• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mengenal Mikrobioma Mulut ...

Mengenal Mikrobioma Mulut dan Perannya bagi Kesehatan Gigi

Kamis, 17 Sep 2026, 22:23 WIB

JAKARTA — Program Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 kembali digelar dengan mengangkat pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma mulut sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh.

Program yang diinisiasi Unilever Indonesia melalui Pepsodent sejak 2010 tersebut dilaksanakan bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), serta Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI).

Ket. Foto: Pemeriksaan gigi siswa merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam peluncuran Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 di SDN Menteng 01 Jakarta, Kamis (17/9). Program ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma mulut sebagai bagian dari upaya mencegah karies, radang gusi, dan masalah kesehatan gigi. — Sumber: Istimewa

Peresmian BKGN 2026 ditandai dengan kegiatan edukasi dan pemeriksaan gigi bagi siswa SDN Menteng 01 Jakarta yang berlangsung Kamis (17/9). Selanjutnya, rangkaian program akan berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026 di sejumlah Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan (RSGMP) di berbagai wilayah Indonesia.

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, mengatakan bahwa pemeriksaan gigi telah menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis yang perlu dimanfaatkan oleh seluruh anak sekolah.

“Dari hasil pemeriksaan, 4 dari 10 anak Indonesia yang ada di sekolah giginya berlubang. Ini tentunya akan mengganggu aktivitas sehari-hari anak,” ujar Dante pada kesempatan tersebut.

Menurut dia, pemeriksaan gigi sebaiknya dilakukan secara rutin setiap enam bulan, bukan hanya ketika seseorang mengalami sakit gigi. Dante juga mendorong peran Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk membantu mengenali tanda-tanda permasalahan gigi pada siswa.

Ia menambahkan, masalah kesehatan gigi dan mulut tidak hanya berkaitan dengan kondisi rongga mulut, tetapi juga dapat berhubungan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Pentingnya Menjaga Mikrobioma Mulut

Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, drg. Ratu Mirah Afifah, mengatakan bahwa BKGN 2026 berupaya memperkenalkan pemahaman yang lebih luas mengenai perawatan kesehatan gigi dan mulut, termasuk pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma mulut.

“Di BKGN 2026, kami ingin mengangkat paradigma baru mengenai pentingnya perlindungan ekstra dalam merawat kesehatan gigi dan mulut, yaitu dengan menjaga keseimbangan microbiome mulut sebagai awal dari kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh,” kata Mirah.

Ia menilai pemahaman tersebut relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat dan masih adanya anggapan yang kurang tepat mengenai kondisi gigi dan mulut yang sehat.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam program tersebut, sebanyak 47,5 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali dalam sehari. Sementara itu, meskipun 95,6 persen masyarakat menyikat gigi setiap hari, hanya 6,2 persen yang melakukannya pada waktu yang tepat.

Selain itu, hanya 11,2 persen masyarakat yang mengalami masalah gigi dan mulut kemudian mencari bantuan tenaga medis gigi dalam satu tahun. Kondisi tersebut turut berkontribusi terhadap masih tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut pada penduduk Indonesia berusia tiga tahun ke atas, yang disebut mencapai 57 persen berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia 2023.

Ketua AFDOKGI, Prof. drg. Suryono, menjelaskan bahwa rongga mulut merupakan salah satu komunitas mikroba terbesar dalam tubuh manusia. Di dalamnya terdapat lebih dari 700 spesies mikroorganisme yang membentuk mikrobioma mulut.

Menurut dia, mikrobioma mulut terdiri atas bakteri yang bermanfaat dan bakteri yang berpotensi merugikan. Karena itu, perawatan kesehatan gigi dan mulut tidak semata-mata ditujukan untuk menghilangkan seluruh bakteri, melainkan menjaga keseimbangan komunitas mikroorganisme tersebut.

“Ketika keseimbangannya terganggu atau mengalami dysbiosis, bakteri merugikan dapat berkembang lebih dominan dan memicu berbagai permasalahan gigi dan mulut,” jelas Suryono.

