AS Akui Telah Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

Rabu, 16 Sep 2026, 02:30 WIB

WASHINGTON DC – Pihak Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (AS) pada Senin (14/9) menyatakan bahwa AS telah mengerahkan senjata di luar angkasa. Pernyataan ini mengkonfirmasi keberadaan senjata tersebut di orbit untuk pertama kalinya.

“AS memiliki senjata kendali luar angkasa di orbit yang mampu mempertahankan pasukan gabungan dari tindakan musuh yang bermusuhan,” kata juru bicara Angkatan Luar Angkasa AS dalam sebuah pernyataan namun tidak memberikan rincian spesifik tentang senjata tersebut.

Ket. Foto: — Sumber: GETTY IMAGES NORTH AMERICA/GETTY IMAGES VIA AFP

“Pengendalian luar angkasa mencakup area misi yang diperlukan untuk memperebutkan dan mengendalikan domain luar angkasa dengan menggunakan cara kinetik dan non-kinetik untuk mempengaruhi kemampuan musuh,” kata pernyataan itu, seraya menambahkan bahwa kemampuan persenjataan luar angkasa ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif dan defensif.

Saat ini baik Russia maupun Tiongkok yang merupakandua rival geopolitik utama AS, berpotensi menjadi ancaman bagi kepentingan AS di luar angkasa.

“Tiongkok mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan luar angkasa dan antariksa sebagai bagian dari strategi modernisasi militer. Sementara Russia memandang luar angkasa sebagai domain peperangan dan percaya bahwa supremasi luar angkasa akan menjadi faktor penentu dalam konflik di masa depan,” ungkap Angkatan Luar Angkasa AS.

Militerisasi luar angkasa sama tuanya dengan perlombaan luar angkasa itu sendiri, segera setelah Sputnik diluncurkan ke orbit pada tahun 1957, dimana Washington DC dan Moskwa mulai menjajaki cara untuk mempersenjatai dan menghancurkan satelit.

Kekhawatiran terbesar terdahulu adalah tentang senjata nuklir di luar angkasa, tetapi negara-negara adidaya dan negara-negara lain telah menandatangani Perjanjian Luar Angkasa pada tahun 1967, yang melarang senjata pemusnah massal di orbit.

Sejak saat itu, Russia, AS, Tiongkok dan India, telah menjajaki cara-cara untuk berperang di luar angkasa di luar perjanjian tersebut, termasuk dengan menargetkan satelit-satelit saingan, yang sangat penting untuk komunikasi militer, pengawasan, dan navigasi.

Menanggapi pernyataan konfirmasi dari Angkatan Luar Angkasa AS, Russia pada Selasa (15/9) menyerukan agar luar angkasa tetap bebas dari senjata.

"Kami percaya bahwa luar angkasa harus bebas dari senjata apa pun," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov. "Kami mengandalkan konsolidasi internasional yang luas untuk terus berupaya menuju demiliterisasi luar angkasa secara menyeluruh," imbuh dia.

Sementara itu Tiongkok pada Selasa juga memperingatkan agar tidak mengubah luar angkasa menjadi medan perang dan memperingatkan bahwa langkah untuk mempersenjatai luar angkasa akan mengubahnya menjadi medan perang serta perlombaan senjata di luar angkasa.

“Kami mendesak pihak AS untuk menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam sebuah konferensi pers.

Menurut pakar hukum luar angkasa Laetitia Cesari, perkembangan ini terjadi karena terdapatnya kekosongan regulasi karena Pasal 4 dari perjanjian tahun 1967 hanya melarang senjata pemusnah massal dan senjata nuklir di orbit.

Cesari mengatakan bahwa topik tersebut kemungkinan akan masuk dalam agenda pertemuan perlucutan senjata PBB berikutnya pada November mendatang.

“Moskwa dan Beijing telah berupaya selama sekitar dua puluh tahun untuk membuat perjanjian guna mencegah penempatan senjata di luar angkasa, sementara negara-negara Barat justru mencoba untuk mengupayakan gagasan tentang perilaku yang bertanggung jawab,” kata Cesari. “Pengumuman AS tersebut kemungkinan akan memberikan dorongan pada pendekatan restriktif yang didorong oleh Moskwa dan Beijing," tegas dia. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.