- Home
-
- Luar Negeri
-
- The Fed Indikasikan Kenaik...
The Fed Indikasikan Kenaikan Suku Bunga Sekali Lagi hingga Akhir Tahun
Jumat, 18 Sep 2026, 03:05 WIBWASHINGTON - Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, pada hari Rabu (16/9), menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2023, mengabaikan keinginan Presiden Donald Trump untuk pemotongan suku bunga, sementara kepala bank sentral Kevin Warsh menekankan perlunya memerangi inflasi yang terlalu tinggi yang sudah berlangsung lama.Â
Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed secara bulat memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi antara 3,75 dan 4,00 persen.
âFaktanya, inflasi terlalu tinggi, dan sudah terlalu lama seperti itu,â kata Warsh dalam konferensi pers, menambahkan bahwa keputusan itu adalah keputusan yang serius tetapi perlu.
Kenaikan suku bunga tersebut mungkin bukan yang terakhir karena sebagian besar pembuat kebijakan Fed mengindikasikan bahwa setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi kemungkinan diperlukan sebelum akhir tahun, menurut Ringkasan Proyeksi Ekonomi atau Summary of Economic Projections (SEP) mereka.
Kelompok rumah tangga dan bisnis di AS telah terpukul oleh inflasi yang lebih tinggi dari target selama bertahun-tahun, dan harga-harga melonjak setelah perang Trump terhadap Iran, kebijakan tarif andalannya, dan booming AI yang sedang berlangsung.
Isu Ekonomi
Presiden AS, Donald Trump bereaksi marah terhadap keputusan itu dengan menyebutnya sebagai "kenaikan suku bunga terhadap Trump" dan menuduh komite penetapan suku bunga Fed yang ia sebut "bermusuhan" membuat keputusan karena alasan politik.
Presiden telah melancarkan serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap independensi Fed sejak menjabat, berupaya memecat seorang Gubernur Fed dan meluncurkan penyelidikan kriminal terhadap pendahulu Warsh dalam upayanya untuk menurunkan suku bunga guna mendorong aktivitas ekonomi.
Pernyataan pada hari Rabu tersebut menghindari penghinaan atau kritik langsung terhadap Warsh, seperti yang biasa dilakukan Trump terhadap mantan ketua Fed, Jerome Powell.
Partai Republik pengusung Trump menghadapi ujian berat dalam pemilihan paruh waktu mendatang, dengan saingan dari Partai Demokrat berupaya merebut kendali atas kedua majelis Kongres dan menjadikan isu-isu ekonomi sebagai fokus utama bagi para pemilih.
The Fed telah mempertahankan suku bunga tetap sejak Januari, memilih untuk menunggu dan mengukur dampak guncangan harga energi akibat perang Iran dan membiarkan dampak tarif terhadap harga merambat ke seluruh perekonomian.
Namun, sejak Juli, semakin banyak pihak pembuat kebijakan yang mengindikasikan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi, karena perang terus berlanjut dan harga tetap tinggi, terutama untuk energi.
Pada hari Jumat, indeks harga konsumen bulan Agustus tercatat di angka 3,4 persen, tidak berubah dari bulan sebelumnya, tetapi masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, mengatakan inflasi telah "memaksa The Fed untuk mengambil tindakan."
âTekanan harga tetap terlalu tinggi dan terlalu persisten bagi para pembuat kebijakan untuk mengabaikannya, sementara ekonomi dan pasar tenaga kerja cukup stabil untuk menyerap kebijakan yang lebih ketat," katanya.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
UMKM Jayapura Terbantu Perayaan Festival Danau Sentani yang Jadi Magnet Turis
-
Indonesia Menambah Dua Emas di Asian Taekwondo Open 2026
-
Terkait Penunjukan Destry, Pakar: Perkuat Koordinasi Fiskal-Moneter untuk Turunkan Risiko Ekonomi
-
Saat Low Season, Festival Belanja Jadi Jurus Dongkrak Konsumsi
-
Cuaca Senin Diprediksi Tak Bersahabat, BMKG Sebut Berawan hingga Hujan Dominasi RI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.