Usai Sade Terbakar, Kampung Adat Ende Kini Kebanjiran Wisatawan

Jumat, 04 Sep 2026, 15:25 WIB

Lombok Tengah - Kampung Adat Ende di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, menjadi alternatif tujuan wisata budaya yang semakin diminati oleh para wisatawan setelah kebakaran melanda Kampung Adat Sade.   

Pemandu lokal bernama Daigo mengatakan perpindahan rute kunjungan pelancong terjadi mengingat lokasi Kampung Ende hanya berjarak 2,3 kilometer dari Kampung Sade.

Ket. Foto: Kampung Adat Ende yang mempertahankan arsitektur khas rumah adat suku Sasak di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. — Sumber: Antara

"Kenaikan ini sebagian dipicu oleh berpindahnya rute kunjungan sejumlah pelancong setelah terjadi kebakaran di Desa Adat Sade," ucap dia di Lombok Tengah, Jumat (4/9).

Daigo menuturkan sebelum musibah kebakaran di Sade wisatawan asing juga telah rutin datang ke Kampung Ende. Jumlah pengunjung terus meningkat dari hari ke hari dengan rata-rata 400 orang saat hari kerja dan 700 orang saat akhir pekan.

Kampung Adat Ende mulai dibentuk pada 1998 dengan hanya lima rumah adat tradisional. Setelah diresmikan sebagai objek wisata pada 2001, kawasan tersebut berkembang menjadi permukiman budaya yang kini dihuni sekitar 35 kepala keluarga.

Keaslian tradisi, arsitektur rumah adat Sasak, serta keramahan masyarakat menjadi daya tarik utama yang membuat wisatawan tetap memilih berkunjung ke Kampung Ende.   

"Alhamdulillah, setiap hari semakin banyak pengunjung datang ke Kampung Sasak Ende. Bahkan sebelum ada musibah kebakaran di kampung sebelah, wisatawan asing sudah sering berkunjung ke sini," ucap Daigo.   

Kunjungan wisatawan yang meningkat membawa dampak ekonomi bagi warga dan pelaku usaha mikro di kawasan Kampung Adat Ende.

Pedagang cenderamata bernama Ina Ganjah mengaku pendapatannya meningkat signifikan saat musim liburan dan akhir pekan.

Perempuan asal Jawa yang telah menetap di Kampung Ende selama 12 tahun itu mengatakan omzet hariannya pada hari biasa berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, sedangkan saat ramai wisatawan dapat mencapai Rp600 ribu sampai Rp700 ribu per hari.

Selain menerima lonjakan wisatawan, pengelola Kampung Adat Ende juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran menyusul musibah yang terjadi di Kampung Adat Sade pada 22 Agustus 2026.

Pengelola menyiagakan alat pemadam api ringan yang diperoleh melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) sebagai bentuk antisipasi lantaran rumah adat Sasak didominasi atap ilalang dan rangka kayu yang sangat rentan terhadap api.

  • Kampung Adat Ende

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.