Dari Lahan hingga Meja Makan, Kolaborasi Perkuat Keberlanjutan Ekosistem Kedelai
📅 Senin, 19 Okt 2026, 18:05 WIB | Oleh: Mohammad Zaki Alatas“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan,” ujar perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream.
“Melalui kolaborasi antar pemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” lanjutnya.
Keberlanjutan disisi hulu perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan pelaku usaha di hilir. Bagi pengrajin tahu dan tempe, ketersediaan kedelai dengan kualitas yang konsisten merupakan faktor penting untuk menjaga produksi harian dan mempertahankan penghasilan keluarga.
Nurwito, pengrajin tempe yang telah menjalankan usahanya sejak 2014, menggunakan sekitar 50 sampai 80 kilogram kedelai setiap hari. Kebutuhan bahan baku yang rutin membuat kepastian pasokan menjadi salah satu aspek penting dalam menjalankan usahanya.
“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari,” ujar Nurwito. “Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting agar kami bisa terus memproduksi dan memenuhi kebutuhan keluarga serta konsumen,” tambahnya.
Dokumentasi transaksi pembelian kedelai pada pekan ketiga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat harga sekitar Rp 11.050 sampai Rp 11.300 per kilogram diluar biaya transportasi dari lahan ke gudang. Di Semarang harga tercatat pada kisaran Rp 11.050 sampai Rp 11.200 per kilogram sedangkan di Solo, Yogyakarta, Purwokerto dan beberapa area lain berada pada kisaran Rp11.200 sampai Rp11.300 per kilogram.
Data tersebut memberikan gambaran mengenai harga transaksi di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Bagi petani dan pengrajin, dinamika harga perlu dipahami bersama dengan faktor kualitas, ketersediaan dan kesinambungan pasokan yang memengaruhi kegiatan usaha mereka.
Pengalaman petani dan pengrajin menunjukkan bahwa penguatan ekosistem kedelai membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir. Pendampingan budidaya perlu berjalan seiring dengan pengembangan peluang pasar sementara kebutuhan pengrajin terhadap bahan baku yang konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha pangan.
Kolaborasi antara petani, pengrajin, Ustad Ari Handoko, PTPN IV, FKS Foundation, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produksi kedelai lokal. Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha petani dan pengrajin tahu tempe.
Pada akhirnya keberlanjutan ekosistem kedelai tidak hanya diukur dari hasil panen tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak untuk membangun kegiatan usaha yang berkesinambungan. Kegiatan tersebut dimulai dari petani yang mengembangkan lahannya hingga pengrajin yang mengolah kedelai menjadi pangan bagi masyarakat.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!