Manchester City Dinyatakan Bersalah Langgar Aturan Finansial Premier League

Kamis, 01 Okt 2026, 00:10 WIB

MANCHESTER – Manchester City dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran serius terhadap aturan finansial Premier League selama periode sembilan musim. Putusan komisi independen tersebut diumumkan Premier League pada hari Rabu (30/9) dan berpotensi membawa konsekuensi besar bagi klub yang pernah menjadi juara Liga Inggris tersebut.

Komisi independen menyatakan Manchester City melakukan serangkaian pengaturan kontrak komersial yang disebut sebagai “sham contracts” atau kontrak semu. Skema tersebut dinilai digunakan untuk menggelembungkan pendapatan klub dan menekan biaya lebih dari 900 juta poundsterling atau sekitar 19,9 triliun rupiah dalam periode 2009-10 hingga 2017-18.

Ket. Foto: Ilustrasi Etihad Stadium, markas Manchester City. — Sumber: Manchester City

Menurut temuan komisi, sebagian sponsor hanya diwajibkan membayar sebagian dari nilai kesepakatan. Sisa pembayaran disebut dibiayai oleh Abu Dhabi United Group Investment and Development (ADUG), perusahaan yang memiliki Manchester City.

Pengaturan lainnya, menurut komisi, memungkinkan City mencatat biaya operasional lebih rendah daripada pengeluaran sebenarnya. Akibatnya, laporan keuangan klub dinilai tidak mencerminkan kondisi finansial yang sesungguhnya.

Komisi menyimpulkan bahwa skema tersebut membuat City gagal melaporkan pendapatan dan pengeluaran secara akurat untuk keperluan aturan finansial Premier League maupun regulasi Financial Fair Play UEFA. Jika seluruh kesepakatan tersebut dilaporkan secara akurat, City dinilai akan melampaui batas pengeluaran dalam jumlah yang sangat besar.

Meski putusan pelanggaran telah dikeluarkan, belum ada sanksi yang dijatuhkan kepada Manchester City. Premier League menyatakan persoalan hukuman akan dibahas dalam sidang terpisah oleh komisi independen.

Aturan Premier League memungkinkan komisi menjatuhkan sejumlah sanksi, termasuk denda, pengurangan poin, dan hukuman olahraga lainnya. City juga memiliki hak untuk mengajukan banding atas putusan tersebut dan batas waktunya adalah Jumat, 2 Oktober 2026.

CEO Premier League Richard Masters menyebut keputusan tersebut menetapkan fakta mengenai apa yang terjadi di Manchester City selama periode yang menjadi objek pemeriksaan.

“Keputusan ini merinci bagaimana klub secara sistematis melanggar aturan Premier League selama hampir satu dekade,” kata Masters.

Masters juga menyebut kasus tersebut sebagai perkara disipliner paling signifikan dalam sejarah Premier League.

Premier League menyatakan proses selanjutnya akan dipercepat setelah komisi independen menyelesaikan putusan mengenai pelanggaran.

Manchester City menyatakan terkejut dengan putusan tersebut dan berencana menggunakan jalur banding yang tersedia.

Klub menilai putusan komisi mengandung kesalahan material terkait hukum, prinsip, maupun fakta. City juga menegaskan akan terus memperjuangkan posisi mereka melalui proses hukum yang tersedia.

Kasus ini bermula dari investigasi Premier League yang dimulai pada Desember 2018. Pada Februari 2023, Premier League secara resmi membawa sejumlah dugaan pelanggaran City ke komisi independen. Sidang berlangsung selama 42 hari dan berakhir pada Desember 2024.

Selain pelanggaran finansial, komisi juga menyatakan City melakukan pelanggaran terhadap kewajiban untuk bekerja sama dalam investigasi. Dari empat dugaan pelanggaran terkait kerja sama dengan Premier League, tiga dinyatakan terbukti.

Premier League menyatakan City melakukan upaya untuk menghentikan atau menghambat penyelidikan selama proses investigasi empat tahun.

Kasus tersebut muncul setelah Manchester City menjelma menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Inggris sejak diambil alih Sheikh Mansour pada 2008.

Dalam periode tersebut, City meraih berbagai gelar domestik dan sukses menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya pada 2023.

Namun, putusan terbaru membuat catatan finansial klub pada periode yang diperiksa kembali menjadi sorotan. Dampak terhadap gelar-gelar masa lalu, posisi City di Premier League, maupun kemungkinan hukuman olahraga lainnya belum dapat dipastikan karena proses sanksi dan banding masih berjalan.

Mantan chairman Manchester City, David Bernstein, sebelumnya mengatakan jika banding klub gagal, Manchester City harus menghadapi konsekuensi berat. Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Bernstein dan bukan keputusan resmi Premier League.

Untuk saat ini, satu hal yang telah dipastikan adalah Manchester City dinyatakan bersalah oleh komisi independen, tetapi jenis dan besaran sanksinya belum ditentukan. Proses hukum berikutnya akan menentukan konsekuensi akhir bagi klub.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.