Kerukunan Beragama Jadi Modal Sosial Penting untuk Pembangunan Buleleng

Senin, 31 Agu 2026, 06:00 WIB

Buleleng, Bali - Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Bali, Komang Agus Dharmayoga Kantina menilai kerukunan antarumat beragama menjadi modal sosial penting dalam mendukung pembangunan Kabupaten Buleleng.

"Pembangunan tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kondisi sosial yang aman dan harmonis," kata Dharmayoga di Singaraja, Bali, Minggu (30/8).

Ket. Foto: Akademisi Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja Komang Agus Dharmayoga Kantina, S.Sos., M.Sosio. — Sumber: Antara

Ia menjelaskan, secara sosiologis, kerukunan tidak sekadar berarti tidak adanya konflik, tetapi juga kemampuan masyarakat yang berbeda agama, suku, dan latar belakang untuk hidup berdampingan, saling menghormati, serta bekerja sama demi kepentingan bersama.

"Berbeda-beda agama tetapi tetap dalam satu persaudaraan. Dalam konteks masyarakat Buleleng, nilai menyama braya menjadi modal kultural yang penting karena membangun kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber jarak sosial," ujarnya.

Menurut dia, kehidupan masyarakat Buleleng menunjukkan adanya interaksi lintas agama dalam berbagai ruang sosial, mulai dari lingkungan tempat tinggal, kegiatan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga aktivitas kemasyarakatan.

Dalam kajian sosiologi, kondisi tersebut merupakan bentuk integrasi sosial ketika kelompok yang berbeda mampu mempertahankan identitas masing-masing, sekaligus memiliki norma dan kepentingan bersama sebagai perekat kehidupan sosial.

Dharmayoga mengatakan kerukunan juga berkaitan dengan modal sosial yang mencakup kepercayaan, norma bersama, dan jaringan sosial. Semakin kuat kepercayaan antarkelompok, semakin mudah masyarakat membangun kerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

"Kalau masyarakat memiliki kepercayaan satu sama lain, biaya sosial untuk membangun kerja sama menjadi lebih rendah. Sebaliknya, prasangka dan konflik justru menguras energi masyarakat yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan," katanya.

Ia menilai pemerintah, tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi kemasyarakatan, desa adat, dan kelompok masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga komunikasi serta membuka ruang dialog antarkelompok di Buleleng.

Di sisi lain, tantangan kerukunan kini tidak hanya muncul dalam interaksi langsung, tetapi juga di ruang digital. Penyebaran informasi yang mengandung ujaran kebencian, stereotip, dan sentimen identitas dapat memicu prasangka apabila masyarakat tidak memiliki literasi digital yang memadai.

Karena itu, Dharmayoga mendorong penguatan pendidikan toleransi dan literasi digital, terutama bagi generasi muda, serta memperbanyak kegiatan lintas agama yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dan bekerja sama secara langsung.

"Kerukunan harus terus dirawat melalui komunikasi, saling menghormati dan kerja sama. Perbedaan agama jangan menjadi sekat, tetapi menjadi kekayaan sosial. Jika masyarakat rukun, pembangunan Buleleng akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan," ujarnya.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.