Lahan Sempit Disulap Jadi Sumber Pangan lewat Lumbung Mataraman

Minggu, 04 Okt 2026, 21:15 WIB

KULONPROGO – Keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti menghasilkan pangan. Melalui konsep Lumbung Mataraman, masyarakat di DIY didorong memanfaatkan pekarangan, lahan kelompok tani, hingga tanah yang belum produktif untuk budidaya berbagai komoditas sesuai potensi wilayah.

Model tersebut terlihat dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan, Kulonprogo, Jumat-Sabtu (2-3/10/2026). Kegiatan yang digelar Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY itu menghadirkan 25 stan dari 10 kalurahan pengembang Lumbung Mataraman dan 15 Kelompok Wanita Tani (KWT).

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkab Kulon Progo

Beragam inovasi pertanian berbasis potensi lokal ditampilkan dalam kegiatan bertema “Tuwuh Ngrembaka, Ngembangno Lumbung Mataraman – Modernitas dalam Kearifan Lokal” tersebut.

Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan Lumbung Mataraman tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendorong masyarakat mengembangkan potensi yang tersedia di lingkungannya. Setiap kelompok dapat memilih komoditas dan pola pengelolaan sesuai kebutuhan serta karakter wilayah.

“Secara prinsip Lumbung Mataraman ini mengembangkan konsep nandur opo sing dipangan, dipangan opo sing ditandur. Tetapi dalam praktiknya muncul berbagai kreativitas. Ada yang menggabungkan dengan peternakan, perikanan maupun tanaman. Potensi lahan yang ada dikembangkan melalui inovasi dan pemilihan komoditas sesuai kebutuhan serta minat masyarakat,” kata Aris di JAP Nanggulan, Sabtu (3/10).

Menurut Aris, optimalisasi lahan menjadi penting karena ketersediaan ruang untuk pertanian semakin terbatas. Pengembangan tidak hanya memanfaatkan Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten, tetapi juga lahan milik warga yang selama ini belum digarap secara produktif.

Pendekatan yang digunakan berupa integrated farming dengan menggabungkan sejumlah kegiatan pertanian dalam satu pengelolaan. Model tersebut sekaligus diarahkan untuk melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, termasuk generasi muda dan keluarga miskin.

“Konsepnya integrated farming. Tidak hanya melibatkan generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin untuk terlibat aktif meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka,” ujarnya.

Saat ini, Lumbung Mataraman berbasis kalurahan telah dikembangkan di 23 kalurahan di DIY. Adapun kelompok berbasis gabungan kelompok tani (Gapoktan) mencapai hampir 300 kelompok.

Komoditas yang dikembangkan cukup beragam, terutama hortikultura, seperti sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga (TOGA), dan tanaman hias. Jenis tanaman lainnya disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Salah satu inovasi yang ditampilkan dalam Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 adalah “sawah palsu”. Model tersebut menggabungkan budidaya padi dan ikan dalam satu sistem sehingga satu lahan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan lebih dari satu komoditas.

Aris berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ajang menampilkan hasil inovasi. Menurut dia, berbagai praktik yang sudah dikembangkan kelompok dapat menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lain untuk menyesuaikan pola pertanian dengan potensi wilayahnya.

“Orang lain bisa meniru aktivitas yang sesuai dengan potensi daerahnya. Pengalaman teman-teman juga menunjukkan bahwa usaha di dunia pertanian masih bisa bergairah, tidak hanya bagi generasi yang lebih tua, tetapi juga generasi milenial dengan menggabungkan IoT dan teknologi dalam budidaya,” jelasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmad, saat membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan penguatan ketahanan pangan perlu dimulai dari lingkungan terdekat masyarakat.

Menurutnya, pekarangan rumah maupun lahan kelompok tani dapat berperan dalam menyediakan pangan apabila dikelola berdasarkan keunggulan dan karakteristik wilayah masing-masing.

“Tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama, tidak semua kelompok harus menggunakan pola yang sama. Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan,” ungkap Noviar.

Ia menambahkan, demonstration plot (demplot) dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar bersama bagi petani dan penyuluh. Pemanfaatan teknologi pertanian juga dapat dipadukan dengan kearifan lokal untuk menguji pola budidaya, pengelolaan air, pemupukan, serta integrasi tanaman, ternak, dan perikanan.

“Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup—hidup di pekarangan keluarga, di kelompok tani, dan dalam pengetahuan masyarakat bahwa tanah yang dikelola dengan ketekunan serta kebersamaan akan selalu memberi kehidupan,” tegasnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.