Pemkot Bandung Bertekad Wujudkan Kota Ramah dan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
📅 Kamis, 08 Okt 2026, 15:20 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat“Bukan anak yang selalu dipaksa menyesuaikan dengan sistem. Sistem pendidikanlah yang harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik,” kata dia.
Untuk dunia kerja, Agung mengingatkan agar pemberdayaan tidak berhenti pada pelatihan. Menurutnya, pelatihan perlu diikuti dengan peningkatan kompetensi, sertifikasi, akses pekerjaan maupun usaha, hingga akses pasar.
“Pelatihan tanpa akses pekerjaan atau pasar tidak akan cukup,”imbuh dia.
Karena itu, dunia usaha perlu dilibatkan dan pemerintah dapat menjadi fasilitator melalui job matching, pengembangan UMKM, akses pasar, dan kewirausahaan agar penyandang disabilitas dapat memperoleh penghasilan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Agung juga menyoroti pentingnya akses kesehatan yang inklusif. Menurut dia, keberadaan fasilitas kesehatan saja belum cukup apabila penyandang disabilitas masih kesulitan untuk mengaksesnya.
“Akses kesehatan tidak boleh hanya berhenti pada tersedianya rumah sakit atau puskesmas,” kata dia.
Ia kemudian menjelaskan, penyandang disabilitas harus dapat mencapai fasilitas kesehatan, masuk ke dalam fasilitas, berkomunikasi dengan tenaga kesehatan, mendapatkan pemeriksaan dan obat, memperoleh rehabilitasi, serta mendapatkan rujukan apabila diperlukan.
Lebih lanjut, Agung mengatakan bahwa bantuan sosial tetap penting sebagai bentuk perlindungan, tetapi bantuan tidak boleh menjadi tujuan akhir.
“Kita perlu mengubah paradigma. Bantuan tetap penting, tetapi bantuan bukan tujuan akhir,” ucap dia.
Menurut Agung, penyandang disabilitas membutuhkan rangkaian dukungan yang berkelanjutan, mulai dari perlindungan sosial, rehabilitasi, pemberdayaan, peningkatan produktivitas, hingga akhirnya mencapai kemandirian.
Sejalan dengan hal tersebut, Irvan menilai berbagai program yang dilakukan pemerintah harus terus diarahkan untuk membuka kesempatan.
Menurut dia, dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan, tetapi perlu memastikan mereka memiliki ruang untuk berkembang melalui pendidikan, pekerjaan, layanan sosial, serta dukungan bagi keluarga.
“Kalau kita berbicara tentang kemandirian, semuanya harus dimulai dari adanya kesempatan,” kata dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!