Pakar Kebencanaan Ungkap “Megathrust” Bagian dari Zona Subduksi

Minggu, 20 Sep 2026, 17:43 WIB

JAKARTA - Indonesia berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah sumber gempa megathrust dengan potensi menghasilkan gempa berkekuatan besar. Hal tersebut, berdasarkan pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN).

Dalam pemetaan terbaru tersebut, tercatat 14 segmen megathrust secara keseluruhan, terdiri dari 11 segmen di wilayah Indonesia. Sementara itu, tiga segmen di Filipina yang tetap diperhitungkan, karena berpotensi memberikan dampak terhadap wilayah Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG

Jumlah segmentasi itu, mengalami pembaruan dibandingkan pemetaan sebelumnya, yakni 13 segmen pada 2017 dan 11 segmen pada 2010. Pemutakhiran tersebut, dilakukan dengan beberapa penilaian seperti:

- Memperbarui geometri dan segmentasi sumber gempa,

- Skenario rupture,

- Nilai magnitudo maksimum (Mmax),

- Laju pergeseran,

- Parameter pemodelan bahaya gempa.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan megathrust merupakan bagian dari zona subduksi. Perihal ini, zona yang menjadi bidang kontak ketika satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lainnya.

"Zona ini berada pada bagian yang relatif dangkal. Dapat menjadi tempat akumulasi tegangan tektonik dalam waktu panjang sebelum energi tersebut dilepaskan melalui gempa besar," kata Daryono dalam keterangannya, dikutip Minggu (20/9).

Berdasarkan pemetaan 2024, sejumlah segmen memiliki estimasi magnitudo maksimum yang sangat besar yakni dengan Megathrust Aceh-Andaman mencapai M9,2 dan Megathrust Jawa mencapai M9,1.

Sementara itu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa bagian barat, Jawa bagian timur, serta Sumba juga memiliki estimasi Mmax hingga sekitar M8,9.

Berikut 14 segmen megat­hrust yang tercantum dalam pemetaan Pusat Studi Gempa Nasional:

- Megathrust Aceh-Andaman — M9,2,

- Megathrust Nias-Simeulue — M8,7,

- Megathrust Batu — M7,8,

- Megathrust Mentawai-Siberut — M8,9,

- Megathrust Mentawai-Pagai — M8,9,

- Megathrust Enggano — M8,9,

- Megathrust Jawa — M9,1,

- Megathrust Jawa bagian barat — M8,9,

- Megathrust Jawa bagian timur — M8,9,

- Megathrust Sumba — M8,9,

- Megathrust Sulawesi Utara — M8,5,

- Megathrust Palung Cotabato — M8,3,

- Megathrust Filipina Selatan — M8,2,

- Megathrust Filipina Tengah — M8,1.

Tiga segmen yang berada di Filipina yakni Palung Cotabato, Filipina Selatan, dan Filipina Tengah, tetap dimasukkan dalam pemetaan karena sumber gempa tidak berhenti mengikuti batas administratif suatu negara.

Kedekatan sejumlah sumber tersebut dengan wilayah Indonesia, termasuk kawasan Kepulauan Talaud, membuat potensi dampaknya tetap menjadi bagian dari kajian. Di antara sejumlah segmen tersebut, Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut menjadi perhatian.

Kawasan itu, dikategorikan sebagai seismic gap atau zona yang telah lama tidak mengalami gempa besar. BMKG menegaskan, status seismic gap tidak dapat diterjemahkan sebagai tanda bahwa gempa besar akan segera terjadi, melainkan menunjukkan adanya wilayah yang perlu mendapat perhatian dari sisi kesiapsiagaan dan mitigasi.

Catatan sejarah menunjukkan gempa besar terakhir di kawasan Selat Sunda terjadi pada 1757.

Sedangkan, Mentawai-Siberut tercatat mengalami gempa besar pada 1797. Kedua periode tersebut menunjukkan jeda waktu yang panjang, tetapi lamanya jeda tidak dapat digunakan untuk menentukan kapan gempa berikutnya akan terjadi. ils/I-1

  • gempa
  • Megathrust

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.