IEU-CEPA Digadang-gadang Jadi Game Changer, Pasar Eropa dan Investasi Terbuka Lebar

Kamis, 10 Sep 2026, 22:20 WIB

JAKARTA – Perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) memasuki tahap penting menuju penandatanganan dan ratifikasi setelah melalui proses perundingan hampir satu dekade.

Kesepakatan ini diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, mendorong investasi, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Ket. Foto: Ilustrasi-Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi Komisi Eropa Maroš Šefčovič saat Penandatanganan Kesepakatan Substantif IEU-CEPA di Bali. — Sumber: Antara/ Humas Kemenko Perekonomian)

Dengan liberalisasi sebagian besar pos tarif kedua pihak, IEU-CEPA menjadi peluang strategis untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia ke pasar Eropa.

Namun, manfaat tersebut juga menuntut kesiapan pelaku usaha dan industri domestik agar mampu memenuhi standar serta persyaratan pasar Uni Eropa.

Perjanjian Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU‑CEPA) dinilai dapat memberikan keuntungan ganda (double advantage) untuk Indonesia.

Indonesia’s Head of Research DBS Group Research William Simadiputra mengatakan perjanjian ini menjadi salah satu windfall akibat adanya tarif Amerika Serikat dari segi proteksionisme, sehingga membuat Indonesia menangkap peluang kerja sama lebih dalam dengan negara-negara di Eropa.

"Ini sebenarnya memberikan double advantage buat Indonesia," ujar William dalam media briefing di Jakarta, Kamis (10/9).

Menurut dia, melalui IEU-CEPA ini maka Indonesia dapat berpeluang menjadi salah satu manufacturing hub buat perusahaan-perusahaan Eropa jika sampai mereka harus seperti membangun pabrik baru mungkin di negara-negara tertentu. Mungkin bisa seperti memperhitungkan Indonesia sebagai salah satu destinasi alternatif.

"Jadi ini menjadi salah satu juga positif poin buat Indonesia punya foreign direct investment (FDI). Hal yang mungkin bisa kita lihat peluang berikutnya adalah sebenarnya komoditas Indonesia juga seperti kelapa sawit yang mungkin dapat memberikan faktor yang lebih luas juga," katanya.

Dalam kesempatan sama, Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan penguatan hubungan antara Indonesia dan Uni Eropa sangatlah penting. Bahkan, Uni Eropa secara umum telah mencermati Asia secara sangat dekat.

"Ini adalah kabar yang sangat baik karena hal ini juga membuka Benua Biru (Eropa) tersebut untuk bekerja sama secara erat dengan Indonesia. Salah satu sektornya tentu saja adalah sektor otomotif," kata Radhika.

Saat ini negara-negara Eropa seperti Jerman, lanjutnya, memang menghadapi tantangan akibat apa yang ditimbulkan dari sektor kendaraan listrik (EV), tetapi kolaborasi dengan Indonesia dalam hal memiliki rantai pasokan komoditas akan sangat membantu.

"Jadi, saya tentu melihat ini sebagai penyeimbang yang baik (counterbalance) terhadap risiko-risiko geopolitik," katanya.

Sebagai informasi, Pemerintah menargetkan dokumen Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) rampung ditandatangani pada Oktober 2026.

Setelah proses ratifikasi, kerangka kerja sama perdagangan tersebut akan dibawa ke parlemen masing-masing untuk dibahas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, nantinya bakal diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) agar IEU-CEPA menjadi prioritas dalam pembahasan di tingkat DPR RI.

Setelah aturan turunan berupa Peraturan Pemerintah (PP) terbit, IEU-CEPA diharapkan bisa mulai berlaku mulai awal tahun 2027.

Lebih lanjut, Airlangga menilai implementasi perjanjian dagang itu akan menjadi game changer bagi Indonesia karena membuka akses pasar yang lebih luas bagi kedua pihak.

  • IEU-CEPA

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.