PBB Peringatkan Bencana Iklim setelah Banjir Bandang di Nepal-Tibet

Senin, 31 Agu 2026, 03:05 WIB

KATHMANDU - Menteri Luar Negeri Nepal, dan Kepala Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Sabtu (29/8) memperingatkan tentang meningkatnya ancaman pemanasan global terhadap Himalaya, sementara tim penyelamat berpacu untuk menemukan ribuan orang yang hilang setelah banjir besar di sepanjang perbatasan dengan Tiongkok.

 Badan Survei Geologi Amerika Serikat (AS), mengatakan, bencana pada hari Rabu di dekat perbatasan dataran tinggi itu disebabkan oleh runtuhnya gletser yang mengirimkan aliran puing-puing ke hilir, dengan hampir 3.000 orang hilang dan 682 orang dipastikan tewas.

Ket. Foto: Upaya pencarian korban di Pusat Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal. — Sumber: Arun SANKAR/AFP

Meskipun penyebab pasti runtuhnya gletser belum jelas, perubahan iklim menyebabkan gletser mencair di seluruh dunia, sehingga meningkatkan risiko bencana semacam itu. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal mengatakan bahwa ia telah berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, dan sepakat untuk meningkatkan pertukaran data hidrologi secara realtime, menurut sebuah pernyataan.

Dalam sebuah pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Bapak Wang mengatakan bahwa Beijing telah berbagi informasi penting dengan Nepal, termasuk citra daerah bencana, data satelit dan hidrologi, serta peringatan dini tentang danau penghalang di hulu.

Wang menambahkan bahwa Tiongkok dan Nepal terikat oleh pegunungan dan sungai, berbagi takdir yang sama. Sebelumnya, Khanal mengatakan kepada wartawan bahwa Nepal membutuhkan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami dinamika perubahan ekosistem Himalaya dan risiko yang ditimbulkannya bagi negara yang terkurung daratan dan dikelilingi oleh India dan Tiongkok. “Hal itu mencakup tidak hanya risiko bagi Nepal dan masyarakat hilir, tetapi juga bagi tetangga kita di utara, yaitu Tiongkok,” katanya.

Gletser Meleleh Lebih Cepat

Gletser Himalaya, yang menyediakan air penting bagi hampir dua miliar orang, mencair lebih cepat seiring dengan pemanasan global, sehingga membuat masyarakat rentan terhadap bencana yang tidak terduga dan mahal. Khanal mengatakan perubahan iklim membutuhkan tindakan internasional.

“Kami selalu menekankan bahwa Nepal menyumbang kurang dari atau hanya sekitar 0,01 persen gas rumah kaca, tetapi kami, rakyat Nepal, adalah salah satu korban utama perubahan iklim dan dampaknya,” tambahnya.

“Oleh karena itu, kami meminta komunitas global untuk turut serta melestarikan ekosistem Himalaya,” katanya. Sementara itu, kepala urusan iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang merupakan pengingat yang menghancurkan tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.