Peretasan Kripto, Bagaimana Korea Utara Bisa Mencuri $6 Miliar dalam 20 Menit?

Minggu, 01 Nov 2026, 00:06 WIB

PYONGYANG - Perampokan mata uang kripto terbesar dalam sejarah industri aset digital mengguncang dunia keuangan. Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, menjadi sasaran serangan siber yang diduga dilakukan kelompok peretas Korea Utara. Tak tanggung-tanggung, aset digital senilai lebih dari 6 miliar dolar AS raib hanya dalam waktu sekitar 20 menit.

Serangan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan besar mengenai keamanan mata uang kripto. Sebab, selama ini teknologi blockchain dikenal memiliki sistem keamanan yang sangat kuat dan sulit ditembus.

Ket. Foto: Serangan tersebut tidak hanya menyasar satu jenis mata uang kripto. Berdasarkan laporan TRM Labs, aset yang dicuri berasal dari dompet yang menyimpan Ethereum, Bitcoin, Tron, Solana, serta enam mata uang kripto lainnya. — Sumber: Istimewa

Dikutip dari Popular Mechanics, Jumat (30/10), perusahaan riset kripto TRM Labs melaporkan bahwa lebih dari 6,36 miliar dolar AS aset digital dipindahkan dari 10 jaringan blockchain dalam kurun waktu hanya 20 menit.

TRM Labs mengaitkan serangan tersebut dengan TraderTraitor, kelompok peretas yang memiliki hubungan dengan Korea Utara.

Binance mengonfirmasi telah terjadi pencurian aset digital dari sejumlah dompet pengguna. Perusahaan itu juga menyatakan telah mengembalikan sebagian dana yang hilang ke akun-akun terdampak.

Serangan tersebut tidak hanya menyasar satu jenis mata uang kripto. Berdasarkan laporan TRM Labs, aset yang dicuri berasal dari dompet yang menyimpan Ethereum, Bitcoin, Tron, Solana, serta enam mata uang kripto lainnya.

Seluruh saldo tersebut kemudian dipindahkan ke sejumlah akun yang dikendalikan para penyerang.

Kabar pembobolan ini turut mengguncang pasar kripto. Harga Bitcoin sempat terkoreksi beberapa persen setelah informasi pencurian mencuat, meskipun masih bertahan di atas level terendahnya pada musim panas tahun lalu.

Binance menyatakan tengah melakukan investigasi dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengidentifikasi pelaku.

"Tim kami bekerja tanpa henti untuk menyelesaikan masalah ini dengan aman dan menyeluruh," tulis Binance melalui unggahan di platform X.

"Kami bekerja sama erat dengan mitra penegak hukum untuk mengonfirmasi identitas para penjahat ini dan membawa mereka ke pengadilan," lanjut perusahaan tersebut.

Laptop Insinyur Diduga Jadi Pintu Masuk

Di balik besarnya nilai pencurian, persoalan keamanan yang terungkap justru bukan terletak pada kelemahan teknologi blockchain.

Salah satu keunggulan blockchain adalah sistem keamanannya yang terdesentralisasi dan didukung protokol kriptografi kompleks. Namun, bursa mata uang kripto seperti Binance memiliki karakteristik berbeda karena bertindak sebagai tempat penyimpanan aset secara terpusat.

Kondisi tersebut membuat bursa kripto memiliki titik-titik kerentanan tersendiri, mulai dari celah teknis hingga kesalahan manusia.

Dalam investigasi awal, Binance menduga laptop milik seorang insinyur DevOps yang telah diretas memungkinkan penyerang memperoleh akses ke kontainer layanan. Akses tersebut kemudian diduga dimanfaatkan untuk melakukan penarikan aset digital.

Namun, beberapa jam kemudian, Binance memberikan pembaruan bahwa laptop tersebut kemungkinan hanya salah satu dari sejumlah titik kerentanan yang dimanfaatkan pelaku. Perusahaan mengindikasikan adanya kemungkinan titik pelanggaran keamanan lainnya.

Korea Utara dan Bisnis Peretasan Kripto

Keterlibatan kelompok peretas Korea Utara bukan kali pertama terjadi dalam kasus pencurian aset digital berskala besar.

Pada Februari 2025, FBI mengaitkan kelompok TraderTraitor dengan pembobolan bursa kripto Bybit senilai 1,5 miliar dolar AS. Sementara itu, serangan terhadap KelpDAO pada April 2026 juga dikaitkan dengan Lazarus Group, jaringan peretas yang beroperasi di bawah kendali Korea Utara.

Menurut laporan The Guardian, Korea Utara telah menjadikan bursa mata uang kripto sebagai sasaran setidaknya sejak 2017. Sektor tersebut menarik perhatian Pyongyang karena dinilai memiliki kontrol keamanan yang relatif longgar serta pengawasan regulasi yang belum seketat sektor keuangan konvensional.

Binance sendiri sebelumnya pernah tersandung persoalan hukum di Amerika Serikat.

Pada 2023, pendirinya, Changpeng Zhao, mengaku bersalah atas pelanggaran Undang-Undang Kerahasiaan Bank AS karena gagal mempertahankan program anti-pencucian uang yang efektif.

Binance kemudian menyepakati penyelesaian perkara dengan membayar denda lebih dari 4 miliar dolar AS. Pada Oktober 2025, Presiden Donald Trump memberikan pengampunan kepada Zhao.

Bagi Korea Utara, pencurian mata uang kripto bukan sekadar kejahatan siber, melainkan juga diduga menjadi sumber pendanaan penting bagi negara tersebut.

Panel Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporannya pada 2024 menyimpulkan bahwa peretasan aset digital menyumbang sekitar separuh pendapatan devisa Korea Utara.

Dana hasil pencurian tersebut juga dinilai memberikan kontribusi signifikan terhadap pembiayaan program persenjataan nuklir Pyongyang.

Karakteristik mata uang kripto yang memungkinkan transaksi lintas negara dengan identitas pengguna yang relatif sulit dilacak turut memberikan keuntungan bagi Korea Utara. Dana hasil kejahatan dapat dipindahkan melalui berbagai jaringan digital sehingga mempersulit upaya pelacakan dan menghindari sanksi internasional.

Jika dugaan keterlibatan Korea Utara dalam pembobolan Binance terbukti, serangan ini berpotensi menjadi pencurian aset kripto terbesar yang pernah tercatat. Nilainya sekaligus memperlihatkan betapa menguntungkannya bisnis peretasan bagi negara yang selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan sanksi internasional.

  • Aset Kripto

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.