Partai Putin Menang dalam Pemilu

Selasa, 22 Sep 2026, 02:45 WIB

MOSKWA - Partai Russia Bersatu pimpinan Vladimir Putin memenangkan mayoritas mutlak yang belum pernah terjadi sebelumnya di Duma (parlemen), demikian diumumkan pihak berwenang pada Senin (21/9).

Ketua komisi pemilihan, Ella Pamfilova, mengatakan hasil sementara menunjukkan Partai Russia Bersatu yang telah mendominasi politik Russia selama 25 tahun, memenangkan 355 dari 450 kursi di Duma.

Ket. Foto: Anggota komisi pemilu lokal sedang memulai penghitungan surat suara bagi pemilu parlemen Russia di Kota Donetsk, wilayah Ukraina yang dikuasai Russia, pada Minggu (20/9). Ketua Komisi Pemilu Russia pada Senin (21/9) menyatakan Partai Russia Bersatu pimpinan Vladimir Putin memenangkan mayoritas mutlak dalam pemilu tersebut. — Sumber: AFP

Hasil tersebut memberikan partai Putin mayoritas super yang lebih besar dan melampaui rekor sebelumnya yaitu 343 kursi. Mayoritas super ini berarti mereka dapat mengubah konstitusi, jika diperlukan.

Kremlin mengatakan hasil pemilihan parlemen pertama sejak Moskwa mengirim pasukan ke Ukraina pada 2022 menunjukkan bahwa rakyat Russia bersatu untuk tetap mendukung Putin yang telah berkuasa sejak malam Tahun Baru 1999.

Konflik Russia dengan Ukraina tercatat telah menewaskan ratusan ribu orang, menyebabkan jutaan orang mengungsi, dan menghantam kehidupan masyarakat biasa di Russia lebih dari sebelumnya tahun ini. Moskwa sebelumnya telah melarang kritik terhadap kampanye militernya dan satu-satunya partai yang menyerukan diakhirinya perang telah disingkirkan dari pemilihan umum.

"Indikator-indikator ini, tentu saja, menunjukkan tingkat konsolidasi tertinggi dalam masyarakat Russia terhadap kepala negara," kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, dalam sebuah pengarahan kepada para wartawan.

Pemilu di bawah pemerintahan Putin dikendalikan dengan ketat dan hanya sedikit orang di Russia yang meragukan kemenangan Partai Russia Bersatu.

Putin sendiri bahkan telah mendorong warga Russia untuk memberikan suara mendukung pasukan di Ukraina dan Moskwa juga menyelenggarakan pemungutan suara di Ukraina yang diduduki.

Pamfilova mengatakan tingkat partisipasi pemilih mencapai lebih dari 59 persen, dan berterima kasih kepada warga Russia karena telah memberikan suara meskipun ada apa yang disebutnya sebagai tekanan psikologis terhadap Russia.

Kampanye Russia di Ukraina telah memutuskan hubungan dengan Barat. Kyiv bahkan telah melancarkan serangan drone terbesar dalam perang ini pada Minggu (20/9) yang merupakan  hari terakhir pemungutan suara.

"Terlepas dari situasi yang ekstrem, kami berhasil memastikan keamanan maksimal pemilihan ini," kata Pamfilova dalam konferensi pers di Moskwa, seraya mengucapkan terima kasih kepada aparat keamanan karena telah memastikan pemungutan suara berjalan lancar.

Perkuat Cengkeraman

Hasil pemilu ini diperkirakan akan semakin memperkuat cengkeraman Putin pada kekuasaan. Pemilu tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan perang dengan Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, tanpa solusi diplomatik yang terlihat.

Sebagian pihak khawatir akan adanya mobilisasi militer baru di Russia. Putin membantah hal ini sedang direncanakan, sementara Kyiv menuduh Moskwa sedang merencanakan pengerahan militer dalam beberapa pekan mendatang.

Pada hari Minggu, Russia bersumpah untuk mengintensifkan serangannya terhadap Kyiv sebagai tanggapan atas serangan drone Ukraina terhadap Moskwa.

Ukraina pada Minggu mengerahkan ratusan drone untuk menyerang Moskwa dan wilayah sekitarnya hingga menewaskan dua orang dan membakar sebuah kilang minyak, kata para pejabat.

Kementerian Pertahanan Russia menuduh serangan drone Ukraina itu sebagai upaya untuk mengganggu kehendak demokratis warga Russia"dan berjanji akan membalasnya. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.