- Home
-
- Luar Negeri
-
- AS, Tiongkok, dan Russia B...
AS, Tiongkok, dan Russia Berlomba Membangun Reaktor Nuklir di Bulan
Minggu, 04 Okt 2026, 22:00 WIBWASHINGTON DC â Persaingan kekuatan besar dunia kini bergerak semakin jauh ke luar angkasa. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Russia berlomba mengembangkan reaktor nuklir yang suatu saat akan ditempatkan di permukaan Bulan untuk memasok energi bagi pangkalan dan misi jangka panjang.
Amerika Serikat menjadi salah satu pihak yang mempercepat program tersebut. NASA bersama Departemen Energi AS menargetkan pengembangan sistem pembangkit listrik fisi nuklir untuk permukaan Bulan yang dapat diluncurkan sekitar 2030.
Program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun keberadaan manusia yang lebih berkelanjutan di Bulan melalui program Artemis. NASA mengatakan reaktor akan mampu menyediakan listrik secara terus-menerus selama bertahun-tahun tanpa perlu pengisian bahan bakar, termasuk ketika kondisi cahaya Matahari tidak mencukupi.
Laporan terbaru yang dikutip Political Wire dari The New York Times menyebut NASA pada akhir Agustus meminta kontraktor menyiapkan reaktor yang mampu bertahan dalam perjalanan ke Bulan dan beroperasi tanpa pemeliharaan di dekat kutub selatan Bulan. Target peluncurannya disebut paling lambat Desember 2030.
Target tersebut dipercepat di tengah rencana China dan Rusia membangun reaktor nuklir mereka sendiri.
Kedua negara telah menyatakan rencana untuk bekerja sama membangun fasilitas penelitian di Bulan melalui International Lunar Research Station. China dan Rusia menargetkan reaktor nuklir Bulan dapat beroperasi pada pertengahan 2030-an, dengan sejumlah laporan menyebut sekitar 2036.
Teknologi nuklir dipandang penting karena kondisi Bulan membuat sumber energi seperti panel surya memiliki keterbatasan. Sebagian wilayah Bulan mengalami malam panjang, sementara lokasi yang berada di dekat kutub memiliki kondisi pencahayaan yang lebih menguntungkan tetapi tetap tidak menjamin pasokan energi konstan.
Katy Huff, insinyur nuklir dari University of Illinois Urbana-Champaign, mengatakan pembangkit nuklir memiliki keunggulan karena dapat menyediakan energi dengan kepadatan tinggi. Menurutnya, pangkalan Bulan yang dihuni manusia membutuhkan sumber energi yang dapat beroperasi secara stabil, sedangkan energi terbarukan saja menghadapi keterbatasan intermittensi.
NASA sebelumnya mengembangkan konsep reaktor mikro dengan kapasitas sekitar 40 kilowatt. Setelah China dan Rusia mempercepat rencana mereka, Amerika Serikat meningkatkan target sistemnya menjadi sekitar 100 kilowatt dan mempercepat jadwal pengembangannya menjadi 2030.
Energi tersebut nantinya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sistem pendukung kehidupan, peralatan ilmiah, komunikasi, hingga aktivitas eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya Bulan.
Salah satu sumber daya yang menjadi perhatian adalah es air yang diyakini terdapat di kawasan kutub Bulan. Air dapat menjadi bagian penting dari sistem pendukung kehidupan dan, melalui proses tertentu, dapat digunakan untuk menghasilkan hidrogen dan oksigen sebagai bahan bakar.
Karena itu, lokasi reaktor menjadi bagian penting dalam persaingan tersebut. Pejabat NASA sebelumnya memperingatkan bahwa negara yang lebih dulu membangun fasilitas energi di lokasi strategis dapat memperoleh posisi penting dalam menentukan akses ke wilayah tersebut.
Namun, rencana tersebut juga memunculkan persoalan hukum dan keamanan.
The Washington Post melaporkan bahwa percepatan pembangunan reaktor nuklir di Bulan menimbulkan pertanyaan mengenai batas penggunaan wilayah Bulan berdasarkan hukum internasional. Outer Space Treaty melarang negara mengklaim kedaulatan atas benda langit, tetapi aturan mengenai zona keselamatan di sekitar instalasi luar angkasa masih menyisakan ruang interpretasi.
Para ahli juga mengingatkan bahwa pembangunan reaktor nuklir di lingkungan Bulan memiliki tantangan teknis yang tidak kecil. Sistem harus mampu dikirim melalui perjalanan luar angkasa, mendarat dengan aman, beroperasi dalam kondisi ekstrem, dan bekerja dalam jangka panjang tanpa fasilitas pemeliharaan seperti yang tersedia di Bumi.
Selain itu, pengembangan yang terlalu cepat juga memunculkan kekhawatiran mengenai keselamatan dan pengelolaan limbah radioaktif.
Meski demikian, Amerika Serikat tetap mendorong proyek tersebut sebagai bagian dari strategi eksplorasi Bulan dan Mars. NASA menyebut pembangkit nuklir sebagai salah satu teknologi kunci untuk mempertahankan keberadaan manusia dalam jangka panjang di luar Bumi.
Dengan target AS sekitar 2030 dan rencana China-Rusia pada pertengahan 2030-an, Bulan kini tidak hanya menjadi tujuan eksplorasi ilmiah, tetapi juga arena persaingan teknologi dan infrastruktur antariksa antara sejumlah kekuatan besar dunia.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Pemprov DKI Akui Kepadatan Penduduk Hambat Penanganan Kawasan Kumuh
-
Layanan Darurat Surabaya Naik Level, Petugas Dibekali Kemampuan Hadapi Laporan Psikologis
-
Akhirnya, Dia Tak Lagi Mampu Berteriak-teriak, Dicokok untuk Dikirim ke Penjara
-
PLN: Listrik di Provinsi Riau Pulih 100 Persen Pasca-gangguan
-
Ekonomi Digital Tumbuh, Namun UMKM Kehilangan Ruang Bersaing
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.