Gangguan keseimbangan mikrobioma mulut dapat berkaitan dengan sejumlah masalah, seperti pembentukan plak, gigi berlubang, radang gusi, hingga bau mulut. Konsumsi gula yang terlalu sering, misalnya, dapat mendorong bakteri menghasilkan asam secara berulang sehingga lingkungan rongga mulut menjadi lebih asam. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan demineralisasi enamel dan memicu karies.

Perubahan komunitas bakteri di sekitar garis gusi juga dapat memicu respons peradangan yang berujung pada gingivitis atau periodontitis. Sementara itu, bau mulut dapat berkaitan dengan aktivitas bakteri yang menghasilkan senyawa sulfur volatil.

Perluasan Akses Pelayanan

Ketua ARSGMPI, Dr. drg. A. Tajrin, mengatakan bahwa keseimbangan mikrobioma mulut dapat dijaga melalui kebiasaan perawatan gigi dan mulut yang tepat.

Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan menjaga kebersihan gigi dan mulut, membatasi konsumsi gula, memperbanyak makanan bergizi dan kaya serat, serta mencukupi kebutuhan cairan untuk mendukung produksi dan fungsi air liur sebagai pertahanan alami rongga mulut.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari rokok, mengelola stres, mencukupi waktu tidur, serta melakukan konsultasi ke dokter gigi sedikitnya setiap enam bulan.

Pada 2026, BKGN akan melibatkan 29 FKG dan RSGMP di berbagai wilayah Indonesia. Bersama PB PDGI, program tersebut juga akan menyelenggarakan kegiatan edukasi di enam kota dan kabupaten di Jawa Barat serta sejumlah wilayah yang terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur dan Papua.

Wakil Ketua PB PDGI, drg. Tari Tritarayati, mengatakan bahwa Jawa Barat menjadi salah satu wilayah prioritas karena memiliki populasi penduduk yang besar dan masih menghadapi tantangan kesehatan gigi dan mulut.

Ia menyebutkan, 63,4 persen masyarakat Jawa Barat mengalami permasalahan gigi dan mulut, sedangkan 89,9 persen di antaranya tidak mengunjungi dokter gigi selama satu tahun terakhir. Di Nusa Tenggara Timur, prevalensi masalah gigi dan mulut disebut mencapai 55,6 persen, sementara di Papua sebesar 49,4 persen.

Hambatan geografis, jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, serta belum meratanya ketersediaan dokter gigi menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi akses pelayanan kesehatan gigi dan mulut di wilayah tersebut.

Selain menyasar masyarakat umum, BKGN 2026 memperluas kegiatan edukasi ke pesantren dan komunitas ibu. Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak kebiasaan baik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut di lingkungan masing-masing.

Dalam kegiatan peresmian, sebanyak 384 siswa SDN Menteng 01 mengikuti edukasi dan mendapatkan pelayanan kesehatan gigi dan mulut dari tenaga medis Mulia Health and Dental Care.

Personel grup musik GIGI, Armand Maulana dan Gusti Hendy, yang turut hadir dalam acara tersebut, juga menyampaikan pentingnya pemahaman mengenai peran bakteri baik dalam menjaga kesehatan rongga mulut.

Perawatan Berkelanjutan di Rumah

Sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan gigi dan mulut secara berkelanjutan, Pepsodent memperkenalkan Pepsodent Pro.Care yang menggunakan teknologi Microbiome Active.

Teknologi tersebut memanfaatkan One Trillion Active Ions untuk menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri baik. Teknologi Microbiome Active dikembangkan untuk membantu menjaga keseimbangan mikrobioma mulut dan memberikan perlindungan hingga 24 jam berdasarkan pengujian klinis yang disebutkan dalam materi program.

“Kami harap seluruh rangkaian kegiatan BKGN 2026 dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keseimbangan microbiome mulut, yang kemudian bertransformasi menjadi rutinitas menyikat gigi sehari-hari yang mampu memberikan perlindungan ekstra bagi senyum keluarga Indonesia,” ujar drg. Ratu Mirah.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.