Candi Sambisari: Cerita Peradaban yang Terkubur Lahar Merapi
📅 Jumat, 11 Sep 2026, 07:13 WIB | Oleh: Haryo BronoKisah penemuan Candi Sambisari justru bermula dari aktivitas yang sangat sederhana: mencangkul sawah. Pada 1966, seorang petani yang sedang mengolah tanah menemukan batu yang terasa berbeda ketika terkena mata cangkul. Setelah diperiksa, batu tersebut ternyata memiliki pahatan dan merupakan bagian dari bangunan candi. Penemuan itu kemudian dilaporkan dan ditindaklanjuti melalui penelitian serta penggalian arkeologis.
Masyarakat tentu saja kurang menyangka bahwa di bawah permukaan tanah desa mereka tersimpan sebuah kompleks candi. Awalnya, mereka mengira itu hanya bongkahan batu biasa. Namun, semakin banyak tanah yang disingkirkan, semakin jelas bahwa batu tersebut bukan benda tunggal, melainkan bagian dari bangunan yang jauh lebih besar.
Penggalian kemudian mengungkap keberadaan kompleks percandian yang berada sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah. Penemuan itu membuka kembali halaman sejarah yang selama berabad-abad tertutup tanah. Diperlukan waktu lebih dari dua puluh tahun untuk menggali dan mengembalikan candi seperti tampak saat digunakan sebagai tempat pemujaan.
Penemuan Candi Sambisari ternyata hanyalah awal dari perjalanan panjang. Pasalnya, saat bangunan ini ditemukan, kondisinya dalam keadaan runtuh dan batu-batunya berserakan. Bagian atap candi ditemukan dalam kondisi hancur dan sejumlah batu bangunan terpisah pada kedalaman yang berbeda.
Proses penelitian, ekskavasi, rekonstruksi, dan pemugaran pun berlangsung bertahun-tahun. Catatan pengelolaan situs menyebut rekonstruksi sementara berlangsung pada 1966–1975, kemudian pemugaran dilanjutkan pada 1975/1976 hingga 1986/1987. Pada 1987, Candi Sambisari akhirnya resmi dinyatakan selesai dipugar.
Luas halaman luar kompleks Candi Sambisari adalah 50 meter × 48 meter (sekitar 2.400 meter persegi). Bangunan candi induknya berbentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 13,65 meter × 13,65 meter, serta tinggi bangunan diperkirakan mencapai 7,5 meter.
Dari bawah, dinding rumput yang mengelilingi situs membuat candi tampak semakin anggun sekaligus unik. Sementara dari atas tangga, pengunjung dapat melihat keseluruhan susunan kompleks dalam satu bidang pandang. Inilah salah satu pengalaman visual utama yang membedakan Sambisari dari candi-candi besar lainnya di Yogyakarta.
Jejak Dewa Siwa
Sebagai candi Hindu peninggalan tradisi Siwa, sejumlah unsur arsitektur dan arca di kompleks ini berhubungan langsung dengan pemujaan Dewa Siwa. Pada bagian luar bangunan utama terdapat relung-relung arca.
Di dalam relung-relung tersebut terdapat arca Durga Mahisasuramardini, Ganesha, dan Agastya, sementara di area dekat pintu masuk terdapat arca Mahakala dan Nandiswara. Di ruang utama (garbagriha), terdapat lingga dan yoni yang menjadi simbol utama pemujaan Siwa. Bagi pengunjung, detail-detail ini memberikan alasan kuat untuk memperlambat langkah saat mengitarinya.
Mengunjungi situs candi sebaiknya tidak sekadar memotret bangunan atau menjadikannya latar swafoto (selfie). Sangat disarankan untuk memperhatikan pola relief, bentuk batu, relung, susunan kaki candi, dan ornamen yang tersisa. Setiap bagian merupakan potongan informasi tentang bagaimana masyarakat Jawa pada masa itu membangun ruang keagamaan mereka.
Di balik fenomena bencana alam yang menjadi bagian dari sejarah manusia, Candi Sambisari memberikan pelajaran menarik tentang hubungan antara manusia, gunung api, dan peradaban. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!