Seribu Pembatik Ramaikan Malioboro, Batik Didorong Dekat dengan Generasi Muda

Minggu, 04 Okt 2026, 20:40 WIB

YOGYAKARTA – Membatik dengan canting membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Nilai itulah yang coba diperkenalkan kepada generasi muda melalui Simfoni 1001 Pembatik di sepanjang Jalan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (3/10). Sebanyak 1.000 peserta terlibat dalam kegiatan membatik bersama yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Batik Nasional 2026 dan HUT ke-270 Kota Yogyakarta.

Kegiatan membatik berlangsung mulai dari kawasan Toko Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Sebelum membatik bersama, rangkaian kegiatan diawali pelepasan sepeda batik pada pukul 06.00 WIB dengan garis finis di Titik Nol Kilometer.

Ket. Foto: Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan saat ikut melihat peserta membatik di sepanjang jalan Malioboro. — Sumber: Dok. Istimewa

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan konsistensi Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia dalam menjaga dan mengembangkan batik.

“Ini kesempatan pertama saya memegang batik. Yang paling penting adalah ini dimulai dengan canting,” jelas Wawan saat diwawancarai, Sabtu (3/10).

Menurut Wawan, penggunaan canting dalam proses membatik tidak sekadar menghasilkan motif pada kain. Proses tersebut mengandung nilai kesabaran dan ketelitian yang dinilai penting untuk dikenalkan kepada generasi muda yang saat ini terbiasa dengan aktivitas serba cepat.

“Buat orang yang kesabarannya, kalau anak muda sekarang bilang kesabaran saya setipis tisu, ini kayaknya tantangan besar,” ujarnya.

Ia juga melihat aktivitas membatik dapat melatih konsentrasi dan ketenangan. Menurutnya, kesalahan dalam menggerakkan canting dapat membuat malam keluar dari pola yang telah dibuat.

“Membatik itu juga salah satu cara healing, alias mindful. Harus mindful karena kalau tidak pasti belok-belok, mencong-mencong,” katanya.

Wawan menegaskan upaya menjaga keberadaan batik tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan masyarakat dan berbagai unsur diperlukan agar batik tetap menjadi bagian dari kehidupan sekaligus berkembang menghadapi perubahan zaman.

Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian Emi Suryandari mengatakan pengembangan batik perlu berjalan beriringan antara aspek budaya dan industri. Dengan demikian, batik tetap menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus memiliki daya saing dan mampu berkembang secara berkelanjutan.

“Upaya tersebut kami arahkan untuk bagaimana batik sebagai industri atau sebagai budaya kita itu industrinya bisa tetap tumbuh, mempunyai daya saing, inovasi, dan juga berkelanjutan,” ungkapnya.

Untuk mendukung industri, pemerintah memberikan sejumlah fasilitasi, antara lain sertifikasi halal, SNI industri hijau, dan verifikasi gas rumah kaca. Kementerian Perindustrian juga menjalankan program Batik Go to Government yang mengajak 628 instansi pemerintah di seluruh Indonesia untuk mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia.

Emi mengingatkan pemahaman terhadap batik tidak cukup hanya dengan melihat motif yang terdapat pada kain. Proses pembuatannya juga menjadi unsur penting dalam melihat batik sebagai warisan budaya.

“Batik ini bukan hanya sekadar kain yang terlihat seperti motif batik, tetapi prosesnya pun juga proses membatik,” ujarnya.

Karena itu, masyarakat didorong untuk menggunakan batik asli Indonesia sekaligus ikut menjaga keberlangsungan pelaku usaha yang bergerak di bidang tersebut.

“Pelestarian batik membutuhkan gerakan bersama,” katanya.

Emi menilai generasi muda mempunyai peran penting dalam menentukan keberlanjutan batik Indonesia. Ia pun mengajak para peserta muda dalam Simfoni 1001 Pembatik tidak berhenti pada mengikuti kegiatan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap batik.

“Tolong cintai batik asli Indonesia. Karena kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan,” tegasnya.

Pesan tersebut mendapat respons dari pelajar yang mengikuti kegiatan. Sarah (17), pelajar SMP Muhammadiyah Kasihan, mengatakan Simfoni 1001 Pembatik memberinya pengalaman baru untuk mengenal budaya lokal melalui praktik secara langsung.

Ia menilai proses membatik, khususnya batik tulis, membutuhkan ketelitian karena setiap goresan harus mengikuti pola agar malam tidak keluar dari batas.

“Kita harus lestarikan budaya batik seperti ini karena menginspirasi dari zaman-zaman lampau. Terutama dalam membatik tulis membutuhkan ketelitian. Kita melukis batik pelan-pelan agar tidak meluber keluar dari pola. Tetapi membatik ternyata kegiatan yang sangat seru,”pungkasnya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.