Cafu Puji Warisan Neymar untuk Brasil, Ancelotti Siapkan Generasi Baru Selecao

Kamis, 05 Nov 2026, 06:00 WIB

SAO PAULO – Mantan kapten tim nasional Brasil, Cafu, menilai Neymar tetap meninggalkan warisan membanggakan bagi sepak bola negaranya. Meski mengakhiri karier internasional setelah kegagalan Brasil di Piala Dunia tahun ini, perjalanan sang penyerang bersama Selecao dinilai layak dikenang sebagai sebuah kisah sukses.

Neymar, pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah timnas Brasil, menyatakan pada akhir Juli bahwa dirinya tidak lagi ingin membela tim nasional. Pernyataan itu muncul beberapa pekan setelah ia mengisyaratkan bahwa perjalanan internasionalnya telah berakhir menyusul kekalahan Brasil dari Norwegia pada babak 16 besar Piala Dunia.

Ket. Foto: Neymar. — Sumber: FIFA

Cafu, pemain dengan jumlah penampilan terbanyak sepanjang sejarah timnas Brasil, memahami bahwa setiap pemain pada akhirnya harus mengakhiri perjalanan bersama negaranya.

"Setiap pemain pasti akan sampai pada akhir siklus bersama tim nasional," kata Cafu kepada Reuters, Selasa.

"Hal terpenting adalah Neymar menjalani siklus yang sukses. Dia meninggalkan jejak dan menciptakan sejarah bersama Brasil dalam sepak bola dunia. Catatan statistiknya untuk Brasil luar biasa. Masa pengabdiannya bersama tim nasional sangat terhormat," ujarnya.

Neymar tercatat tampil dalam empat edisi Piala Dunia. Sepanjang 130 pertandingan bersama Brasil, pemain tersebut mencetak 80 gol dan menyumbangkan 58 assist.

Namun, koleksi gelar senior internasionalnya relatif terbatas. Satu-satunya trofi utama yang berhasil diraih Neymar bersama tim nasional senior Brasil adalah Piala Konfederasi 2013.

Kekalahan dari Norwegia menjadi salah satu hasil paling mengecewakan dalam sejarah sepak bola Brasil. Untuk pertama kalinya sejak 1990, Selecao tersingkir dari Piala Dunia sebelum mencapai perempat final.

Hasil tersebut sekaligus memperpanjang penantian Brasil untuk meraih gelar juara dunia keenam. Negara yang telah lima kali menjadi kampiun itu kini harus mengalihkan perhatian kepada pembangunan tim baru menuju Piala Dunia 2030.

Cafu, yang menjadi bagian dari skuad juara dunia Brasil pada 1994 dan 2002, optimistis masa depan Selecao akan lebih baik di bawah arahan Carlo Ancelotti.

Mantan bek kanan tersebut pernah bekerja bersama Ancelotti ketika masih bermain di AC Milan. Karena itu, Cafu memahami kualitas pelatih asal Italia tersebut dan yakin proyek jangka panjang yang sedang dibangun dapat membawa perubahan.

"Saya sepenuhnya yakin bahwa 2030 akan menjadi sesuatu yang sangat berbeda," kata Cafu.

"Brasil akan memiliki peluang dan kesempatan nyata untuk menjuarai Piala Dunia tersebut. Ini merupakan siklus baru, proyek baru. Ancelotti sekarang memiliki waktu untuk bekerja dan menerapkan sistem taktiknya," tuturnya.

Ancelotti mulai menangani Brasil pada tahun 2025 dan tetap dipercaya memimpin tim hingga siklus Piala Dunia 2030, meskipun Selecao gagal memenuhi harapan pada turnamen tahun ini.

Pelatih berpengalaman tersebut mulai membangun kembali kekuatan Brasil dengan memberikan kesempatan kepada sejumlah pemain baru.

Dalam rangkaian pertandingan persahabatan setelah Piala Dunia, hampir dua pertiga pemain yang masuk skuad Brasil di turnamen tersebut tidak mengikuti tur pertama tim. Sebanyak delapan pemain bahkan mencatatkan debut internasional bersama Selecao.

Pekan lalu, Ancelotti kembali mengumumkan skuad eksperimental untuk menghadapi Jepang dan Singapura dalam pertandingan persahabatan November. Kali ini, ia memasukkan lima pemain yang belum pernah memperkuat tim nasional senior Brasil.

Langkah tersebut mendapat dukungan Cafu. Menurutnya, regenerasi merupakan bagian penting dalam membangun kembali kekuatan Brasil, terutama setelah periode yang mengecewakan.

"Proses pembangunan kembali selalu bernilai positif, terutama ketika menyangkut tim nasional Brasil," ujar Cafu.

"Dengan kehadiran pemain-pemain muda bersama mereka yang lebih berpengalaman, Brasil bisa membangun perpaduan dan chemistry yang tepat."

Bagi Cafu, berakhirnya perjalanan Neymar bukan berarti Brasil kehilangan arah. Selecao kini memasuki babak baru dengan mengandalkan perpaduan pemain muda dan senior, sementara Ancelotti mendapat kesempatan membangun fondasi tim untuk kembali bersaing di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.