Kalah dari Malaysia dan Singapura, RI Harus Benahi Kepastian Regulasi

Jumat, 18 Sep 2026, 03:10 WIB

SINGAPURA - Sebuah laporan studi yang dirilis pada Rabu menyebutkan enam negara terbesar Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan mengalami pertumbuhan ekonomi rata-rata 4,8 persen per tahun antara 2026 hingga 2035.

Laporan yang disusun bersama oleh Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners tersebut memaparkan pertumbuhan akan disokong investasi asing dan pembentukan modal berkelanjutan, industrialisasi dan pembangunan infrastruktur yang terus berlanjut, serta peningkatan produktivitas berbasis adopsi teknologi.

Ket. Foto: Kompetisi Investasi di ASEAN — Sumber: antara

Konsumsi domestik yang tangguh dan demografi yang menguntungkan di beberapa perekonomian utama juga diperkirakan akan memberikan dukungan. Namun, jalur pertumbuhannya berbeda-beda, dengan kekuatan institusional, keamanan energi, dan kesiapan teknologi menentukan kemampuan perekonomian dalam menghadapi guncangan dan memanfaatkan peluang.

Vietnam diperkirakan akan tetap menjadi pemimpin pertumbuhan regional, sementara Thailand tertinggal dari negara-negara sejawatnya. Indonesia, Filipina, dan Thailand menghadapi paparan risiko yang lebih besar dalam skenario penurunan, sedangkan Malaysia, Singapura, dan Vietnam memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar dalam kondisi yang lebih menguntungkan.

Penanaman modal asing langsung (FDI) juga melonjak, dengan pergeseran komposisi investor yang mencerminkan penataan kembali rantai pasokan global. Laporan itu menunjukkan bahwa Singapura tetap menjadi perekonomian paling tangguh di kawasan tersebut, didukung oleh statusnya sebagai safe haven, pasar yang dalam, penyangga fiskal, serta kredibilitasnya sebagai pusat regional yang tepercaya. Posisinya sebagai pusat modal regional juga memfasilitasi peluang investasi dan bisnis di seluruh Asia Tenggara.

Menanggapi laporan tersebut, pengamat ekonomi Universitas Wijaya Kusuma (UWKS) Surabaya, Ermatry Hariani, mengatakan, proyeksi tersebut menunjukkan persaingan antarnegara kawasan dalam merebut investasi asing akan semakin ketat.

Indonesia memiliki pasar domestik besar dan sumber daya alam yang kuat, tetapi sejumlah negara tetangga memiliki keunggulan yang membuat investor lebih mudah masuk dan memperluas bisnis.

Singapura menjadi contoh paling jelas berdasarkan laporan bersama tersebut. Posisi negara kota ini ditopang pasar keuangan yang dalam, cadangan fiskal, serta reputasinya sebagai pusat bisnis dan keuangan regional.

“Investor itu bukan cuma mencari pasar besar. Mereka juga mencari tempat yang prosesnya jelas, infrastrukturnya siap, energinya aman, dan urusan bisnisnya bisa diprediksi. Di bagian ini, beberapa negara tetangga memang punya keunggulan,” ujarnya.

Malaysia juga dinilai memiliki modal yang kuat melalui basis manufaktur yang sudah berkembang, terutama industri semikonduktor, pusat data, serta investasi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, dengan sektor-sektor tersebut menjadi sumber potensi pertumbuhan.

“Malaysia sekarang punya cerita investasi yang cukup jelas, semikonduktor, data center, AI. Investor jadi lebih mudah melihat mau masuk ke sektor apa dan ekosistem pendukungnya seperti apa,” katanya.

Sementara Vietnam memiliki keunggulan dari sisi integrasi dengan rantai pasok global dan basis manufaktur. Pergeseran rantai pasok global juga membuat negara tersebut mendapat peluang untuk menarik investasi yang mencari basis produksi baru di Asia.

Menurut Erma, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan modal untuk bersaing. Realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 1.931 triliun rupiah atau 101 persen dari target pemerintah, sementara investasi hilirisasi mencapai 584 triliun rupiah.

“Jadi persoalannya bukan Indonesia tidak menarik bagi investor. Investasi tetap masuk dan angkanya besar. Tantangannya adalah bagaimana membuat investor punya alasan untuk memilih Indonesia ketika mereka juga punya pilihan Vietnam, Malaysia atau Singapura,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat faktor yang menjadi pembeda, bukan hanya mengandalkan besarnya pasar dan sumber daya alam. Kepastian regulasi, kecepatan perizinan, kualitas infrastruktur, ketersediaan energi, kesiapan tenaga kerja, serta kemampuan mengembangkan industri berteknologi tinggi menjadi faktor penting.

“Kalau ingin menangkap investasi yang lebih berkualitas, jangan berhenti di insentif. Investor juga ingin tahu, lima sampai sepuluh tahun ke depan aturan mainnya akan seperti apa. Kepastian itu nilainya sangat besar,” katanya.

  • Investasi

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.