Geopolitik Berubah, Gen Z Diminta Kuasai Teknologi dan Jaga Kedaulatan Digital

Kamis, 05 Nov 2026, 06:15 WIB

Jakarta - Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Soekarno Rommy Soekarno mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), bahwa lanskap geopolitik abad ke-21 telah mengalami pergeseran mendasar. Persaingan kekuatan dunia tidak lagi hanya berpusat pada perebutan wilayah dan kekuatan militer konvensional, tetapi juga meluas ke ruang digital dan antariksa.

"Dunia sedang berubah. Geopolitik hari ini bukan lagi sekadar perebutan wilayah, kekuatan militer, atau sumber energi. Persaingan kekuatan dunia telah memasuki dua ruang baru, yaitu ruang digital dan ruang antariksa. Inilah geopolitik abad ke-21," kata Rommy dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Ket. Foto: Dokumentasi Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik Bagi Gen-Z bertajuk Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11). — Sumber: Antara

Pernyataan tersebut disampaikan Rommy saat memberikan materi dalam Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Gen Z bertajuk "Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia" di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (4/11).

Terkait kedaulatan digital, Rommy menyoroti kepemilikan data, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), semikonduktor, dan infrastruktur komputasi yang kini menjadi sumber kekuatan strategis suatu negara.

Ia mengingatkan Indonesia agar tidak kehilangan kendali atas aset teknologi dan informasi domestik di tengah dominasi platform global.

"Pertanyaannya sederhana, siapa yang menguasai data kita? Siapa yang mengendalikan teknologi kita? Dan siapa yang menguasai infrastruktur digital Indonesia? Jangan sampai Indonesia merdeka secara geografis, tapi takluk secara digital," ujarnya.

Karena itu, Rommy mendorong penguatan kapasitas teknologi nasional, mulai dari ketahanan keamanan siber, kemandirian dalam penguasaan mahadata (big data), hingga pengembangan riset terpadu di bidang kecerdasan buatan.

Pada pilar kedua, ia menyoroti geopolitik antariksa seiring dengan meningkatnya jumlah satelit orbit rendah (low Earth orbit/LEO) yang mengitari wilayah Indonesia.

Meski memberikan manfaat besar bagi sektor telekomunikasi dan pertahanan, kehadiran konstelasi satelit asing dinilai memerlukan regulasi perlindungan yang ketat untuk menjaga kerahasiaan komunikasi dan keamanan nasional.

"Dalam hukum internasional, ruang antariksa tidak dapat diklaim sebagai wilayah kedaulatan negara. Namun, Indonesia tetap harus melindungi kepentingan nasionalnya melalui teknologi, regulasi, dan kemampuan antariksanya sendiri," kata Rommy.

Menjawab kedua tantangan tersebut, Rommy menekankan pentingnya peran Gen Z agar tidak hanya menjadi konsumen pasif atau target pasar perusahaan multinasional.

"Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar teknologi dunia. Indonesia harus menjadi pencipta, harus menjadi pengembang teknologi. Kita membutuhkan generasi muda yang menguasai AI, ilmu politik, hukum internasional, teknologi satelit, dan ekonomi digital," ujarnya.

Ia juga mengajak sivitas akademika UBK mengaktualisasikan ajaran Trisakti Bung Karno, yakni berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, ke dalam perkembangan teknologi modern guna melahirkan figur-figur "Soekarno muda".

"Kemerdekaan sejati bukan hanya kemampuan menjaga wilayah, tapi juga kemampuan menentukan masa depan bangsa melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagi saya, jangan sampai Indonesia berdaulat di bumi, tapi kehilangan kendali masa depannya di ruang digital dan antariksa," kata Rommy.

Kecerdasan Buatan

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI periode 2022–2023 Andi Widjajanto memaparkan ancaman disrupsi teknologi melalui perkembangan komputasi kuantum atau quantum day (Q-Day) serta teori ketidakpastian yang dikenal sebagai black swan atau angsa hitam.

Andi menjelaskan persaingan ekonomi dan geopolitik global saat ini semakin digerakkan oleh kecerdasan buatan. Namun, dunia juga diperkirakan segera menghadapi era Q-Day, yang diprediksi terjadi pada rentang 2031 hingga 2037, ketika kemampuan komputasi kuantum berkecepatan tinggi berpotensi menembus sistem keamanan dan enkripsi konvensional.

"Q-Day, kuantum, adalah kemampuan komputasi superduper cepat, sehingga semua kode yang ada sekarang—termasuk password individual di email, WhatsApp, hingga GoPay teman-teman—bisa dibobol. Saat itu, every code is breakable," ujar Andi.

Mantan Sekretaris Kabinet itu menjelaskan bahwa ketika Q-Day terjadi, sistem keamanan pada berbagai perangkat dan teknologi enkripsi yang digunakan saat ini berpotensi tidak lagi memadai sehingga perlu beralih ke teknologi baru, termasuk komputasi kuantum optik.

Ia mencontohkan Singapura yang telah menginvestasikan 50 juta dolar AS per tahun untuk mendanai laboratorium kuantum di National University of Singapore (NUS) yang dipimpin ilmuwan asal Indonesia.

Di hadapan mahasiswa UBK, Andi mengaitkan perkembangan teknologi tersebut dengan posisi Gen Z yang lahir dan tumbuh di tengah berbagai krisis global yang tidak terduga atau dikenal sebagai fenomena angsa hitam. Sejumlah peristiwa yang disebutnya antara lain serangan terhadap World Trade Center (WTC) pada 2001, krisis keuangan global 2008, pandemi COVID-19 pada 2020, hingga ancaman perang energi saat ini.

"Teman-teman Gen Z lahir ketika angsa-angsa hitam ini terbang, lahir di masa susah. Oleh karena itu, pembelajaran dan penguasaan iptek harus dilakukan jauh lebih keras ke depan," tutur Andi.

Andi juga berpesan agar mahasiswa UBK tidak hanya menguasai teknologi digital seperti AI, tetapi berani mengambil tanggung jawab historis untuk menuntaskan agenda demokrasi kebangsaan.

Ia merefleksikan perjalanan Generasi X yang berhasil menginisiasi Reformasi 1998, tetapi dinilai belum menuntaskan konsolidasi demokrasi secara menyeluruh.

"Kami generasi X berhasil menginisiasi reformasi, tetapi kami gagal menuntaskannya, tiba-tiba reformasinya berbelok. Itu utang generasi saya. Saya berharap penuntasan konsolidasi demokrasi ini bukan kami yang melakukannya, tapi kalian, generasi Z. Kampus UBK dengan memakai nama Bung Karno harus menjadi garda terdepan," kata Andi.

Kegiatan pelatihan tersebut turut dihadiri dosen UBK yang juga Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan sekaligus inisiator acara, Hasto Kristiyanto.

Hadir pula sejumlah pakar sebagai narasumber, antara lain anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana dan dosen sekaligus peneliti Universitas Pertahanan RI Margaretha Hanita. Perwakilan mahasiswa UBK Kurnia Aryasatya dan Chrisostomos Inuhan turut hadir sebagai penanggap.

  • Kejahatan Ruang Digital

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.