Apakah BBM di Bengkulu Langka dan Sebabkan Antrean Panjang? Ini Penelusurannya!
Rabu, 16 Sep 2026, 22:38 WIBBENGKULU - Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Bengkulu beberapa waktu terakhir. Kepadatan kendaraan tersebut terutama terlihat pada jalur pengisian BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar.
Situasi itu kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kondisi ketersediaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Bengkulu. Benarkah pasokan BBM bersubsidi di Bengkulu mulai langka? Berikut penelusuran wartawan Antara di sejumlah SPBU.
Petugas salah satu SPBU di Kota Bengkulu menyampaikan pasokan BBM bersubsidi berjalan lancar seperti biasanya dan sesuai dengan kuota yang diterima. Pengelola juga memastikan persediaan BBM bersubsidi di SPBU tersebut masih mencukupi.
"Untuk ketersediaan BBM saat ini juga masih ada," kata pengelola salah satu SPBU di Kota Bengkulu.
Menurut pengelola, kepadatan kendaraan terjadi karena adanya peningkatan volume pembelian BBM bersubsidi, khususnya Pertalite dan Biosolar. Kondisi tersebut membuat waktu tunggu kendaraan di jalur pengisian menjadi lebih panjang dibandingkan biasanya.
Indikasi lainnya, sebagian masyarakat yang sebelumnya menggunakan BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Dexlite mulai beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Disparitas harga yang cukup tinggi antara BBM bersubsidi dan non-subsidi menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam memilih penggunaan bahan bakar untuk kendaraan mereka.
Sejumlah pengguna kendaraan mengaku memilih Pertalite karena harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax, dinilai semakin tinggi sehingga penggunaan BBM bersubsidi menjadi pilihan yang lebih ekonomis.
"Menurut pendapat saya, kenaikan harga Pertamax membuat sebagian pengguna kendaraan beralih menggunakan Pertalite sehingga jumlah konsumen yang mengisi BBM bersubsidi semakin banyak," kata salah seorang warga Kota Bengkulu, Satria (50).
Berbeda dengan Satria, Aldo Saputra (23) menilai antrean kendaraan di SPBU tidak sepenuhnya menunjukkan kondisi kelangkaan BBM.
Menurut Aldo, salah satu faktor pemicu yang menyebabkan waktu tunggu kendaraan menjadi lebih panjang adalah penggunaan sistem barcode yang membuat proses pengisian BBM berlangsung lebih lama.
Sedangkan, Tohir Saputra (50), seorang pengemudi ojek daring, menilai bertambahnya jumlah kendaraan turut meningkatkan kebutuhan BBM di masyarakat. Dia mengaku mengaku memang mengalami kesulitan saat mendapatkan BBM di tengah kepadatan kendaraan di SPBU. Namun, Tohir yakin pemerintah tentu memiliki aturan yang harus diikuti masyarakat dalam penggunaan BBM bersubsidi.
Dirinya berharap pemerintah tetap dapat memperhatikan kondisi kebutuhan energi masyarakat terpenuhi dengan memastikan kecukupan pasokan BBM.
Wakil Gubernur Bengkulu Mian menyatakan kecukupan pasokan BBM untuk Provinsi Bengkulu. Dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan atau "panic buying" terutama untuk BBM bersubsidi.
Dengan demikian, berdasarkan penelusuran Antara di lapangan, kepadatan kendaraan di sejumlah SPBU lebih disebabkan karena peningkatan penggunaan BBM bersubsidi akibat disparitas harga BBM non-subsidi yang semakin lebar serta penerapan penggunaan barcode untuk pembelian BBM bersubsidi. Ant
Redaktur: Koran Jakarta
Penulis: Opik
Berita Terkait:
-
Jonatan Christie Masih Selamat dari Adangan Pemain Singapura
-
Mentan Amran Copot 14 Pejabat Kementan, Diduga Terlibat Penyimpangan Uang Miliaran Rupiah
-
Iran Ancam Anggap Musuh Siapa Pun yang Ikut Blokade Ekonomi AS
-
Pagelaran Sabang Merauke
-
Kabar Penyanderaan 9 Perempuan di Jila Terjawab, Ini Penjelasan Polres Mimika
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.