- Home
-
- Megapolitan
-
- PAM Jaya Sebut Desalinasi ...
PAM Jaya Sebut Desalinasi Air Laut di Jakarta Terkendala Biaya Operasional
Minggu, 20 Sep 2026, 17:55 WIBJAKARTA - DPRD DKI Jakarta mengusulkan teknologi desalinasi air laut sebagai salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta. PAM Jaya menyebut teknologi tersebut sebenarnya sudah diterapkan di sembilan pulau di Kepulauan Seribu, tetapi penggunaannya di wilayah Jakarta daratan masih menghadapi sejumlah kendala.
Direktur Operasional PAM Jaya Syahrul Hasan mengatakan teknologi yang digunakan di Kepulauan Seribu adalah Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah air laut menjadi air PAM dengan standar air minum.
"Desalinasi yang kemudian mengambil air bakunya dari laut itu sebenarnya sudah kita lakukan di sembilan pulau yang ada di Kepulauan Seribu. Kita menyebutnya dengan SWRO, yaitu mengelola air laut menjadi air PAM berstandar air minum," kata Syahrul di kantor PAM Jaya, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Syahrul menjelaskan penerapan teknologi desalinasi belum dilakukan untuk wilayah Jakarta daratan atau mainland. Menurutnya, pengolahan air laut membutuhkan upaya yang besar sehingga penerapannya di wilayah tersebut masih perlu mempertimbangkan berbagai aspek.
"Untuk khususnya di Jakarta, di mainland, memang itu belum kami lakukan. Kenapa? Karena memang memerlukan effort yang juga sangat besar," ujarnya.
Direktur Teknik PAM Jaya Santika mengatakan salah satu kendala utama dalam pengolahan air laut menjadi air bersih adalah kebutuhan energi yang tinggi. Kondisi tersebut berkaitan dengan kandungan total dissolved solids atau TDS serta kadar garam yang tinggi pada air laut.
"Air bakunya itu air laut, di mana air laut itu kandungan TDS-nya yang sangat tinggi, juga kandungan garam. Nah, ini tidak bisa kita lakukan secara sistem pengolahan yang biasa," kata Santika.
Menurut Santika, proses SWRO membutuhkan penyaringan dengan tekanan tinggi untuk mengolah air laut. Sistem tersebut membuat kebutuhan energi menjadi besar sekaligus meningkatkan kebutuhan biaya perawatan.
"Ini yang menjadi PR besar di dunia pengolahan air, yang dilakukan dengan menggunakan filter. Jadi kita bayangkan mengolah air dengan filter yang cukup rapat sehingga memerlukan effort yang sangat besar," jelasnya.
"Selain effort yang sangat besar, juga harus menggunakan energi yang tinggi karena butuh pressure," sambungnya.
Kebutuhan energi dan tekanan tinggi dalam proses tersebut kemudian berdampak pada biaya produksi air. PAM Jaya menyebut biaya operasional dan perawatan teknologi desalinasi menjadi tinggi sehingga berpengaruh terhadap biaya produksi air yang dihasilkan.
"Impact-nya apa? Akibatnya adalah biaya operasional yang cukup tinggi dan juga biaya perawatan yang sangat tinggi. Nah, oleh karena itu, cost production-nya pun otomatis akan tinggi," lanjutnya.
Santika mengatakan Jakarta juga membutuhkan sumber air baku lain untuk mendukung penyediaan air bersih. Salah satu infrastruktur yang dinilai dapat membantu adalah pembangunan tembok laut raksasa atau giant sea wall yang dapat menjadi bagian dari sistem penampungan air.
"Di DKI Jakarta itu kan ada 13 sungai yang melintasi DKI Jakarta dan itu butuh kita lakukan penampungan," jelasnya.
Menurut Santika, penampungan tersebut memungkinkan air sungai dimanfaatkan sebagai salah satu sumber air baku. Namun, air sungai juga memiliki tantangan karena mengandung polutan dalam jumlah tinggi.
"Memang menjadi problem lagi adalah polutan, polutannya sangat tinggi. Tetapi dengan adanya bak penampungan, otomatis secara alami akan terjadi pemisahan polutan-polutan tersebut dengan secara alami, yaitu pengendapan," tuturnya.
Santika menjelaskan keberadaan bak penampungan dapat membantu proses pemisahan polutan melalui pengendapan secara alami. Dengan demikian, penampungan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pengelolaan sumber air baku sebelum air menjalani proses pengolahan lebih lanjut.
Sebelumnya, Ketua DPRD DKI Jakarta Suhud Alynudin mengusulkan agar Pemprov DKI mulai mempertimbangkan teknologi desalinasi untuk mengantisipasi kemungkinan kekurangan air bersih. Ia menyebut pengalaman penerapan desalinasi di Kepulauan Seribu dapat menjadi salah satu pertimbangan.
"Mungkin juga langkah yang harus dilakukan adalah melakukan, di Kepulauan Seribu itu sudah ada desalinasi ya, mengubah air laut jadi air bersih, air tawar," kata Suhud di gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (17/9).
Suhud mengatakan teknologi desalinasi telah digunakan di sejumlah wilayah Kepulauan Seribu. Menurutnya, penerapan tersebut dapat menjadi salah satu opsi yang dikembangkan untuk menghadapi kemungkinan kebutuhan air bersih Jakarta di masa mendatang.
Di sisi lain, PAM Jaya masih menghadapi pertimbangan teknis dan biaya dalam penggunaan desalinasi untuk Jakarta daratan. Tingginya kebutuhan energi, biaya operasional, serta biaya perawatan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam penerapan teknologi tersebut.
- Giant Sea Wall
- Kepulauan Seribu
- DPRD DKI Jakarta
- PAM Jaya
- Akses Air Bersih
- pengolahan air laut
- Desalinasi Air Bersih
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Roger Federer Akhirnya Kembali ke Flushing Meadows untuk Perpisahan yang Tertunda di US Open
-
"Jakarta One Running Series 2026" Hadir di 5 Titik Kota Jakarta, Simak Rangkaian Acaranya!
-
Kelapa Sulteng Naik Kelas, Industrialisasi Mulai Digeber
-
STY Respons Boikot Jakmania Jelang Persija vs Brisbane Roar, Singgung Pentingnya Suporter
-
Penukaran uang layak edar
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.