Iran Balas Serangan AS, Pangkalan Militer Amerika di Timur Tengah Jadi Sasaran

Rabu, 02 Sep 2026, 19:05 WIB

TEHERAN – Iran melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah situs dan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di berbagai wilayah Timur Tengah pada Rabu (2/9), di tengah meningkatnya eskalasi kekerasan setelah serangan besar-besaran AS dan tewasnya empat orang dalam sebuah pesta pernikahan di Iran.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan serangan terhadap sejumlah pangkalan AS di Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, serta wilayah otonom Kurdistan Irak.

Ket. Foto: Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang “jauh lebih keras dan lebih besar” jika membalas serangan AS, yang menurut militer dan media pemerintah Iran menewaskan 18 orang. — Sumber: AFP

Serangan tersebut menjadi bagian dari pertukaran serangan paling sengit dalam beberapa pekan terakhir dalam konflik yang telah berlangsung selama enam bulan.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan yang "jauh lebih keras dan lebih besar" jika membalas serangan Washington. Menurut militer dan media pemerintah Iran, serangan AS tersebut menewaskan sedikitnya 18 orang.

Eskalasi terbaru semakin memperdalam kebuntuan dalam perang tersebut. Iran masih mempertahankan kendali atas jalur ekspor minyak melalui Selat Hormuz, sementara AS terus mendorong langkah untuk melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Empat Orang Tewas

Bulan Sabit Merah Iran pada Selasa (1/9) mengatakan empat orang, termasuk seorang anak, tewas dan lebih dari 50 lainnya terluka dalam serangan AS ketika mereka menghadiri pesta pernikahan di wilayah selatan Iran.

Sebuah video yang dibagikan akun pemerintah Iran memperlihatkan puing-puing dan kerusakan parah di lokasi yang disebut sebagai tempat berlangsungnya pesta pernikahan di Sirik setelah serangan tersebut. Dalam video itu terdengar suara warga berteriak di tengah lokasi yang porak-poranda.

Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengecam AS dan menyebut negara tersebut sebagai "Setan".

"Jika suatu kekuatan bertindak seperti Setan, memilih target seperti Setan, dan membunuh seperti Setan, itu adalah Setan. Melindungi Setan junior yang melakukan hal yang sama? Itu adalah Setan Agung," tulisnya melalui platform X.

Militer AS tidak memberikan tanggapan langsung mengenai serangan terhadap pesta pernikahan tersebut.

Namun, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Tim Hawkins, mengatakan bahwa "militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC", merujuk pada Garda Revolusi Iran.

Serangan AS dan Balasan Iran

Babak terbaru pertempuran dimulai ketika Washington menyerang sejumlah target di Iran pada Minggu (30/8), yang menjadi serangan pertama yang diketahui dalam beberapa pekan terakhir.

Pasukan Iran kemudian menargetkan personel AS di Yordania dan UEA. Dalam rangkaian serangan tersebut, proyektil juga menghantam dua kapal tanker minyak meskipun tidak ada pihak yang secara resmi mengklaim serangan tersebut.

Trump mengatakan serangan AS yang disebutnya "besar dan dahsyat" pada Minggu merupakan "balasan atas upaya Iran yang gagal untuk menambahkan ranjau laut ke Selat Hormuz" serta atas "penembakan delapan rudal Iran, yang semuanya berhasil ditembak jatuh, ke Pangkalan Militer kita di Yordania".

Serangan AS berlanjut pada Selasa (1/9). Televisi pemerintah Iran melaporkan sejumlah ledakan di wilayah selatan negara itu, termasuk di sepanjang Selat Hormuz dan sebuah pulau di Teluk.

Media tersebut juga melaporkan pasukan AS menyerang sebuah bandara di Provinsi Kerman, Iran bagian selatan.

IRNA melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas dan delapan lainnya terluka dalam serangan rudal di Provinsi Khuzestan, Iran bagian selatan.

IRGC juga mengatakan empat anggota pasukan udaranya tewas dalam serangan AS di Provinsi Kermanshah, Iran bagian barat. Sementara itu, tiga anggota pasukan paramiliter dilaporkan tewas dalam serangan di Pulau Lavan, Teluk Persia.

Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengatakan pihaknya melancarkan "serangan rudal dan drone terkoordinasi terhadap pangkalan AS di Erbil".

Menurut pernyataan yang dimuat kantor berita negara IRNA, serangan tersebut menghancurkan pusat perawatan, gudang, serta "sistem panduan aerostat pengawasan AS".

Seorang jurnalis AFP melaporkan mendengar sejumlah ledakan di sekitar Bandara Erbil, yang menjadi salah satu lokasi persinggahan pasukan koalisi.

Garda Revolusi juga mengumumkan serangan rudal balistik terhadap kamp pelatihan Marinir AS di Yordania, di kawasan Teluk Aqaba yang berada dekat perbatasan Israel dan Arab Saudi, menurut kantor berita Iran Tasnim.

Di kawasan Teluk yang kaya minyak, sirene serangan udara terdengar di Bahrain dan Kuwait.

Pihak berwenang Kuwait mengatakan sebuah drone Iran memicu kebakaran di sebuah kompleks perumahan. Kebakaran berhasil dipadamkan dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Trump Kembali Peringatkan

Juru bicara Garda Revolusi Iran, Hossein Mohebi, memperingatkan melalui platform X bahwa Washington "akan menyesali serangan barunya".

Ia juga mengatakan "hukuman berat menanti para penyerang".

Perang di Timur Tengah tersebut dimulai pada akhir Februari setelah serangan AS-Israel terhadap Iran yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran kemudian runtuh setelah serangkaian serangan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.

Sebelum perang, selat strategis tersebut menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Insiden di Selat Hormuz terus berlanjut. Pada Rabu, Garda Revolusi Iran mengatakan dua kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak ranjau "atas desakan militer AS untuk melintas melalui jalur ilegal".

Trump kembali memperingatkan Iran melalui platform Truth Social pada Selasa bahwa jika Teheran membalas serangan AS, Washington akan kembali melancarkan serangan.

"Mereka akan dihantam lagi pada tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi, tetapi itu bukanlah serangan terbesar dari semuanya," tulis Trump.

"Hampir tidak akan ada yang tersisa dari Republik Islam Iran!" lanjutnya.

Di tengah kebuntuan diplomatik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Selasa bersumpah akan menandingi setiap langkah AS untuk kembali ke kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang.

Pezeshkian juga memperingatkan bahwa kembalinya AS pada "kebijakan tekanan dan ancaman" dapat menggagalkan jalur diplomasi.

Eskalasi serangan antara kedua negara kini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah, sekaligus mengancam stabilitas jalur energi global yang bergantung pada Selat Hormuz.

  • Konflik AS-Iran

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.