Rupiah Hari Ini Justru Makin Tertekan Setelah BI Longgarkan Likuiditas
📅 Kamis, 22 Okt 2026, 17:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Pelemahan rupiah di tengah keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan Loan to Value/ Financing to Value (LTV/FTV) menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial belum cukup kuat meredam tekanan eksternal.
Kebijakan tersebut memang diarahkan untuk memperluas likuiditas perbankan, mendorong penyaluran kredit, dan menopang permintaan domestik, tetapi dampaknya terhadap nilai tukar tidak bersifat langsung.
Di tengah ketidakpastian global, arah suku bunga The Fed, dan risiko arus modal keluar, stabilitas rupiah tetap bergantung pada kepercayaan investor serta daya tarik aset domestik.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (22/10), bergerak melemah 38 poin atau 0,21 persen menjadi Rp18.060 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan bahwa pergerakan rupiah itu diiringi keputusan Bank Indonesia (BI) menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan Rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV).
“BI melanjutkan kebijakan makroprudensial untuk mendukung likuiditas rupiah, termasuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) dan memperpanjang kebijakan LTV/FTV,” ucapnya di Jakarta.
BI menurunkan GWM secara rata-rata bagi perbankan sebesar 2 persen guna memperkuat kecukupan likuiditas rupiah.
Lebih rinci, GWM untuk bank umum konvensional (BUK) diturunkan dari 9 persen menjadi 7 persen. Sementara bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) diturunkan dari 7,5 persen menjadi 5,5 persen.
Selain itu, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen membuat rupiah bergerak cenderung terbatas.
Yield Surat Berharga Negara (SBN) turut menurun di seluruh tenor seiring keputusan BI tahan suku bunga acuan. Yield SBN acuan tenor 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing tercatat di level 7,21 persen (-1 basis points/bps), 7,43 persen (-2 bps), 7,42 persen (-1 bps), dan 7,41 persen (-2 bps).
Volume perdagangan obligasi pemerintah pada Rabu (21/10) mencapai Rp24,39 triliun, naik dari Rp15,71 triliun pada Selasa (22/10).
Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia turun Rp2,37 triliun menjadi Rp918 triliun per 20 Oktober 2026, setara dengan 13,07 persen dari total outstanding.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp18.047 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.986 per dolar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!