Dompet Dhuafa dan PFI Dorong Kampanye Menyusui sebagai Investasi Masa Depan
Jumat, 02 Okt 2026, 17:10 WIBJAKARTA - Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) bersama Dompet Dhuafa, doctorSHARE, Nutrition International, dan Scaling Up Nutrition Civil Society Alliance (SUN CSA) meluncurkan kampanye bersama "Menyusui Selamatkan Nyawa, Hemat Biaya". Kampanye tersebut diluncurkan dalam Philanthropy Learning Forum (PLF) #98 di Jakarta, Rabu (30/9).
Kampanye ini membawa pesan bahwa menyusui tidak hanya berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Menyusui juga dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan kesejahteraan keluarga.
Forum tersebut mengangkat tema "Investasi Menyusui untuk Menyelamatkan Kehidupan dan Menghemat Biaya Kesehatan". Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, filantropi, akademisi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan komunitas untuk membahas penguatan dukungan terhadap menyusui.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum, cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan di Indonesia meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Meski menunjukkan perkembangan positif, masih terdapat tantangan seperti dukungan di tempat kerja, norma sosial dan budaya, akses konseling menyusui berkualitas, serta koordinasi lintas sektor.
Karena itu, dukungan terhadap menyusui dinilai perlu menjadi tanggung jawab bersama. Peran tersebut mencakup keluarga, layanan kesehatan, komunitas, dunia usaha, pemerintah, hingga organisasi masyarakat sipil.
Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini mengatakan menyusui memiliki kaitan dengan tumbuh kembang dan masa depan anak. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak untuk memperkuat dukungan sekaligus menjadi ruang bertukar gagasan dan pembelajaran praktik baik.
Sementara itu, Dewan Pakar Perhimpunan Filantropi Indonesia Prof. Dr. R. Budi Haryanto, S.K.M., M.Kes., M.Sc., mengatakan menyusui tidak hanya berhubungan dengan kesehatan ibu dan anak. Menurutnya, praktik tersebut juga berkaitan dengan tumbuh kembang anak, kesejahteraan keluarga, dan masa depan.
"Menyusui merupakan bagian penting dari kesehatan ibu dan anak. Menyusui juga mempengaruhi tumbuh kembang anak dan berdampak langsung pada kesejahteraan keluarga. Karena itu, menyusui dapat menjadi investasi pada masa depan," ujar Budi.
Budi menambahkan bahwa evidence dan pengetahuan yang dibahas dalam forum dapat menjadi dasar untuk memperkuat kebijakan dan investasi. Dengan demikian, kampanye tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi dialog awal untuk mendorong investasi dalam dukungan menyusui.
Perspektif pembangunan juga disampaikan Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas Diah Lenggogeni, S.T., M.Sc. Ia menempatkan menyusui sebagai bagian dari intervensi 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sekaligus investasi dalam pembangunan sumber daya manusia.
Pembahasan forum turut menyoroti sejumlah kebutuhan untuk memperkuat ekosistem menyusui. Hal itu mencakup penguatan konseling keluarga, kapasitas tenaga kesehatan, dukungan di fasilitas kesehatan, lingkungan kerja dan ruang publik yang ramah ibu menyusui, serta keterlibatan pemerintah daerah dan mitra filantropi untuk menjangkau kelompok rentan.
Pada sesi utama, Senior Global Portfolio Director, Health Economics and Nutrition Financing Nutrition International Dylan Walters, PhD., memaparkan Global Investment Case for Improved Breastfeeding. Ia menyampaikan bahwa peningkatan dukungan menyusui dalam 10 tahun ke depan diperkirakan dapat mencegah kematian 224.000-263.000 anak dan 160.000 kematian ibu.
Dukungan tersebut juga diperkirakan dapat mencegah hilangnya 133 juta tahun pendidikan dan 382 juta poin IQ. Selain itu, investasi dalam dukungan menyusui disebut berpotensi menghasilkan manfaat sosial-ekonomi jangka panjang hingga USD 357 miliar.
Dalam kondisi sumber daya yang terbatas, terdapat sejumlah intervensi yang penting dipertimbangkan untuk diperluas cakupannya hingga 75 persen. Intervensi tersebut meliputi:
- Konseling dan edukasi;
- Rumah sakit sayang bayi;
- Kampanye media;
- Perlindungan dari pemasaran produk pengganti ASI yang tidak sesuai ketentuan;
- Cuti maternitas;
- Dukungan menyusui di tempat kerja.
Diskusi panel juga membahas berbagai tantangan dalam membangun ekosistem menyusui yang lebih kuat. Panel menghadirkan dr. Lovely Daisy, MKM., Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI; Dr. Adiatma Y. M. Siregar dari Center for Economics and Development Studies (CEDS) Universitas Padjadjaran; dr. Yeni Purnamasari, MKM., General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa; dr. Hikmah Kurniasari, M.K.M., M.A.R.S., CIMI, IBCLC, Wakil Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI); serta Tutuk Utomo Nuradhy, Ketua Pengurus doctorSHARE.
Pembahasan mencakup kesenjangan konseling menyusui, inisiasi menyusu dini, dukungan keluarga dan masyarakat, lingkungan kerja, hingga beban ekonomi akibat praktik menyusui yang tidak optimal. Dompet Dhuafa juga berkontribusi melalui penyediaan layanan dukungan menyusui, penguatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader, serta pendampingan ibu menyusui di komunitas dan situasi bencana.
PFI bersama anggota dan mitra kemudian mendorong perubahan cara pandang mengenai keberhasilan menyusui. Keberhasilan menyusui dinilai tidak semata-mata menjadi tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan ekosistem pendukung yang melibatkan keluarga, fasilitas kesehatan, tempat kerja, komunitas, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat sipil.
Bagi sektor filantropi, ruang kontribusi terhadap penguatan ekosistem menyusui juga terbuka melalui berbagai bentuk dukungan. Bentuknya antara lain pembiayaan program, penguatan riset dan evidence, inovasi, edukasi publik, penguatan komunitas, serta kolaborasi lintas sektor.
- menyusui
- Dompet Dhuafa
- ASI Eksklusif
- air susu ibu (ASI)
- kesehatan Indonesia
- Filantropi Indonesia
- Kesehatan Ibu dan Anak
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Tuai Sorotan, Buruh Desak Kepentingannya Diakomodasi
-
40 Penyandang Tunanetra Berlomba di MTQ Nasional
-
Gunung Sinabung Siaga, Kementerian PU Cek Kesiapan Infrastruktur Pengendali Lahar
-
Sekda Jateng Gaungkan MTQ Nasional Lewat Lari
-
Pencarian Jurnalis Hilang Makin Intens, Kapal Polisi Sanjaya Fokus ke Sekitar Area Gunung Anak Krakatau
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.