Blokade Selat Hormuz Turunkan Pasokan Pangan Global Semester II-2026

Rabu, 16 Sep 2026, 03:05 WIB

MOSKOW - Direktur Kantor Penghubung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov, mengatakan blokade Selat Hormuz akan menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan global pada semester kedua 2026 dan pada 2027.

“Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat harga saat ini, tetapi juga pada hasil panen di musim-musim berikutnya, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan pada 2027,” kata Kobiakov kepada RIA Novosti.

Ket. Foto: Direktur Kantor Penghubung Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO ) untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov. — Sumber: (FAO)

Dia menjelaskan produksi pertanian mengikuti kalender tanam dengan jadwal yang tidak fleksibel. Bahkan, penundaan selama beberapa pekan saja memaksa petani mengurangi atau sama sekali tidak menggunakan pupuk.

Hal itu berakibat pada penurunan hasil panen terlepas dari kondisi selanjutnya.

“Menurut analisis yang dilakukan FAO, berbagai guncangan yang saling terkait akibat krisis ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan serta meningkatnya kondisi kelaparan di negara-negara dan kawasan yang sudah terdampak krisis pangan berkepanjangan atau akut,” jelas Kobiakov.

Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran, hingga memicu serangan balasan dari pihak Iran.

Kemudian, pada pertengahan Juni, Iran dan AS menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri permusuhan, meskipun setelah itu kedua pihak kembali saling serang. Hingga kini, konflik antara AS dan Iran masih belum terselesaikan.

Eskalasi konflik tersebut telah menyebabkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur utama perdagangan global minyak dan gas alam cair, hampir terhenti total sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar di seluruh dunia.

Tidak Berisiko

Russia sendiri tidak menghadapi ancaman krisis pangan yang disebabkan blokade Selat Hormuz karena pasokan pangan di dalam negeri sudah lebih dari cukup. Kobyakov mengatakan bahwa pasar Rusia tidak berisiko. Ini bukan hanya pendapat saya, tetapi konsensus di kalangan pakar Russia, pasar memiliki pasokan yang sangat melimpah di semua kategori produk,” kata Kobyakov saat ditanya mengenai dampak situasi di Selat Hormuz terhadap pasokan ke Russia.

Eskalasi konflik tersebut telah menyebabkan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur utama perdagangan global minyak dan gas alam cair, hampir terhenti total sehingga memicu kenaikan harga bahan bakar di seluruh dunia.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Selasa menyatakan bahwa dua drone MQ-1 berhasil dicegat dan dihancurkan di dekat Selat Hormuz. Klaim tersebut menjadi pesawat drone keempat yang disebut IRGC berhasil ditembak jatuh dalam beberapa hari terakhir.

  • selat hormuz

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.