timmermann.

"Studi baru ini menunjukkan bahwa ada banyak peluang untuk migrasi manusia keluar Afrika, dan peluang tersebut dimulai setidaknya 100.000 tahun yang lalu," kata Michael Petraglia, arkeolog di Max Planck Institute for the Science of Human History di Jena, Jerman, yang tidak terlibat dalam penelitian ini seperti dikutip sapiens.org.

"Segala sesuatu yang kami temukan secara arkeologis masuk akal jika dibandingkan dengan simulasi iklim yang dilaporkan studi terbaru," imbuh dia.

Timmermann dan rekan penulis Tobias Friedrich, seorang rekan pascadoktoral juga di Universitas Hawaii di Manoa, mengembangkan salah satu model simulasi iklim. Caranya dengan mengintegrasikan data paleoklimatik di seluruh siklus glasial dan interglasial, vegetasi, dan migrasi manusia.

Dengan memodelkan variabilitas iklim selama 125.000 tahun terakhir dan memperhitungkan perubahan permukaan laut dan perubahan iklim mendadak dalam skala milenial atau seribu tahun, tim mempelajari bagaimana periode hangat dan basah di Afrika utara menyebabkan vegetasi subur dan kondisi lain yang cocok bagi mamalia dan pemburu pengumpul untuk bergerak ke utara dan timur.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa migrasi manusia keluar dari Afrika dan melintasi Semenanjung Sinai dan Laut Merah dekat Bab-el-Mandeb, bukanlah peristiwa tunggal seperti yang sering diperkirakan, namun terjadi secara bergelombang, dan setiap 20.000 tahun atau saat poros Bumi bergoyang yang menyebabkan perubahan iklim dan vegetasi di wilayah tropis dan subtropis," tegas Timmermann.

"Dan Semenanjung Arab memungkinkan Homo sapiens meninggalkan Afrika bagian timur laut dan memulai perjalanan besar mereka ke Asia, Eropa, Australia, dan akhirnya ke Amerika," lanjut dia.

Studi tersebut menemukan bahwa manusia melakukan perjalanan keluar Afrika dalam empat gelombang melintasi Semenanjung Arab dan wilayah Levant (Mediterania timur). Gelombang ini terjadi antara 106.000 hingga 94.000 tahun yang lalu.

Selanjutnya terjadi lagi pada 89.000 hingga 73.000 tahun yang lalu, 59.000 hingga 47.000 tahun yang lalu, dan 45.000 hingga 29.000 tahun yang lalu. Hasil ini selaras dengan semakin banyaknya data arkeologi dan fosil yang diperoleh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Diserang Rudal Iran, Bandar...
Luar Negeri
Warga Singapura Makin Panja...
Luar Negeri
Disapu Topan Jangmi, 23 War...

Babel Gatiskan 6.000 Sertifikat Halal

42 menit yang lalu | Sujar

Daerah
Babel Gatiskan 6.000 Sertif...
Luar Negeri
Bandara Dihantam Rudal, Kuw...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.